Makhluk Hina

 

Hidup sebagai buruan seakan menjadi takdir yang sebenarnya ingin kutanyakan kepada Tuhan. Alasan penciptaan yang terkesan sia-sia seakan kusesalkan, mengingat keberadaanku yang tak pernah dianggap bermanfaat bagi semua orang. Ya, benci dan jijik selayaknya menjadi identitas khas yang melekat pada diriku. Jangankan orang, bahkan semua orang dan binatang pun seakan tak pernah menginginkan keberadaanku. Mereka selalu memburuku, bahkan membunuhku di mana pun aku berada.

Diskriminasi, rasis, marginalisasi, bahkan kriminalisasi menjadi perlakuan yang mereka anggap wajar terhadap diriku. Ujaran kebencian yang selanjutnya menuntun pada panggilan sarkasme menjadi nama akrab yang harus kuterima dengan sabar dan ikhlas. Tak ada hal baik, bahkan kebaikan sedikit pun yang mereka lihat dan rasakan dalam diriku. Semuanya seperti kebenaran yang benar-benar dibenarkan, sekalipun kebenaran yang sebenarnya itu rahasia Yang Mahabenar.

“Dasar perusak!” ujar sang petani.

“Keparat! Awas, Kau!” ketus pemilik toko sembako.

“Hitam menjijikan!” olok ibu rumah tangga.

“Bajingan sialan!” gerutu pegawai gudang.

“Akan ku bunuh kau, kerdil!” tutur pramusaji.

“Mau lari kemana kau, makhluk hina!” ucap pramukantor.

Dan sambatan-sambatan lainnya yang akrab dengan kesan kebencian dan menjijikkan.

Kadang, aku mengadu dalam doa kepada Tuhan, “Tuhan, keadilan seperti apa yang harus kupahami maknanya? Kenapa kau takdirkan aku untuk dibenci oleh semua makhkuk? Apakah aku sehina itu?” Aku hanya mampu menyikapinya dengan sisa-sisa kepasrahan yang apa adanya. Menerima konsep kehidupan yang telah dirancang Tuhan sebagai makhluk buruan yang akrab dengan maut.

Aku tak pernah menantang maut. Tetapi, mautlah yang selalu mengejarku dengan setiap pilihan langkahku yang memang erat menantang maut. Aku bekerja, maut mengawasiku. Aku makan, maut pun mengintaiku. Aku berjalan, maut selalu mengiringiku, bahkan aku tidur pun, maut juga siap mencengkeramku. Maut punya banyak cara untuk mengajakku pulang kembali. Siap merenggut nyawaku dengan racun yang ada pada makananku, dengan pentungan yang setiap saat siap mengeplak kepalaku, bahkan dengan jebakan kurungan yang siap kapan pun menjeratku. Aku benar-benar akrab dengan maut. Kapan pun dan di mana pun aku berada.

Aku menyaksikan banyak siksaan pada kaumku, kawan-kawanku, adikku, istriku, dan anak-anakku. Aku menyaksikannya langsung bagaimana mereka merintih maaf kepada maut. Kaumku di bakar hidup-hidup di lumbung padi. Kawan-kawanku mati massal diracun makanannya kala nongkrong bersama di teras rumah. Adikku tewas di tong sampah disiram amoniak hingga tubuhnya melepuh. Istriku terperangkap dalam kurungan kala mengais rezeki untuk anak-anakku. Anak-anakku disiksa dengan dikepruk kepalanya hingga penyek kala mereka sedang bermain, dan semua tragedi buruk lainnya yang menertawakanku bahwa inilah nasib yang harus kuterima sebagai bagian dari takdir yang dipilihkan Tuhan untukku sebagai makhkuk ciptaannya.

Kini, aku hanya bisa menjalani hidup ini bermodal sabar dan ikhlas belaka. Jangan lupa pula, maut tetap tak pernah luput membayangi setiap langkahku, termasuk kala sedang berjalan santai menyusuri halaman rumah sembari melamun dan meratapi tragedi-tragedi yang telah terjadi pada keluargaku dan kaumku. Tiba-tiba, “Gubraaakkkkk!” Suara sapu yang mengayun kencang hampir mengakhiri hidupku. Beruntung, ayunan pukulan sapu itu hanya mengenai sebagian tubuhku sehingga tidak membuatku terkapar.

Lamunan yang sebelumnya menghujani pikiranku, seketika tergantikan dengan perasaan ketakutan yang mencekam. Aku berlari sekencang mungkin hingga bersembunyi di  dalam tong sampah. Lelaki berperawakan gempal tersebut belum berhenti mengejarku. Ia sempat melirikku sejenak memperhatikan diriku yang bersembunyi di dalam tong. Ia menutup tong sampah tersebut seraya menyiramkan amoniak ke seisi tong sampah tersebut. Aku berusaha menghindari siraman amonik tersebut, namun nyatanya aku gagal karena terhimpit dengan sesaknya tumpukkan sampah.

Kuberanikan diri untuk keluar dari tong sampah tersebut demi keselamatan diri yang kian terancam. Kusundul tutup sampah itu dengan keras hingga membuat kepalaku terluka. Akhirnya, tutup sampah itu terpental dan aku pun berhasil keluar. Tetapi aku belum benar-benar keluar dari masalah. Lelaki tersebut terus mengejarku, memukulkan tongkatnya yang panjang dengan keras ke tubuhku. Beberapa pukulannya pun menghantam tubuhku hingga membuat beberapa tulangku keseleo. Tapi, aku tetap terus berlari dan berlari, menyelamatkan diri dan berusaha mencari tempat untuk sembunyi.

Selokan menjadi penyelamatku. Kala aku dikejar-kejar oleh lelaki itu, aku melihat jalan keluar di depanku. Seketika kuarahkan haluanku, masuk dengan melompat terjun bebas seraya terguling-guling, aku masuk ke dalam selokan. Bersembunyi di dalamnya sembari mengasingkan diri dari jamahan lelaki tersebut. Aku benar-benar ketakutan bahkan sangat ketakutan bahwa tragedi tersebut akan menjadi akhir kisahku. Kisah nasib makhluk hina yang hanya menjadi buruan dan dikenal buruk oleh makhluk lain.

Pascatragedi tersebut, sekarang aku hanya bisa menikmati hidup secara sembunyi-sembunyi dan hati-hati, sembari menikmati sisa luka yang menyayatku. Kulit yang melepuh karena siraman amonik, tulang yang keseleo karena pukulan tongkat, dan kepala yang berdarah karena sundulan nekatku, semuanya kunikmati dengan syukur. Syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan, yang setidaknya masih lebih baik daripada kisah lain yang tidak lebih baik dari kisah-kisah kaumku dan juga keluargaku.