Hanya Doa

Hanya Doa

 


Kukenali sosok itu lewat sebuah mimpi

Berparaskan punggung tak berjati diri

Melambaikan harapan semu petanda kasih

 

Kutunaikan panggilan penasaranku lewat rakaat

Bersimbahkan wudhu beriringan niat

Menapaki langkah penasaran berasaskan hasrat

Berharap jawaban lewat petunjuk makrifat

 

Kucoba mengenali punggung itu lewat sebuah tekuran

Tekuran qanaah bernafaskan tasbih, tahmid, dan takbir

Meniti harapan dan tujuan

Sebuah jawaban

Lewat sebuah mimpi anugerah sang Illahi

 

Kusirami harapan dan tujuan itu dengan air mata penantian

Berharap tumbuh dan kembang mengundang kehadiran cinta

Sebuah jawaban atas kesabaran perjalanan kehidupan


Hanya doa yang mampu kulakukan untuk memenangkan mimpiku

Mimpi tentang dirimu berwajahkan punggung belaka

Semoga aku adalah apa yang kamu doakan pula dan biarkan Allah yang mengabulkan

Mencintaimu dalam doa adalah caraku bersyukur kepada-Nya

Makhluk Hina

Makhluk Hina

 

Hidup sebagai buruan seakan menjadi takdir yang sebenarnya ingin kutanyakan kepada Tuhan. Alasan penciptaan yang terkesan sia-sia seakan kusesalkan, mengingat keberadaanku yang tak pernah dianggap bermanfaat bagi semua orang. Ya, benci dan jijik selayaknya menjadi identitas khas yang melekat pada diriku. Jangankan orang, bahkan semua orang dan binatang pun seakan tak pernah menginginkan keberadaanku. Mereka selalu memburuku, bahkan membunuhku di mana pun aku berada.

Diskriminasi, rasis, marginalisasi, bahkan kriminalisasi menjadi perlakuan yang mereka anggap wajar terhadap diriku. Ujaran kebencian yang selanjutnya menuntun pada panggilan sarkasme menjadi nama akrab yang harus kuterima dengan sabar dan ikhlas. Tak ada hal baik, bahkan kebaikan sedikit pun yang mereka lihat dan rasakan dalam diriku. Semuanya seperti kebenaran yang benar-benar dibenarkan, sekalipun kebenaran yang sebenarnya itu rahasia Yang Mahabenar.

“Dasar perusak!” ujar sang petani.

“Keparat! Awas, Kau!” ketus pemilik toko sembako.

“Hitam menjijikan!” olok ibu rumah tangga.

“Bajingan sialan!” gerutu pegawai gudang.

“Akan ku bunuh kau, kerdil!” tutur pramusaji.

“Mau lari kemana kau, makhluk hina!” ucap pramukantor.

Dan sambatan-sambatan lainnya yang akrab dengan kesan kebencian dan menjijikkan.

Kadang, aku mengadu dalam doa kepada Tuhan, “Tuhan, keadilan seperti apa yang harus kupahami maknanya? Kenapa kau takdirkan aku untuk dibenci oleh semua makhkuk? Apakah aku sehina itu?” Aku hanya mampu menyikapinya dengan sisa-sisa kepasrahan yang apa adanya. Menerima konsep kehidupan yang telah dirancang Tuhan sebagai makhluk buruan yang akrab dengan maut.

Aku tak pernah menantang maut. Tetapi, mautlah yang selalu mengejarku dengan setiap pilihan langkahku yang memang erat menantang maut. Aku bekerja, maut mengawasiku. Aku makan, maut pun mengintaiku. Aku berjalan, maut selalu mengiringiku, bahkan aku tidur pun, maut juga siap mencengkeramku. Maut punya banyak cara untuk mengajakku pulang kembali. Siap merenggut nyawaku dengan racun yang ada pada makananku, dengan pentungan yang setiap saat siap mengeplak kepalaku, bahkan dengan jebakan kurungan yang siap kapan pun menjeratku. Aku benar-benar akrab dengan maut. Kapan pun dan di mana pun aku berada.

Aku menyaksikan banyak siksaan pada kaumku, kawan-kawanku, adikku, istriku, dan anak-anakku. Aku menyaksikannya langsung bagaimana mereka merintih maaf kepada maut. Kaumku di bakar hidup-hidup di lumbung padi. Kawan-kawanku mati massal diracun makanannya kala nongkrong bersama di teras rumah. Adikku tewas di tong sampah disiram amoniak hingga tubuhnya melepuh. Istriku terperangkap dalam kurungan kala mengais rezeki untuk anak-anakku. Anak-anakku disiksa dengan dikepruk kepalanya hingga penyek kala mereka sedang bermain, dan semua tragedi buruk lainnya yang menertawakanku bahwa inilah nasib yang harus kuterima sebagai bagian dari takdir yang dipilihkan Tuhan untukku sebagai makhkuk ciptaannya.

Kini, aku hanya bisa menjalani hidup ini bermodal sabar dan ikhlas belaka. Jangan lupa pula, maut tetap tak pernah luput membayangi setiap langkahku, termasuk kala sedang berjalan santai menyusuri halaman rumah sembari melamun dan meratapi tragedi-tragedi yang telah terjadi pada keluargaku dan kaumku. Tiba-tiba, “Gubraaakkkkk!” Suara sapu yang mengayun kencang hampir mengakhiri hidupku. Beruntung, ayunan pukulan sapu itu hanya mengenai sebagian tubuhku sehingga tidak membuatku terkapar.

Lamunan yang sebelumnya menghujani pikiranku, seketika tergantikan dengan perasaan ketakutan yang mencekam. Aku berlari sekencang mungkin hingga bersembunyi di  dalam tong sampah. Lelaki berperawakan gempal tersebut belum berhenti mengejarku. Ia sempat melirikku sejenak memperhatikan diriku yang bersembunyi di dalam tong. Ia menutup tong sampah tersebut seraya menyiramkan amoniak ke seisi tong sampah tersebut. Aku berusaha menghindari siraman amonik tersebut, namun nyatanya aku gagal karena terhimpit dengan sesaknya tumpukkan sampah.

Kuberanikan diri untuk keluar dari tong sampah tersebut demi keselamatan diri yang kian terancam. Kusundul tutup sampah itu dengan keras hingga membuat kepalaku terluka. Akhirnya, tutup sampah itu terpental dan aku pun berhasil keluar. Tetapi aku belum benar-benar keluar dari masalah. Lelaki tersebut terus mengejarku, memukulkan tongkatnya yang panjang dengan keras ke tubuhku. Beberapa pukulannya pun menghantam tubuhku hingga membuat beberapa tulangku keseleo. Tapi, aku tetap terus berlari dan berlari, menyelamatkan diri dan berusaha mencari tempat untuk sembunyi.

Selokan menjadi penyelamatku. Kala aku dikejar-kejar oleh lelaki itu, aku melihat jalan keluar di depanku. Seketika kuarahkan haluanku, masuk dengan melompat terjun bebas seraya terguling-guling, aku masuk ke dalam selokan. Bersembunyi di dalamnya sembari mengasingkan diri dari jamahan lelaki tersebut. Aku benar-benar ketakutan bahkan sangat ketakutan bahwa tragedi tersebut akan menjadi akhir kisahku. Kisah nasib makhluk hina yang hanya menjadi buruan dan dikenal buruk oleh makhluk lain.

Pascatragedi tersebut, sekarang aku hanya bisa menikmati hidup secara sembunyi-sembunyi dan hati-hati, sembari menikmati sisa luka yang menyayatku. Kulit yang melepuh karena siraman amonik, tulang yang keseleo karena pukulan tongkat, dan kepala yang berdarah karena sundulan nekatku, semuanya kunikmati dengan syukur. Syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan, yang setidaknya masih lebih baik daripada kisah lain yang tidak lebih baik dari kisah-kisah kaumku dan juga keluargaku.

Himne Romantika

Himne Romantika


Termangu dalam khayalan

Hasrat merandau dalam bimbang tak berasas                         

Memanggil elegi dengan paksa

Bersambatkan kesesatan harapan yang tak bertuan

 

Prolog balada mulai tereja

Berskenariokan romantika kita bertiga

Berlakonkan dialog mesra protagonis dan tritagonis

Lewat lakonisme pada syahdu sebuah himne

 

Kumainkan protagonisku sebagai kramagung bukti cintaku

Dalam agungan swanama dalam syair ode

Kuadukan rindu rupamu pada sebuah tekuran

Pada munajat di kala sang malam terlelap

 

Kini, kunantikan keputusanmu pada sabda mimpiku

Dalam aksara angan yang terkirim lewat bangunku

Berharap gugur sudah bayang skeptisme ini

Bersemikan harapan bermekarkan indah sebuah kenyataan

Tamparan Harapan

Tamparan Harapan

 

“Kenapa nilai kamu hanya dapat tujuh saja? seharusnya, kamu bisa lebih baik dari ini, Kak,” celetuk sang ayah kepada anaknya dengan kecewa setelah menerima rapor.

Sang ayah tampak murung menerima kenyataan yang menertawakannya. Bukan tanpa alasan, melainkan sang ayah benar-benar menaruh harapan tinggi kepada putra tunggalnya tersebut. Melangitkan harapan untuk dapat mengantarkan sang anak ke perguruan negeri ternama guna memupuk asa menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya. Fakta pahit justru menghinanya, Rangga malah menyuguhkan kekecewaan yang tak diharapkan ayahnya dalam menjawab asa yang membumbung tinggi tersebut.

“Jika Kakak seperti ini terus, lantas mau jadi apa Kakak nanti. Apa Kakak mau jadi seperti tukang becak itu? yang tidak berpendidikan, tidak pintar, tidak bermoral, dan tidak memiliki masa depan,” olok sang ayah seraya melemparkan pandangannya kepada tukang becak yang ada di seberang jalan tersebut.

Keduanya lantas menaiki mobil untuk bergegas pulang. Namun, belum sampai menyusuri ujung jalan, mobil tersebut justru mogok tanpa sebab yang pasti. Sang ayah mencoba mengecek kap mobil bermodal insting. Segerombolan kabel dan mesin yang berjajar serta bertumpuk, cukup membuat insting sang ayah semrawut terhadap apa yang harus dilakukannya. Maklum, sang ayah bukanlah ahli mesin, ia benar-benar buta masalah mesin. Rangga yang juga tidak tahu-menahu masalah permesinan hanya bisa terpaku meratapi nasib di bawah bayang-bayang terik matahari.

“Kenapa dengan mobilnya, Pak?” sapa tukang becak tadi yang kebetulan sedang lewat untuk mencari penumpang.

Sang ayah terlihat kaget, kemudian hanya memasang wajah lesu meratapi mobilnya yang mogok tersebut. Ia seakan tidak percaya dengan kehadiran si tukang becak secara tiba-tiba yang tadinya jadi bahan olokan untuk Rangga.

“Entahlah … tiba-tiba saja mogok. Saya juga tidak tahu,” ujar ayah dengan memelas.

“Barangkali bisa saya bantu cek ya, Pak, semoga saja saya bisa bantu,” jawab tukang becak dengan logat yang khas.

Sang ayah hanya mengiyakan bantuan tukang becak tersebut dengan raut muka seakan meragukan. Logikanya pun berbisik bahwa tukang becak tersebut hanya ingin mencari muka saja. Berani menantang ketidakmungkinan.

“Bisa dicek starter, Pak. Semoga saja bisa,” ungkap tukang becak dengan lembut.

Bagai petir di siang bolong, mobil tersebut seketika menyala.

“Bagaimana mungkin?” tanya ayah kepada tukang becak.

“Anggap saja ini hanya sebuah kebetulan saja, Pak. Alhamdulillah!” jawab tukang becak dengan lembut.

Kebetulan tersebut seakan memutarbalikkan ketidakmungkinan dalam logika ayah menjadi sebuah kemungkinan yang nyata. Tukang becak tersebut seakan menyindir ayah tentang perihal segala kemungkinan adalah hal yang mungkin. Wajah sang ayah pun seketika tertampar kenyataan melihat unjuk bakat yang disuguhkan tukang becak tersebut. Kenyataan merobohkan anggapannya terhadap kebodohan dan hal buruk lainnya yang selalu identik dengan pekerjaan seseorang. Rangga yang melihat ekspresi sang ayah yang memerah itu menyambutnya dengan senyum tipis seraya bergumam dalam hati bahwa ayahnya telah kalah telak. Parahnya lagi, tukang becak tersebut membuktikan kemampuan kebetulannya dan kerendahan hatinya dengan menghargai terima kasih dari sang ayah dengan meninggalkan sang ayah dan Rangga seketika.

“Ayah … sepertinya ucapan ayah benar. Dia benar-benar orang yang buruk, bahkan memperlakukan ayah dengan sangat buruk,” sindir Rangga kepada ayahnya. Sang ayah hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya.

Tangisan vs Lamunan

Tangisan vs Lamunan

 

Tumbuh dewasa memanglah membingungkan. Menghabiskan banyak waktu hanya demi bermain-main dengan logika. Bukan merayakan kebebasan hidup yang tanpa arah, melainkan menemukan sebuah alasan untuk tujuan hidup yang terkadang sulit untuk dipahami. Aku benar-benar babak belur dihajar kenyataan. Kenyataan yang berusaha kujalani dengan sabar dan kunikmati dengan tabah.

“Tolong jangan pergi, Kak!” ucap rintihan sang adik kepada kakaknya yang hendak untuk mengadu nasib ke kota. Tangisan tersebut terasa begitu sempurna membuat ragu hati untuk membatalkan kepergian manakala dihiasi dengan wajah mewek yang diselipkan ibu dalam upayanya menyembunyikan kesedihannya. Kubangun rasa yakinku berbekal lamunan setiap malam ayah yang bingung dalam menyambung hidup hari esok. Teriakan perut lapar yang lesu untuk diganjal, sindiran salam sapa tagihan tunggakan SPP sekolah yang berkirim surat, hingga cacian bayar utang yang merongrong sembari menggedor pintu rumah setiap hari. Alasan itulah yang merobohkan keraguan atas tangisan adik dan ibu demi memilih berpihak pada perjuangan lamunan ayah.

Kelanaku menjawab kebenaran pilihanku. Kebenaran mencari tahu makna dari tangisan versus lamunan. Aku sadar bahwa jawabannya hanya ada pada langkah pilihanku. Pembuktian tindakan terhadap permainan logikaku. Bekarya mengais pundi-pundi harapan. Tidak cukup banyak tetapi cukup banyak membuatku banyak-banyak merasa cukup. Setidaknya kini aku mampu membuat keluargaku hidup. Sekalipun tak mampu mengantarkan pada kehidupan yang senang dan tenang, namun mampu mengakali tangisan dan lamunan keluargaku untuk mencoba mengenal sedikit tentang senyuman. Aku hanya mampu memungut hikmahnya sembari menikmati pembagian takdir dari Tuhan ini.

Bak Lato-Lato

Bak Lato-Lato

Reza begitu ahli memainkan lato-latonya, bahkan sambil mengobrol dan tertawa dengan kawannya pun, ia masih bisa memainkan permainan dua bola plastik tersebut dengan terampil. Ia bak dewa lato-lato yang mampu membagi konsentrasinya dalam memainkan permainan tersebut, sekali pun harus memainkan peran gandanya untuk tidak terlihat tidak menghiraukan atau cenderung mengelabui pikiran kawan-kawannya.

“Sekarang aku tahu kalau kau sebenarnya menusukku dari belakang,” ujar Zainul kepada Miftah dengan wajah memerah sembari melayangkan telunjuk jarinya ke wajah sahabatnya itu.

“Apa yang kau bicarakan, Zai? Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau maksud?” dengan terheran-heran Miftah bertanya seraya meraih pundak Zainul.

Zainul pun menepis tangan Miftah yang hendak meraih pundaknya. Lelaki berambut cepak tersebut terlihat begitu kecewa dengan sikap sahabatnya sendiri yang tak pernah ia yakini sebelumnya. Zainul merasa bahwa sahabatnya tersebut telah mengkhianatinya. Menusuknya dari belakang hanya demi sebuah gengsi kedudukan di komunitas tempat mereka bernaung. Sedangkan, Reza yang tahu persis kejadian tersebut tepat di pelupuk matanya bahkan dalam hatinya menyambutnya dengan senyum tipis sembari terus membenturkan dua bola plastik lato-latonya dengan santai. Reza benar-benar memainkan ritme lato-latonya dengan baik.

Perselisihan tersebut mengundang sikap marah Pak Viky selaku pembina komunitas atas salah satu kadernya yang digadang-gadang menjadi kandidat terkuat calon ketua umum terpilih pada pemilihan ketua umum komunitas periode tahun ini. Pak Viky pun mengambil sikap tegas dengan berat hati mendepak Zainul dari keanggotaan komunitasnya karena dianggap melanggar peraturan komunitas, yakni, berpacaran. Ya, pacaran menjadi salah satu hal yang dilarang keras oleh komunitas tersebut. Bukan tanpa alasan, alasannya cukup jelas, yaitu, demi menjaga komitmen berorganisasi.

Mengetahui didepaknya Zainul dari keanggotaan komunitas, kian membuat Reza yang juga menjadi bagian dari komunitas tersebut semakin percaya diri menatap pemilihan ketua umum periode tahun ini. Reza menikmati semua drama tersebut seraya memainkan lato-latonya. Ia benar-benar menikmati permainan lato-latonya yang kian hari kian terampil. Tak ada yang selihai Reza dalam bermain lato-lato, khususnya di komunitasnya, bahkan mungkin tak ada yang bisa memainkannya karena memang Reza juga tidak pernah menjumpai kawannya bermain lato selain dirinya.

Kini, tak ada lagi lawan berat yang menghadang langkah Reza untuk menatap optimis pemilihan ketua umum dalam waktu dekat ini. Ia hanya perlu bersaing dengan Andre. Remaja bermuka datar yang dianggapnya cupu. Mungkin ia tidak akan jadi batu sandungan untuknya. Pasalnya, ia memang tidak difavoritkan dalam pemilihan tersebut. Ia memang dikenal pintar, hanya saja sikapnya yang dingin memaksanya cenderung dilabeli cupu oleh kawan-kawan komunitasnya.

Waktu terus berlari menuju garis finis dimulainya acara pemilihan. Kini, yang tersisa hanya dua pekan lagi. Reza menikmati hari-harinya sepulang dari kegiatan komunitasnya dengan nongkrong bersama kawan-kawan sepermainannya. Bukan teman komunitasnya, melainkan teman nongkrong. Di tengah-tengah nongkrong tersebut, ia tak lupa terus memainkan latonya dengan gelak tawa yang mewarnai kala mereka bercanda bersama. Seruput kopi dan isapan rokok tak ayal juga melengkapi canda tawa mereka. Canda tawa Reza yang dengan percaya diri yakin akan memenangkan pemilihan tersebut. Semuanya berjalan seindah naskah yang telah diskenariokan. Tak ada cacat dan tak ada kesalahan.

Keesokan hari sepulang sekolah, seperti biasanya Reza bermarkas ke ruang komunitasnya. Sembari berjalan menuju ruangan tersebut, Reza tak lupa memainkan lato-latonya dengan lihai. Ia berjalan dengan santai dengan ditemani ketukan seirama lato-latonya. Tak ada kekhawatiran sebelum akhirnya dia mulai membuka pintu ruangan.

“Prakkk ...” suara bola lato-lato Reza yang terlepas dan mengenai kepalanya.

Tali lato-latonya tiba-tiba terputus dan bola lato-latonya pun menghantam kepala Reza. Tak disangka dan tak diduga. Saat Reza merasa nyaman memainkan lato-latonya, bahkan dia mampu menjaga ritme ketukan lato-latonya dengan lihai, di luar ekspektasinya, lato-latonya justru beradu banteng dengan dirinya. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa beradu kepala dengan lato-latonya sendiri. Pikiran Reza pun semakin runyam saat ia membuka pintu ruangan tersebut dan mendapati sambutan pelotot mata memerah dari kawan-kawan komunitasnya. Semua pandangan jengkel kawan-kawan komunitasnya pun beralamat ke wajah Reza. Penuh amarah mengundang sontakan hinaan.

Tidak ada perbedaan, semuanya sama persis. Sama persis seperti apa yang terjadi dengan Zainul kala itu. Semuanya terasa de javu. Pengulangan moment pahit awal dimulainya petaka tersebut. Kawan-kawan komunitasnya benar-benar marah kepada Reza. Khususnya, Pak Viky yang tidak habis pikir dengan kelakuan Reza yang mengecewakannya. Kawan-kawannya kini tahu kalau Reza ternyata merokok di luar sepengetahuan kawan-kawan komunitasnya itu. Salah satu pelanggaran peraturan berat yang tidak dapat ditoleransi sebagai anggota komunitas. Ya, merokok menjadi larangan yang tidak dihalalkan dalam berorganisasi di komunitas tersebut dan Reza kini ketahuan telah melanggarnya. Itulah alasan kawan-kawannya menumpahkan amarahnya kepada Reza yang notabene menjadi kandidat terkuat sepeninggal mundurnya Zainul dari kandidat pemilihan.

Gundah, resah, semua campur aduk jadi satu menghujani pikir Reza. Pikirannya pun berkalut kebingungan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bagaimana mungkin semuanya terjadi di luar dari skenario yang telah ia rancang serapi mungkin. Bagaimana bisa mereka mengetahuinya? Jawaban akan hal itu sontak mengemuka kala Andre keluar dari kerumunan kawan-kawan komunitasnya sembari bermain lato-lato dengan berhiaskan senyuman tipis. Andre memainkan lato-latonya dengan lihai, terlihat lebih lihai dan penuh ritme daripada permainan Reza. Berkalut wajah datar tanpa ekspresi dengan sesekali menyembunyikan senyum tipisnya, Andre menunjukkan dirinya bahwa ia adalah pemain lato-lato yang tak kalah lihai dibandingkan dirinya. Tampak ia mengetukkan lato-latonya penuh irama, bahkan tanpa memperhatikan lato-latonya, Andre mampu menjaga keseimbangan ketukan lato-latonya. Hal yang benar-benar tak pernah dibayangkan Reza sebelumnya.

Reza melihat wajah dirinya dengan Miftah dalam wujud lato-lato yang dimainkan Andre. Bagaimana mungkin? Ya, Andre mengajak Miftah untuk nongkrong bersama dengan alasan merayakan ulang tahunnya di tempat Reza nongkrong. Andre membiarkan Miftah melihat kebenaran dan mengarahkan Miftah untuk memainkan peran dengan sendirinya tanpa ia suruh. Miftah merekam semuanya dengan indah dan melaporkan hal tersebut kepada Pak Viky dan kawan-kawan komunitas lainnya. Sedangkan Andre, seperti biasanya, ia memainkan perannya bermodalkan wajah datar layaknya anak cupu. Ia menjaga betul sematan anggapan kawan-kawannya yang dikenal sebagai anak yang pendiam.

Kini, Reza tahu siapa pecundangnya dan siapa pemenangnya. Andre benar-benar memecatnya dari komunitasnya. Bukan memecatnya secara langsung, tapi membuat komunitasnya memecat Reza tanpa berbicara. Semuanya hanya perlu dilakukan dengan menjaga keseimbangan lato-lato yang dimainkannya. Ketukan lato-lato yang penuh ritme dan penuh irama. Cukup lihai dan cukup terampil sebagai pemenang permainan adu lato-lato antara keduanya.

Putaran Roda

Putaran Roda

 

“Anda dipecat!” seru manager kepada Pak Ridwan sembari tersenyum tipis.

Tak ada yang dapat dilakukan Pak Ridwan selain menerima kenyataan dan berusaha membendung air matanya agar tidak jatuh dan terlihat lemah di hadapan manager yang semena-mena tersebut. Ridwan masuk dalam jurang perangkap politik managernya sekaligus menjadi tumbal atas cuci tangan pimpinannya tersebut yang bobroknya hampir terungkap oleh sang owner. Pak Ridwan dituduh memanipulasi laporan keuangan perusahaan usai dilakukan audit oleh sang owner. Ia harus rela menerima kejatuhan sampur atas alibi yang dilakukan pimpinannya guna mengamankan dirinya dari jurang pemecatan sang owner. Tak ada yang dapat dilakukannya sekalipun melakukan pembelaan, kenyataannya ia seakan-akan dipojokkan kebenaran dan terlihat benar-benar bersalah atas kebenaran yang dialibikan pimpinannya tersebut.

***

Tak ada pilihan terbaik yang dapat dilakukan Pak Ridwan terhadap keluarganya selain berbohong. Hal itu adalah pilihan terbaik di antara yang terburuk dalam menyikapi permasalahan yang merundungnya. Lelaki berambut cepak tersebut terpaksa memainkan perannya sebagai suami pada umumnya yang selalu berangkat pagi untuk bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya. Padahal, kenyataannya ia tersesat dalam tujuan yang tidak ia pahami adanya. Persawahan, tepi sungai, taman, dan tempat-tempat yang selama ini jauh dari kesan akrab baginya, kini menjadi rumah kedua untuk berpikir sembari mencari solusi atas nasib yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

Ia benar-benar menyusuri setiap langkah pikirnya dalam mencari solusi sembari terkulai santai di atas motornya. Ratusan kontak telepon juga ia telusuri guna mencari informasi untuk sesegera mungkin dapat mengakhiri peran palsu yang sebenarnya tak ingin ia mainkan tersebut. Tak ada yang dapat ia lakukan selain melakukan apa yang dapat ia lakukan saat ini. Pilihan terbaik yang dapat ia lakukan adalah berusaha meyakinkan diri dengan makna tidak semua hari berjalan dengan baik, tetapi selalu ada hal baik di setiap harinya.

***

“Bagaimana kabarmu, Kawan?” tanya Doni kepada Ridwan saat bertamu ke rumah Ridwan.

Doni datang ke rumah Ridwan untuk mengantarkan undangan pernikahannya. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan kawan lamanya tersebut, Ridwan pun membuka diri untuk menceritakan keluh kesahnya kepada eks mitra kerjanya tersebut. Doni pun yang dulunya mengundurkan diri dari tempat kerja Ridwan dipecat tersebut karena alasan prinsip hidup menasihatinya bahwa semuanya adalah rezeki yang patut untuk Ridwan syukuri.

“Mengapa?” tanya Ridwan dengan heran sembari mengernyitkan keningnya.

“Dahulu, aku sempat mencari tahu arti dari rezeki setiap manusia telah ditentukan Allah. Akhirnya, aku tersadar bahwa jawabannya adalah hanya ada pada orang yang bersyukur. Rezeki adalah tentang seberapa banyak nikmat yang telah kita terima dan seharusnya patut untuk kita syukuri. Badan yang sehat, keluarga yang harmonis, kawan yang baik, dan tentunya dijauhkan dari hal buruk adalah sebagian contoh kecil dari pengingat atas nikmat yang mungkin tidak orang lain miliki.”

“Tapi, Don, aku masih benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Semuanya di luar dugaanku,” bantah Ridwan dengan agak jengkel.

“Pak Rudi membuat rencana untuk menjatuhkanmu dan Allah pun membuat rencana pula terhadap dirimu. Yakinlah, Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Beban hidupmu yang sekarang ini, barangkali menjadi penyelamat dari kehidupanmu. Bisa jadi, saat kamu berada di masa kemunduran seperti sekarang ini, mungkin Allah sedang bersiap untuk melemparmu lebih jauh ke arah kesuksesan,” jawab Doni dengan bijak.

Doni berusaha mengembalikan gairah hidup Ridwan yang tenggelam ke dalam dasar keterpurukan. Keterpurukan yang membuatnya gundah dalam memainkan perannya dengan baik sebagai ujung tombak keluarga yang berusaha memenuhi tanggung jawabnya. Ia berusaha membiasakan diri dari terbang di atas langit menjadi merangkak di atas tanah.

“Bila air yang sedikit saja dapat menyelamatkanmu dari rasa haus, lantas untuk apa kamu meminta air yang lebih banyak. Bisa jadi hal tersebut barangkali dapat membuatmu tenggelam. Yakinlah kawan, cukup dengan memahami kata ‘cukup’ untuk selalu belajar tentang apa yang harus kamu syukuri,” tambah Doni.

Setelah itu, Doni pun memberikan informasi lowongan pekerjaan kepada Ridwan. Kebetulan, salah satu perusahaan temannya sedang membutuhkan auditor keuangan. Doni pun menghubungi temannya tersebut dan merekomendasikan Ridwan untuk bisa bekerja di perusahaaan tersebut.

***

“Bagaimana kabarmu, Kawan?” tanya Ridwan kepada Doni saat bertamu ke rumah Doni.

Setelah enam bulan tak bertemu, mereka berdua bertemu kembali. Ridwan datang bertamu ke rumah Doni untuk menyampaikan terima kasih atas bantuannya dalam merekomendasikan pekerjaan untuknya. Ridwan merasa bersyukur dengan pekerjaannya yang sekarang. Pekerjaan yang menuntunnya pada kenyamanan yang sebelumnya tak ia dapatkan. Ia benar-benar bersyukur atas rasa pahit yang pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa pahit yang mengajarkannya bahwa yang pahit tak selalu buruk. Selalu ada kenikmatan dibalik sebuah rasa, tanpa terkecuali rasa pahit.

“Tahukah kamu, Don, aku mendengar kabar dari seorang kawan kalau perusahaan tempat kita bekerja sebelumnya, kini terancam pailit,” ujar Ridwan dengan sedikit mengelus dada.

“Kini kau telah mengerti alasanku atas kebimbangan makna pertanyaan bahwa rezeki setiap manusia telah ditentukan Allah. Allah tidak selalu mengirim orang baik untuk menolong kita. Adakalanya, Allah mengirimkan orang yang menjengkelkan untuk menyelamatkan kita,” jawab Doni seraya tersenyum tipis.

“Aku hanya merasa kasihan saja dengan Pak Rudi, Don, kini dia harus menerima nasib dipecat dari perusahaan atas tindakannya yang salah tersebut,” ucap Ridwan dengan bersedih.

“Allah telah menyelamatkan hidupmu, Wan, dan kamu patut bersyukur akan hal itu. Seburuk apapun keadaanmu, jangan pernah meratapinya. Kita semua sama, hanya saja berbeda jadwal putaran roda. Pak Rudi kini telah mendapatkan jadwal putaran rodanya,” jawab Doni sembari menepuk pundak kawannya tersebut.