Bak Lato-Lato

Bak Lato-Lato

Reza begitu ahli memainkan lato-latonya, bahkan sambil mengobrol dan tertawa dengan kawannya pun, ia masih bisa memainkan permainan dua bola plastik tersebut dengan terampil. Ia bak dewa lato-lato yang mampu membagi konsentrasinya dalam memainkan permainan tersebut, sekali pun harus memainkan peran gandanya untuk tidak terlihat tidak menghiraukan atau cenderung mengelabui pikiran kawan-kawannya.

“Sekarang aku tahu kalau kau sebenarnya menusukku dari belakang,” ujar Zainul kepada Miftah dengan wajah memerah sembari melayangkan telunjuk jarinya ke wajah sahabatnya itu.

“Apa yang kau bicarakan, Zai? Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau maksud?” dengan terheran-heran Miftah bertanya seraya meraih pundak Zainul.

Zainul pun menepis tangan Miftah yang hendak meraih pundaknya. Lelaki berambut cepak tersebut terlihat begitu kecewa dengan sikap sahabatnya sendiri yang tak pernah ia yakini sebelumnya. Zainul merasa bahwa sahabatnya tersebut telah mengkhianatinya. Menusuknya dari belakang hanya demi sebuah gengsi kedudukan di komunitas tempat mereka bernaung. Sedangkan, Reza yang tahu persis kejadian tersebut tepat di pelupuk matanya bahkan dalam hatinya menyambutnya dengan senyum tipis sembari terus membenturkan dua bola plastik lato-latonya dengan santai. Reza benar-benar memainkan ritme lato-latonya dengan baik.

Perselisihan tersebut mengundang sikap marah Pak Viky selaku pembina komunitas atas salah satu kadernya yang digadang-gadang menjadi kandidat terkuat calon ketua umum terpilih pada pemilihan ketua umum komunitas periode tahun ini. Pak Viky pun mengambil sikap tegas dengan berat hati mendepak Zainul dari keanggotaan komunitasnya karena dianggap melanggar peraturan komunitas, yakni, berpacaran. Ya, pacaran menjadi salah satu hal yang dilarang keras oleh komunitas tersebut. Bukan tanpa alasan, alasannya cukup jelas, yaitu, demi menjaga komitmen berorganisasi.

Mengetahui didepaknya Zainul dari keanggotaan komunitas, kian membuat Reza yang juga menjadi bagian dari komunitas tersebut semakin percaya diri menatap pemilihan ketua umum periode tahun ini. Reza menikmati semua drama tersebut seraya memainkan lato-latonya. Ia benar-benar menikmati permainan lato-latonya yang kian hari kian terampil. Tak ada yang selihai Reza dalam bermain lato-lato, khususnya di komunitasnya, bahkan mungkin tak ada yang bisa memainkannya karena memang Reza juga tidak pernah menjumpai kawannya bermain lato selain dirinya.

Kini, tak ada lagi lawan berat yang menghadang langkah Reza untuk menatap optimis pemilihan ketua umum dalam waktu dekat ini. Ia hanya perlu bersaing dengan Andre. Remaja bermuka datar yang dianggapnya cupu. Mungkin ia tidak akan jadi batu sandungan untuknya. Pasalnya, ia memang tidak difavoritkan dalam pemilihan tersebut. Ia memang dikenal pintar, hanya saja sikapnya yang dingin memaksanya cenderung dilabeli cupu oleh kawan-kawan komunitasnya.

Waktu terus berlari menuju garis finis dimulainya acara pemilihan. Kini, yang tersisa hanya dua pekan lagi. Reza menikmati hari-harinya sepulang dari kegiatan komunitasnya dengan nongkrong bersama kawan-kawan sepermainannya. Bukan teman komunitasnya, melainkan teman nongkrong. Di tengah-tengah nongkrong tersebut, ia tak lupa terus memainkan latonya dengan gelak tawa yang mewarnai kala mereka bercanda bersama. Seruput kopi dan isapan rokok tak ayal juga melengkapi canda tawa mereka. Canda tawa Reza yang dengan percaya diri yakin akan memenangkan pemilihan tersebut. Semuanya berjalan seindah naskah yang telah diskenariokan. Tak ada cacat dan tak ada kesalahan.

Keesokan hari sepulang sekolah, seperti biasanya Reza bermarkas ke ruang komunitasnya. Sembari berjalan menuju ruangan tersebut, Reza tak lupa memainkan lato-latonya dengan lihai. Ia berjalan dengan santai dengan ditemani ketukan seirama lato-latonya. Tak ada kekhawatiran sebelum akhirnya dia mulai membuka pintu ruangan.

“Prakkk ...” suara bola lato-lato Reza yang terlepas dan mengenai kepalanya.

Tali lato-latonya tiba-tiba terputus dan bola lato-latonya pun menghantam kepala Reza. Tak disangka dan tak diduga. Saat Reza merasa nyaman memainkan lato-latonya, bahkan dia mampu menjaga ritme ketukan lato-latonya dengan lihai, di luar ekspektasinya, lato-latonya justru beradu banteng dengan dirinya. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa beradu kepala dengan lato-latonya sendiri. Pikiran Reza pun semakin runyam saat ia membuka pintu ruangan tersebut dan mendapati sambutan pelotot mata memerah dari kawan-kawan komunitasnya. Semua pandangan jengkel kawan-kawan komunitasnya pun beralamat ke wajah Reza. Penuh amarah mengundang sontakan hinaan.

Tidak ada perbedaan, semuanya sama persis. Sama persis seperti apa yang terjadi dengan Zainul kala itu. Semuanya terasa de javu. Pengulangan moment pahit awal dimulainya petaka tersebut. Kawan-kawan komunitasnya benar-benar marah kepada Reza. Khususnya, Pak Viky yang tidak habis pikir dengan kelakuan Reza yang mengecewakannya. Kawan-kawannya kini tahu kalau Reza ternyata merokok di luar sepengetahuan kawan-kawan komunitasnya itu. Salah satu pelanggaran peraturan berat yang tidak dapat ditoleransi sebagai anggota komunitas. Ya, merokok menjadi larangan yang tidak dihalalkan dalam berorganisasi di komunitas tersebut dan Reza kini ketahuan telah melanggarnya. Itulah alasan kawan-kawannya menumpahkan amarahnya kepada Reza yang notabene menjadi kandidat terkuat sepeninggal mundurnya Zainul dari kandidat pemilihan.

Gundah, resah, semua campur aduk jadi satu menghujani pikir Reza. Pikirannya pun berkalut kebingungan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bagaimana mungkin semuanya terjadi di luar dari skenario yang telah ia rancang serapi mungkin. Bagaimana bisa mereka mengetahuinya? Jawaban akan hal itu sontak mengemuka kala Andre keluar dari kerumunan kawan-kawan komunitasnya sembari bermain lato-lato dengan berhiaskan senyuman tipis. Andre memainkan lato-latonya dengan lihai, terlihat lebih lihai dan penuh ritme daripada permainan Reza. Berkalut wajah datar tanpa ekspresi dengan sesekali menyembunyikan senyum tipisnya, Andre menunjukkan dirinya bahwa ia adalah pemain lato-lato yang tak kalah lihai dibandingkan dirinya. Tampak ia mengetukkan lato-latonya penuh irama, bahkan tanpa memperhatikan lato-latonya, Andre mampu menjaga keseimbangan ketukan lato-latonya. Hal yang benar-benar tak pernah dibayangkan Reza sebelumnya.

Reza melihat wajah dirinya dengan Miftah dalam wujud lato-lato yang dimainkan Andre. Bagaimana mungkin? Ya, Andre mengajak Miftah untuk nongkrong bersama dengan alasan merayakan ulang tahunnya di tempat Reza nongkrong. Andre membiarkan Miftah melihat kebenaran dan mengarahkan Miftah untuk memainkan peran dengan sendirinya tanpa ia suruh. Miftah merekam semuanya dengan indah dan melaporkan hal tersebut kepada Pak Viky dan kawan-kawan komunitas lainnya. Sedangkan Andre, seperti biasanya, ia memainkan perannya bermodalkan wajah datar layaknya anak cupu. Ia menjaga betul sematan anggapan kawan-kawannya yang dikenal sebagai anak yang pendiam.

Kini, Reza tahu siapa pecundangnya dan siapa pemenangnya. Andre benar-benar memecatnya dari komunitasnya. Bukan memecatnya secara langsung, tapi membuat komunitasnya memecat Reza tanpa berbicara. Semuanya hanya perlu dilakukan dengan menjaga keseimbangan lato-lato yang dimainkannya. Ketukan lato-lato yang penuh ritme dan penuh irama. Cukup lihai dan cukup terampil sebagai pemenang permainan adu lato-lato antara keduanya.

Putaran Roda

Putaran Roda

 

“Anda dipecat!” seru manager kepada Pak Ridwan sembari tersenyum tipis.

Tak ada yang dapat dilakukan Pak Ridwan selain menerima kenyataan dan berusaha membendung air matanya agar tidak jatuh dan terlihat lemah di hadapan manager yang semena-mena tersebut. Ridwan masuk dalam jurang perangkap politik managernya sekaligus menjadi tumbal atas cuci tangan pimpinannya tersebut yang bobroknya hampir terungkap oleh sang owner. Pak Ridwan dituduh memanipulasi laporan keuangan perusahaan usai dilakukan audit oleh sang owner. Ia harus rela menerima kejatuhan sampur atas alibi yang dilakukan pimpinannya guna mengamankan dirinya dari jurang pemecatan sang owner. Tak ada yang dapat dilakukannya sekalipun melakukan pembelaan, kenyataannya ia seakan-akan dipojokkan kebenaran dan terlihat benar-benar bersalah atas kebenaran yang dialibikan pimpinannya tersebut.

***

Tak ada pilihan terbaik yang dapat dilakukan Pak Ridwan terhadap keluarganya selain berbohong. Hal itu adalah pilihan terbaik di antara yang terburuk dalam menyikapi permasalahan yang merundungnya. Lelaki berambut cepak tersebut terpaksa memainkan perannya sebagai suami pada umumnya yang selalu berangkat pagi untuk bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya. Padahal, kenyataannya ia tersesat dalam tujuan yang tidak ia pahami adanya. Persawahan, tepi sungai, taman, dan tempat-tempat yang selama ini jauh dari kesan akrab baginya, kini menjadi rumah kedua untuk berpikir sembari mencari solusi atas nasib yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

Ia benar-benar menyusuri setiap langkah pikirnya dalam mencari solusi sembari terkulai santai di atas motornya. Ratusan kontak telepon juga ia telusuri guna mencari informasi untuk sesegera mungkin dapat mengakhiri peran palsu yang sebenarnya tak ingin ia mainkan tersebut. Tak ada yang dapat ia lakukan selain melakukan apa yang dapat ia lakukan saat ini. Pilihan terbaik yang dapat ia lakukan adalah berusaha meyakinkan diri dengan makna tidak semua hari berjalan dengan baik, tetapi selalu ada hal baik di setiap harinya.

***

“Bagaimana kabarmu, Kawan?” tanya Doni kepada Ridwan saat bertamu ke rumah Ridwan.

Doni datang ke rumah Ridwan untuk mengantarkan undangan pernikahannya. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan kawan lamanya tersebut, Ridwan pun membuka diri untuk menceritakan keluh kesahnya kepada eks mitra kerjanya tersebut. Doni pun yang dulunya mengundurkan diri dari tempat kerja Ridwan dipecat tersebut karena alasan prinsip hidup menasihatinya bahwa semuanya adalah rezeki yang patut untuk Ridwan syukuri.

“Mengapa?” tanya Ridwan dengan heran sembari mengernyitkan keningnya.

“Dahulu, aku sempat mencari tahu arti dari rezeki setiap manusia telah ditentukan Allah. Akhirnya, aku tersadar bahwa jawabannya adalah hanya ada pada orang yang bersyukur. Rezeki adalah tentang seberapa banyak nikmat yang telah kita terima dan seharusnya patut untuk kita syukuri. Badan yang sehat, keluarga yang harmonis, kawan yang baik, dan tentunya dijauhkan dari hal buruk adalah sebagian contoh kecil dari pengingat atas nikmat yang mungkin tidak orang lain miliki.”

“Tapi, Don, aku masih benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Semuanya di luar dugaanku,” bantah Ridwan dengan agak jengkel.

“Pak Rudi membuat rencana untuk menjatuhkanmu dan Allah pun membuat rencana pula terhadap dirimu. Yakinlah, Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Beban hidupmu yang sekarang ini, barangkali menjadi penyelamat dari kehidupanmu. Bisa jadi, saat kamu berada di masa kemunduran seperti sekarang ini, mungkin Allah sedang bersiap untuk melemparmu lebih jauh ke arah kesuksesan,” jawab Doni dengan bijak.

Doni berusaha mengembalikan gairah hidup Ridwan yang tenggelam ke dalam dasar keterpurukan. Keterpurukan yang membuatnya gundah dalam memainkan perannya dengan baik sebagai ujung tombak keluarga yang berusaha memenuhi tanggung jawabnya. Ia berusaha membiasakan diri dari terbang di atas langit menjadi merangkak di atas tanah.

“Bila air yang sedikit saja dapat menyelamatkanmu dari rasa haus, lantas untuk apa kamu meminta air yang lebih banyak. Bisa jadi hal tersebut barangkali dapat membuatmu tenggelam. Yakinlah kawan, cukup dengan memahami kata ‘cukup’ untuk selalu belajar tentang apa yang harus kamu syukuri,” tambah Doni.

Setelah itu, Doni pun memberikan informasi lowongan pekerjaan kepada Ridwan. Kebetulan, salah satu perusahaan temannya sedang membutuhkan auditor keuangan. Doni pun menghubungi temannya tersebut dan merekomendasikan Ridwan untuk bisa bekerja di perusahaaan tersebut.

***

“Bagaimana kabarmu, Kawan?” tanya Ridwan kepada Doni saat bertamu ke rumah Doni.

Setelah enam bulan tak bertemu, mereka berdua bertemu kembali. Ridwan datang bertamu ke rumah Doni untuk menyampaikan terima kasih atas bantuannya dalam merekomendasikan pekerjaan untuknya. Ridwan merasa bersyukur dengan pekerjaannya yang sekarang. Pekerjaan yang menuntunnya pada kenyamanan yang sebelumnya tak ia dapatkan. Ia benar-benar bersyukur atas rasa pahit yang pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa pahit yang mengajarkannya bahwa yang pahit tak selalu buruk. Selalu ada kenikmatan dibalik sebuah rasa, tanpa terkecuali rasa pahit.

“Tahukah kamu, Don, aku mendengar kabar dari seorang kawan kalau perusahaan tempat kita bekerja sebelumnya, kini terancam pailit,” ujar Ridwan dengan sedikit mengelus dada.

“Kini kau telah mengerti alasanku atas kebimbangan makna pertanyaan bahwa rezeki setiap manusia telah ditentukan Allah. Allah tidak selalu mengirim orang baik untuk menolong kita. Adakalanya, Allah mengirimkan orang yang menjengkelkan untuk menyelamatkan kita,” jawab Doni seraya tersenyum tipis.

“Aku hanya merasa kasihan saja dengan Pak Rudi, Don, kini dia harus menerima nasib dipecat dari perusahaan atas tindakannya yang salah tersebut,” ucap Ridwan dengan bersedih.

“Allah telah menyelamatkan hidupmu, Wan, dan kamu patut bersyukur akan hal itu. Seburuk apapun keadaanmu, jangan pernah meratapinya. Kita semua sama, hanya saja berbeda jadwal putaran roda. Pak Rudi kini telah mendapatkan jadwal putaran rodanya,” jawab Doni sembari menepuk pundak kawannya tersebut.

Tiupan

Tiupan

“Bagaimana mungkin hanya karena kau meniupnya saja, kau memintaku membayar seratus ribu?” tanya sang direktur kepada teknisi komputer. Seratus ribu bukanlah tarif selangit untuk tugas tersebut, melainkan tanda terima kasih yang memang pantas diterima sang teknisi untuk jasanya yang telah menyelamatkan karier sang direktur.

Peran sang teknisi bak malaikat yang mengubah takdir sang direktur dari amuk tuannya, yang memintanya pertanggungjawaban untuk pelaporan keuangan perusahaan dalam waktu dekat. Sialnya, laporan tersebut tersimpan di laptop itu. Sang teknisi pun membedah dan memeriksa dengan teliti semua komponen laptop tersebut. Bermodal hanya tiupan agak panjang ke salah satu komponen yang berselimutkan debu, sang teknisi mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan pekerjaannya.

Sang teknisi memang hanya meniupnya saja, tetapi dia tahu persis di mana dan cara untuk meniupnya dengan benar. Tiupan tersebut seakan memberi nyawa sekaligus harapan hidup baru untuk laptop dan karier sang direktur pula. Bagaimana dengan seratus ribu? Sang teknisi menjawab, “Seribu untuk meniupnya dan sembilan puluh sembilan ribu untuk mengetahui di mana dan cara untuk meniupnya dengan benar. Untuk mengerjakan lima belas menit tersebut, aku butuh waktu lima tahun untuk belajar. Anda membayar untuk lima tahun tersebut, bukan lima belas menitnya.” Cukup adil bukan untuk penyelamatan yang mungkin bisa membunuh karier seumur hidup sang direktur.

Rugi

Rugi

 

Mereka merayakan kerugiannya. Kerugian yang tak pernah mereka sadari. Kerugian yang bertopengkan kenikmatan dan seringkali mereka sebut bahwa itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Mereka lupa atau bahkan memang sejatinya mereka tak pernah ingat bahwa mereka tersesat dalam jalan pulang menuju tujuan hidup ini yang sebenarnya.

Lebih dari sekadar detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan ikhwal lainnya mengenai waktu. Mereka membakarnya dengan perayaan yang identik dengan masturbasi budaya. Alih-alih memaknainya dengan introspeksi tentang kebangkrutan yang dialami dalam kurun masa yang telah dilalui, malah sebaliknya, mereka merayakannya dengan membangun mitologi mengenai harapan dan keberuntungan. Kembang api dan terompet seakan menjadi atribut rekreasi mereka merayakan sebuah kebahagiaan palsu. Kebahagiaan yang bernafaskan budaya berlibur dari sebuah perjalan akhir waktu sekaligus awal waktu yang tak ayal merupakan antiklimaks dari kenikmatan yang semu.

Tak ada panggilan batin dalam diri mereka dan tak ada tuntutan untuk memaknai lebih dari sekadar bertahan hidup di waktu mereka masih diberi kesempatan oleh Sang Illahi untuk menghela nafas. Jangankan untuk berharap untuk dapat memantik diri untuk merenung akan kenikmatan pencipta-Nya, malahan mereka mengingkari tujuan hidup sekaligus alasan keberadaan mereka diadakan di dunia yang seringkali disebut kefanaan.

Sekali lagi, mereka merayakan kerugiannya. Pergantian waktu atau yang sebenarnya waktu yang terbuang tersebut mereka kukuhkan sebagai ajang menjadikan waktu sebagai sampah. Membuangnya dengan kesan tanpa arti. Mereka benar-benar tak menghargainya. Mereka lupa bahwa contoh kecil untuk dapat memaknai nikmat yang besar (waktu) tersebut tak ayal dapat dimulai dari hal yang sederhana. Berpikirlah sehat sebelum sakit. Layaknya seorang anak yang mengantarkan ibunya yang sedang sekarat ke rumah sakit. Setiap detik, menit, atau jam sangatlah penting dan berarti. Bahkan, ia terus dirundung ketakutan akan kematian yang bisa jadi menjadi konsekuensi dari kegagalan memanfaatkan waktu tersebut. Bukan hanya memanfaatkan waktu untuk melakukan penyelamatan hidup, melainkan memanfaatkan hidup selama ini untuk tujuan keselamatan hidup yang sejati kelak. Sadarkah bahwa cepat sekali waktu berlalu. Lengah sejenak jadi siang, lelap sebentar jadi malam, lalai dan luput sesaat bisa diujung sesal.

Lagi dan lagi, mereka masih merayakan kerugiannya. Kerugian waktu yang ditandai dengan pergantian waktu. Pergantian dari 31 menuju 1, 23.59 menuju 00.00, malam menuju pagi, dan hal-hal lainnya yang sebenarnya tidak berguna untuk digunakan sebagai perayaan. Perayaan pergantian yang tak ayal selama ini menggiring pada rasa lupa tentang kesadaran waktu. Mereka adalah segerombolan orang bodoh yang berharap ke tahun, bukan ke Tuhan. Akhirnya, kenyataan pahit yang tak dapat ditampik kebenarannya adalah bahwa Allah telah bersumpah atas nama waktu dan menyebut bahwa manusia telah berada dalam kerugian. Kini, mereka membenarkannya bahkan merayakan kebenaran yang Sang Illahi tetapkan dengan kebenaran versi mereka yang seringkali disebut bahwa inilah kebenaran hidup dan hidup yang sebenarnya.

Bangga

Bangga

 

Lagi, lagi, dan lagi. Untuk kesekian kalinya, Adi harus menelan pil pahit dalam ajang lomba balap sepeda yang diikutinya. Ia seakan merasa ditertawakan kenyataan bahwa kata sandang kegagalan selalu akrab tersemat dalam dirinya. Ia selalu tertekur lesu dalam setiap lomba yang digelutinya. Pasalnya, kayuhan sepedanya tak mampu mengantarkannya meraih impian yang dirindukannya.

Kekecewaan tersebut kian membuncah manakala balada tentang elegi tersebut disaksikan langsung oleh sang ayah yang selalu mendampinginya. Ayahnya hanya tersenyum tipis sembari bertepuk tangan ringan ketika menyaksikan Adi jatuh tersungkur dari sepedanya. Adi heran ketika sosok berambut cepak itu begitu menyambut, bahkan merayakan kegagalannya tersebut. Rasa simpati terhadap kegagalan anaknya rasanya hilang dalam relung hati lelaki yang dikenal mantan atlet sepeda nasional tersebut. Lelaki berpostur tinggi tersebut seakan tidak peduli dengan rundungan kekecewaan anak sulungnya itu.

Perasaan benci datang menghujam setiap sudut ruang benak Adi. Persepsi tentang rasa sayang seorang ayah terhadap anak seakan bukan menjadi bagian dari keluarga Adi. Adi benar-benar kehilangan jati dirinya untuk mencari motivasi guna keluar dari belenggu mimpi buruk yang semakin lama membunuh semangatnya untuk balapan. Begitu menyakitkan.

Deru debu beterbangan memeluk langit berhiaskan terik matahari. Saat itulah, Adi meruntuhkan dinding labirin tanda tanya yang selama ini menyesatkannya. Rasa haus akan kasih sayang seorang ayah tak ayal sebenarnya telah memayungi setiap langkah terjalnya. Ayahnya selalu siaga berdiri di belakang menangkap dan mengangkat kembali kebangkitan sang anak ketika putranya sedang jatuh. Sayangnya, Adi tak menyadari hal itu. Remaja berkulit sawo matang tersebut terlupa untuk melihat kebelakang mengenai kenyataan yang sebenarnya tak seharusnya ia tampik.

Keheranan Adi runtuh terusir kenyataan yang baru saja dipahami bahwa sang ayah sangatlah bangga dengan kegagalannya. Lelaki beruban tersebut menganggap bahwa putra kebanggaannya tersebut telah berhasil menemukan sejuta kekalahan yang benar, sebelum akhirnya nantinya menemukan satu kemenangan yang sebenarnya. Kekalahan yang mengantarkan Adi pada kesejatian proses bahwa kemenangan bak mengayuh sepeda. Mengulang-ulang kesalahan tentu akan mengantarkan Adi pada tujuan yang didambakan, yakni, kemenangan.

“Kau harus mengayuh sepedamu, Nak. Kekalahan selalu akrab dengan kemenangan dan kau harus yakin itu. Yakinlah, kekalahan ini akan mengantarkanmu ke tujuan yang kau sebut kemenangan, ujar sang ayah sembari menepuk pundak anaknya tersebut.

Matahari & Bulan

Matahari & Bulan

Mengapa matahari dan bulan tak pernah bersatu? Bukankah Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan dan menjadikannya bersatu untuk saling melengkapinya seperti layaknya laki-laki dan perempuan? Jika memang demikian, tak seharusnya Tuhan memisahkan keduanya dan menyalahi kodratnya sebagai sepasang ciptaannya yang seharusnya bersatu dalam ikatan kemesraan. Pertanyaan tersebut seakan menghakimi kuasa Tuhan yang tahu persis tujuan penciptaannya. Dulu, keyakinan yang teguh diagungkan, kini kenyataannya menjadi bimbang yang mengundang peperangan hati dan logika.

Siapa bilang matahari dan bulan tak bersatu? Justru karena mereka selalu bersatu hingga mereka terkadang lupa bahwa sebenarnya mereka selalu menghabiskan waktu mengukir kisah sepanjang hari di langit Tuhan. Mereka memang dipisahkan oleh jarak dan waktu, namun tak berarti tak saling melengkapi. Apakah kau malah tak khawatir jika keduanya selalu berjalan bersama sepanjang hari? Bukankah dunia akan kacau balau dengan banyaknya cahaya yang terpancar secara bersamaan. Manusia akan kesulitan membagi waktu bekerja dan istirahatnya, hewan pun juga akan kebingungan menentukan waktunya untuk mencari makanan dan menghangatkan tubuh, tumbuhan akan panik menentukan masanya untuk berfotosintesis, bahkan dunia pun akan semrawut dengan ketitdakjelasan waktu hidup yang tiada batas.

Matahari dan bulan sejatinya hadir untuk saling melengkapi perjuangan mereka dalam membantu kita untuk memahami sebuah kehidupan. Kehidupan yang sebenarnya manakala keyakinan akan sebuah argumentasi bermaknakan bahwa setiap hal diciptakan secara berpasangan. Meski diciptakan secara berpasangan, setiap ikhwal tentunya tak luput dari kodrat tugasnya dalam berbagi peran. Matahari bertugas berkelana di langit yang terang, sedangkan bulan bertugas mengembara di langit yang kelam. Di taman langit yang terang, matahari bersinar cerah dengan teriknya. Namun, ketika langit menghitam karena malam, tibalah matahari untuk menyingkir dan memberikan kesempatan kepada bulan berkilau bahagia dengan pesonanya di malam hari.

Inilah cinta sejati. matahari dan bulan yang saling mencintai dengan bentuk yang berbeda. Mereka saling membebaskan satu sama lain. Memainkan perannya sesuai kodrat illahi. Mereka memahami betul bahwa cinta adalah milik semesta. Cinta lebih indah bila tidak saling memiliki karena pada hakikatnya semua hal adalah milik illahi. Mereka mencintai semesta ini sesuai sabda illahi bahwa menerangi setiap sudut bumi adalah takdir hidup mereka. Mereka melakukannya dengan saling berbagi satu sama lain. Matahari memancarkan cahaya dan bulan bertugas memantulkannya.

Kini, dari berbekal ilmu, aku telah belajar bahwa ada sesuatu yang tak dapat dipaksakan layaknya matahari dan bulan. Mungkin benar adanya, sepandai apapun kita berdebat menghakimi matahari dan bulan yang tak pernah bersatu, maka kebenaran yang hakiki yang harus dipahami adalah bahwa mereka tak ditakdirkan untuk berpelukan. Mereka hanya dipersatukan lewat kodrat mereka untuk saling melengkapi. Tak ada perbandingan yang sepadan antara takdir kita dengan hal yang lain. Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan, mereka bersinar saat waktunya tiba, sesuai jalan cinta mereka yang telah dititahkan sang illahi. Inilah tiga hal yang tak dapat kita elakkan kebenarannya: matahari, bulan, dan kebenaran itu sendiri.

Monolog Cinta

Monolog Cinta

Semua berawal dari pengandaian. Tentang dialog jiwa, antara aku dan kenyataan ini. Akan butuh waktu lebih dari sekadar kata melelahkan dan membingungkan untuk menjawabnya. Bahkan penyair pun mungkin hanya bisa menerka-nerka tanpa tahu kebenarannya.

Malam itu langit bertabur tanda tanya, tentang ini dan itu. Hari esok yang harus kupikirkan. Butuh waktu satu semester bagiku untuk belajar tentang puisi. Butuh waktu lebih lama untukku bisa menulis indahnya puisi. Tapi sayang, ketika aku sanggup menulisnya, aku tersadar bahwa aku hanya menulis segerombolan kata-kata indah tanpa memahami artinya.

“Mengapa harus puisi?” batinku.

Siapa lagi yang bisa menjawabnya kalau bukan diri ini. Banyak persepsi saling adu argumen untuk memahami makna puisi. Hakikat puisi.

“Siapa yang benar?” gumamku.

Tanyakan pada orang yang jatuh cinta, tanyakan pada orang yang menangis, tanyakan pada orang yang kritis, tanyakan pada orang yang patriotis, tanyakan pada orang yang religius, tanyakan pula pada orang-orang lainnya. Jawabannya cuma satu, aku pun juga tidak tahu.

Malam itu langit bertabur tanda tanya, tentang ini dan itu. Hari esok yang harus kupikirkan. Butuh waktu satu semester bagiku untuk belajar tentangnya. Dia. Butuh waktu lebih lama untukku memahaminya. Tapi sayang, ketika aku mengenalnya, aku melupakannya kalau aku belum memahaminya.

“Siapa dia?” gumam hatiku.

Ku tanyakan pada pikir ini, hati ini, jiwa ini, rintihan ini, kesedihan ini, dan ini-itu lainnya. Jawabannya cuma satu, cukup aku yang tahu.

Lebih dari inspirasi, motivasi, dan apapun itu. Dia. Yang telah membangunkanku dari kelamnya malam, yang telah membangkitkanku dari kuburan senyuman, dan yang telah mangantarkanku pada sebuah kisah. Cinta.

Entah ini sebuah prolog atau epilog tentang kisah ini ditulis. Di sini … aku masih berdiri sendiri sembari memikirkan skenario yang akan ku mainkan. Menantikan sang sutradara memberikan aba-aba untukku memulainya. Ternyata ... aku hanya sebagai monolog yang berkisah dari sudut pandang orang ketiga.

Harap-cemas peran ini ku nantikan untuk berakhir, karena aku terlalu lelah untuk semua ini. Ketidakadilan yang harus ku pahami artinya lebih dari sekadar kata adil untuk orang lain. Ia ibarat angin yang terkadang menyejukkanku dengan gemulai tariannya, namun terkadang pula ia bertiup cukup kencang hingga buatku terkapar jatuh dalam ketidakberdayaan. Entahlah … aku tak tahu pasti apa yang akan terjadi, tapi sang penyair tahu pasti tentang apa yang akan terjadi.

Selalu kutanamkan cinta ini dalam waktuku. Aku tak ingin rasa ini sirna begitu saja terhempas kesunyian, karena bagiku ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ini sebagai antiklimaks pertanda kisah ini akan berakhir, walaupun sebenarnya waktu ini hampir habis terkikis deru air mata.

Seuntai kata darinya cukup untuk menghangatkan jiwa ini dan menyenyakkan tidurku. Tersirat maupun tersurat. Terkadang aku lupa caranya tersenyum, namun dia mengajarkanku tentang cara tersenyum lewat senyumannya, meski terkadang pula seuntai kata darinya mampu menenggelamkanku dalam kepekatan. Kepekatan malam yang dengan paksanya mengusir pagiku dengan kesedihan. Karena aku memang tak tahu, apakah aku harus bersedih atau tersenyum?.

Kalau sudah begini, aku hanya bisa bergegas melapor kepada “Sang Penyair”, tentang perjalanan ini dititiskan kepadaku. Aku selalu berharap, berharap, dan berharap sang penyair merevisi skenarionya. Memberiku kesempatan untuk memainkan skenarionya bersamanya, namun bukan sebagai cerita melainkan realita.

Bukan tentang apa kisah ini ditulis, tapi untuk apa kisah ini tertulis.

“Percayakah?” renungku.

Akan butuh perjudian hati untuk menjawabnya. Percaya atau tidak percaya adalah jawaban yang objektif untuk menyikapinya. Mungkin terlalu muda bagiku untuk mengatakan “mudah”. Padahal aku hanya berharap,”mudah-mudahan semuanya mudah”.

Bukan pelarian, tapi aku hanya ingin berlari.

“Salahkah?” renungku.

Mungkin aku tidak tahu jawabannya, tapi sesungguhnya hanya ada satu alasan tepat untuk menjawab semua ini. Semua tentang kita. Semua tentang kita yang hanya sekadar cerita. Cerita cinta yang ku pasrahkan pada waktu untuk mengungkapnya. Dan dia memang benar, ”berlari sendirian itu melelahkan”. Mungkin inilah sebuah kebenaran yang paling benar.

Aku selalu mengingatnya, kata-kata yang menuntunku pada semua ini. Apa adanya. Bukan apa-apa atau pun ada-ada saja, tapi tentang kisah ini berawal ku tulis dan tertulis.

Andai semua ini bukan pengandaian. Takkan ada hari ini yang akan ku anggap sebuah kenangan, karena aku akan selalu bilang, “inilah kenyataan”. Dan semuanya akan terangkai dan terbingkai dengan manis dalam alurnya.

Mencintai cinta membutuhkan keyakinan untuk memulainya, karena ketika cinta telah mencintai cinta jangan pernah untuk mengali atau membaginya, seperti angka yang selau bimbang dengan akhirnya. Bahkan tukang foto pun seakan dibodohi dengan fiksi dengan menganggapnya kalau ini adalah sebuah kenyataan. Kenyataan tentang 3x4 = 700, 4x6 = 1000, dan kenyataan-kenyataan lainnya yang tak pernah ku terpikirkan kebenarannya. Entahlah, sulit tuk ku mengerti semua ini.

“Dan lagi, siapa yang salah?” bimbangku.

Dan aku hanya bisa menyalahkan keadaan yang sesungguhnya tak tahu apa-apa tentang sesuatu yang telah terjadi. Tentang kenyataan yang harusnya aku tahu bahwa inilah kebenaran. Kebenaran sejati yang tak pernah mengada-ada.

“Lalu apa yang harus ku lakukan selanjutnya?” tanyaku kembali pada hati yang bimbang.

Aku tahu atau aku hanya sok tahu. Mungkin ini cuma sebuah teoretis di atas karya tulis, atau filosofis? fanatis? pragmatis? atau realistis? tanyakan pada is …, is … lainnya. 

Walau aku tak pernah tahu apa yang dia mau. Yang ku tahu hanyalah, “Terkadang orang terlalu angkuh untuk mengakui cinta. Padahal yang harus disiapkan ketika kita jatuh cinta hanyalah satu. Menyiapkan hati untuk terluka”, mungkin dia tahu.