Tangisan vs Lamunan

 

Tumbuh dewasa memanglah membingungkan. Menghabiskan banyak waktu hanya demi bermain-main dengan logika. Bukan merayakan kebebasan hidup yang tanpa arah, melainkan menemukan sebuah alasan untuk tujuan hidup yang terkadang sulit untuk dipahami. Aku benar-benar babak belur dihajar kenyataan. Kenyataan yang berusaha kujalani dengan sabar dan kunikmati dengan tabah.

“Tolong jangan pergi, Kak!” ucap rintihan sang adik kepada kakaknya yang hendak untuk mengadu nasib ke kota. Tangisan tersebut terasa begitu sempurna membuat ragu hati untuk membatalkan kepergian manakala dihiasi dengan wajah mewek yang diselipkan ibu dalam upayanya menyembunyikan kesedihannya. Kubangun rasa yakinku berbekal lamunan setiap malam ayah yang bingung dalam menyambung hidup hari esok. Teriakan perut lapar yang lesu untuk diganjal, sindiran salam sapa tagihan tunggakan SPP sekolah yang berkirim surat, hingga cacian bayar utang yang merongrong sembari menggedor pintu rumah setiap hari. Alasan itulah yang merobohkan keraguan atas tangisan adik dan ibu demi memilih berpihak pada perjuangan lamunan ayah.

Kelanaku menjawab kebenaran pilihanku. Kebenaran mencari tahu makna dari tangisan versus lamunan. Aku sadar bahwa jawabannya hanya ada pada langkah pilihanku. Pembuktian tindakan terhadap permainan logikaku. Bekarya mengais pundi-pundi harapan. Tidak cukup banyak tetapi cukup banyak membuatku banyak-banyak merasa cukup. Setidaknya kini aku mampu membuat keluargaku hidup. Sekalipun tak mampu mengantarkan pada kehidupan yang senang dan tenang, namun mampu mengakali tangisan dan lamunan keluargaku untuk mencoba mengenal sedikit tentang senyuman. Aku hanya mampu memungut hikmahnya sembari menikmati pembagian takdir dari Tuhan ini.