500

500 … Lebih dari sekadar numeralia atau pun matematika. Siapa yang mulai menghitung? Aku. Aku hanya bisa berhitung sembari terus berhitung hingga jemari ini kehabisan akal untuk terus menghitungnya.

Saat itu … aku memulai semuanya. Aku masih duduk manis dalam anganku. Dudukan manis yang tadinya ku agungkan dan hingga sampai saat ini masih terus ku agungkan, tak ayal hanyalah tekuran bisu yang berhujankan tanda tanya. Entah, bagaimana aku memaknai ini. Satu hal pasti adalah aku masih sibuk dengan angka-angkaku.

Satu …, dua …, tiga …, dan seterusnya. Aku masih terus berhitung. Mungkin baginya, aku terlalu sibuk dengan tautologiku yang membosankan ini. Ungkapan yang selalu ia dengarkan, tentang ini dan itu. Yang membosankan. Bukankah aku selalu hadir untuk membuatnya menjadi bosan dengan angka-angkaku? Atau mungkin, aku terlalu kebingungan dengan hitunganku? Bahkan, aku terlalu sadis untuk menyiksa hati ini untuk terus berhitung. Padahal, aku terlalu lelah untuk memahami tujuanku untuk terus berhitung.

Terkadang, aku terlalu angkuh untuk mengakui semua ini, apalagi untuk bisa menyentuh keangkuhan itu. Kenapa aku dengan kebodohan ini masih saja ingin terus berhitung? Banyak hal yang tak dapat ku urai untuk alasan yang takkan pernah terpahami. Tetapi, aku punya alasan mengapa cerita ini masih terus ku tulis lewat segerombolan kata yang mungkin tiada arti baginya. Jawaban itu adalah tentang pertanyaan yang takkan pernah ia tanyakan padaku. Mengapa? Karena aku tahu sedikit jawabannya. Mungkin tidak lebih baik daripada jawaban dari sebuah kenyataan yang seharusnya ku akui bahwa itu adalah benar, ”Inilah jawabannya.” Kenyataan yang selalu menertawakanku dengan kebenarannya. Kenyataan tentang kebenaran. Aku tak punya hak menjadi benar, tetapi aku mungkin benar, ”Hanya sang Illahi-lah yang Mahabenar dan hanya Dia-lah yang tahu kebenaran sesungguhnya.”

Sesungguhnya aku tak pernah ingin lebih mencintai elegi ini. Elegi yang selalu akrab dengan ceritaku yang membosankan. Begitu pula cerita ini. Kini, kata sandang itu telah menjadi pesonaku yang eksis di mata semua orang memandangku. Semua orang menganggap, akulah pemenangnya dan aku pun tak bisa menolaknya bahwa semua orang telah setuju untuk menyematkan penghargaan itu kepadaku. Entah, bagaimana caranya kehidupan ini memuliakanku lewat penghargaan itu yang mungkin ia tak pernah peduli dengan hal itu.

Kerendahan hati yang mana yang seharusnya ku persembahan untuk alasan ini? Alasan meraih kedamaian hati yang justru harus ku bayar dengan kebangkrutan waktu. Aku selalu berpikir untuk menarik kembali waktuku. Waktu yang telah ku pertaruhkan kepada kepedihan yang dengan rakusnya menggerogoti jiwaku ini. Tetapi, hal itu mungkin akan membuatku semakin bodoh untuk memahami arti sebuah kata penyesalan. Aku bangga dengan apa yang ku jalani dan apa yang telah ku tulis ini. Semua ini … ku tulis tanpa rasa penyesalan sedikit pun. Kesungguhan yang harus kulakukan adalah sesungguhnya aku persembahkan ini untuknya. Aku salah telah mengaku telah memahaminya, padahal kenyataannya aku gagal memahami diriku sendiri, bahkan lebih jauh memahami arti cinta. Arti cinta yang sebenarnya tak mengenal kata penyesalan untuk berpikir tentang kebahagiaan. Aku berpikir bahwa kesedihan ini lebih baik daripada saat ini karena kejujuran yang harus kau ketahui adalah sampai saat ini aku masih terus sibuk dengan angka-angkaku. Angka-angka sejarah yang membentuk diriku sekarang ini. Aku mencoba berpikir kembali, tentang bagaimana manusia berpikir sebagai manusia sejati. Apa yang membuat manusia dikatakan sejati? Waktuku berbicara, ”Cara dia menentukan sebuah pilihan.” Entah, pilihan ini benar atau salah, tetapi … sudah lebih dari 500 kata aku menulis cerita ini dan sudah lebih dari 500 hari juga aku hidup menjadi cerita tentang kenangan ini.

Tak ada yang abadi di dunia ini, apalagi untuk sebuah tulisan yang mungkin tiada arti baginya. Mungkin, cerita ini takkan mampu mengubah apapun bahkan untuk menembus waktu sekaligus selalu ada dalam benak ini dan menjadi kenangan di-500 hari berikutnya setelah cerita ini ku tulis sebagai persembahan terakhirku. Aku tahu, semuanya perlahan akan basi dimakan waktu, menjadi busuk, hingga akhirnya semua terbuang, dan terlupakan begitu saja, serta hanya menyisakan untaian kata-kata tanpa makna, begitu pula cerita ini. Kata terakhir yang ingin ku persembahkan untukmu adalah tak lebih baik dari semua ini selain mengucapkan, ”Maaf.”

7 komentar