Sambat Rakyat

Sambat Rakyat

 

Di negeri berdaulat ini, politikus bersiasat

Hasrat meluap layaknya gelombang lautan yang dahsyat

 

Dengan kiat senyum termanis, janji-janji manis dimaklumat

Namun di balik jerat itu, kepentingan rakyat dilibat

Mereka menari dengan semangat di atas panggung penuh akrobat

Menipu dan memanipulasi rakyat berdalihkan amanat

Janji-janji palsu nan khianat terucap penuh syahwat

Sedangkan, harkat keadilan tergusur oleh siasat

 

Rakyat menjadi korban dalam sandiwara politik maksiat

Amanat kesejahteraan terpinggirkan oleh ketamakan para pejabat

Dalam nikmat kekuasaan, etika mati menjadi mayat

Seolah-olah daulat negara ini hanya panggung bagi para pengerat

Para pendukung penjilat melibas kritik dengan hasrat

Seolah-olah tak melihat KKN yang menggeliat

Pemimpin yang tergiur lezat kekuasaan dan melupakan rakyatnya dengan siasat

Seakan-akan pangkat adalah haknya dan tak peduli dengan derita rakyat

 

Namun, satire wasiat ini adalah cermin bagi kita pemilik negara yang berdaulat

Agar tak teperdaya jerat oleh pesona politikus yang sesat

Kita adalah rakyat yang hanya mampu bersambat

Berharap mereka bertobat dan kembalinya negara yang bermartabat

Di bawah mandat pemimpin yang taat dan amanat

Agar kepentingan rakyat tetap menjadi fokus maslahat

Membumi Tanpa Melangit

Membumi Tanpa Melangit

 

Di bagian bumi yang akrab dengan keguyuban warganya, hadir seorang anak bernama Nando yang dengan sifat langitnya merasa bahwa dirinya lebih pintar dan hebat daripada semua warga, tak terkecuali Pak Hartono, seorang lelaki beruban dan berbadan kurus yang dikenal bijak oleh warga. Pada sebuah pertemuan di balai desa, Nando dengan bangga mencoba menunjukkan betapa pintar dan hebat dirinya dengan membantah gagasan-gagasan Pak Hartono secara terbuka. Nando merasa jemawa karena tidak sedikit teman seusianya yang hadir pun turut tertawa meramaikan ejekan tersebut.

Di lain waktu yang berbeda, Nando tampak merenung kala ia secara tidak sengaja mendengar diskusi antara Pak Hartono dan ayahnya. Ternyata, Pak Hartono bukan hanya bijak tetapi juga loyal dan berdedikasi dalam membantu warga. Nando merasa malu karena sikapnya yang melangit justru malah membuatnya terkubur dalam penyesalan. Keesokan harinya, Nando menemui Pak Hartono untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Pak Hartono dengan rendah hatinya pun menyambut permintaan maaf itu seraya mendaratkan pelukan disertai iringan nasihat bijak kepada Nando tentang pentingnya menghargai sesama.

Kini, Nando belajar arti dari menghargai pengetahuan dan pengalaman orang yang lebih tua. Ia menjadi pribadi yang membumi dan seakan terlupa untuk melangit. Ia tidak lagi melangit hanya untuk mengejar pengakuan orang lain, tetapi ia membumi untuk membuka diri belajar dari orang-orang di sekitar dan menjadi seseorang yang bijak serta sadar akan perannya sebagai mahkluk yang memang hidup di bumi dan selayaknya memiliki sifat membumi.

Si Pemalas; Pemimpin Generasi

Si Pemalas; Pemimpin Generasi

 

Di bagian sudut kelas di SMA Mentari, terdapat seorang remaja bernama Alfath. Ia selalu menyembunyikan wajahnya di balik bukunya, lebih akrab bergaul dengan game daripada sorot mata teman-temannya. Sikapnya yang pendiam memastikan dirinya dijauhi oleh teman-temannya serta terpenjara dalam dunianya sendiri. Namun, sebenarnya Alfath adalah figur yang berbekalkan keunikan yang tersembunyi di balik sikap apatis yang selama ini disematkan kepadanya.

Di tengah hiruk-pikuk rutinitas sekolahnya yang monoton, tenyata Alfath mengadu kisah kasih dengan dunia digital. Berbekal bakat dan minatnya, dia memilih untuk menjadi konten kreator di platform YouTube. Dalam setiap langkah permainan yang dimainkannya, Alfath merajut cerita, merangkai kata-kata, dan memadukan alunan musik yang menggiring siapa pun yang menyaksikannya terhanyut ke dalam petualangan dan pengalaman yang penuh inspirasi.

Namun, perjalanan Alfath tidaklah selalu berbuah manis. Berbagai rasa pahit dalam kenyataan pernah dicicipinya. Kegagalan demi kegagalan tak ayal masih menjadi sahabat yang akrab menemaninya setiap kali ia mencoba sesuatu bermimpikan keberhasilan. Setiap buih kegagalan adalah bahan bakar pelecut semangatnya untuk mencipta yang lebih baik lagi. Kenyataannya, impian keberhasilan pun akhirnya tiba menyapanya. Kegigihannya pun terbayar lunas, Alfath akhirnya mengerti betul rasa manis buah kesabarannya setelah sekian waktu menelan berbagai pil pahit sebelumnya.

Sekarang, dengan jutaan pengikut, Alfath bukan hanya mengubah jalan takdirnya, tapi juga keluarganya. Buah keringat dari kontennya bukan lagi hanya sekadar kegembiraan pribadi, melainkan mata pencaharian yang dapat menyambung hidup keluarga dan menggandeng tangan tetangganya yang terjerembab dalam kesulitan.

Pada bagian kenyataan terdalam, Alfath bukan sekadar seorang pemain game. Ia adalah sosok yang tahu caranya memaknai hidup. Setiap kesalahan yang pernah ia tapaki di dunia game adalah pelajaran beharga dalam mengukir kisah hidup yang lebih baik.

Teman-temannya yang dulu mengucilkannya, kini terpukau oleh kenyataan. Rafi, teman sepermainanya yang juga teman sesekolahnya, yang akrab merasakan sentuhan kebaikan Alfath, menyuarakan cerita ini kepada semua orang. Bermodal rasa bangga, ia mengungkapkan bahwa Alfath bukanlah pribadi pemalas. Mungkin, ia terlihat memainkan perannya bermain-main dengan pelajarannya, tetapi ia adalah seorang yang justru tak pernah bermain-main dengan cita-citanya.

Para guru yang awalnya terbiasa sinis melihat potensi Alfath yang biasa-biasa saja, kini mengapresiasi kesuksesannya yang luar biasa. Alfath, si pemalas dan pemain game itu, kini menjadi pemimpin generasinya. Alfath bukan lagi sosok yang tersesat di tengah keramaian sekolah, melainkan pahlawan yang menunjukkan jalan sukses ke tujuan mimpi yang sebenarnya kepada teman-temannya. Dalam dunia yang pernah terabaikan, Alfath memungut kebahagiaannya dengan keyakinan bahwa kesejatian hidup adalah menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya.

Garis Tangan, Campur Tangan, Tanda Tangan

Garis Tangan, Campur Tangan, Tanda Tangan

 

Di balik temaram sorotan lampu-lampu malam yang menemani gelapnya jalanan, terhampar sebuah kenyataan pahit pada kota kecil yang akrab dengan kesunyian. Di sana, terdapat seorang pemuda bernama Arif yang menjalani hidup dalam pertempuran batin antara iktikat menjaga norma dan nilai agama dan hasrat duniawi yang menggiurkan. Dalam sendu diam, Arif menyaksikan riuh terpuruknya moralitas kota itu terjerembab dalam ketidakmurnian. Ia tergugu pada rasa prihatin menemukan isu-isu terlarang menghiasi hampir setiap sudut kota ini. Namun, kebisuannya bukanlah tanda persetujuan. Baginya, agama yang diimani dan diamininya bukanlah sekadar ritual pemujaan masjid, akan tetapi lebih dari itu jugalah implementasi nilai-nilai suci dalam berkehidupan.

Di sudut yang sama, terdapat seorang alim ulama yang bijak dalam memandang ikhwal jauh ke depan. Beliau, Kiai Hasan, mengilhami bahwasanya tidaklah cukup hanya dengan memahami agama tanpa menerapkannya dalam panggung kehidupan. Kiai Hasan dalam kesederhanaannya mengajarkan bahwa seorang muslim tidak selayaknya hanya berdiam diri menonton ketidakadilan dan moral yang membusuk dan menyerbak di tengah masyarakat.

Pada suatu malam yang gelap, Kiai Hasan dan Arif bertemu di serambi masjid. Arif mendekati Kiai Hasan dengan keraguan di mata dan hatinya, lalu membagikan kegelisahannya tentang kemerosotan moralitas yang mengakar di kota itu.

“Apakah tidak boleh bersikap tegas terhadap kebatilan yang terjadi di sekitar kita?” tanya Arif dengan ditumpahi rasa kecewa.

Kiai Hasan tersenyum lembut, “Arif, terkadang kita terlalu naif untuk menyikapi kenyataan ini. Kenyataannya, tidak cukup dengan ribuan fatwa yang digaungkan apabila tidak disertai dengan aksi nyata. Banyak yang memahami agama, namun sedikit sekali enggan berjuang mengamalkannya dalam kehidupan nyata.”

Arif terdiam seribu bahasa, menggodoknya dengan matang kalimat bijak sang kiai. Tetapi, ia masih bingung.

“Bagaimana kita dapat berbuat lebih banyak, Kiai?” tanya Arif dengan raut wajah penuh harap.

Kiai Hasan menatap dengan serius, “Selalu ada campur tangan Allah pada setiap garis tangan yang tertulis pada setiap manusia. Kamu harus memahami satu hal bahwasanya satu tanda tangan untuk menutup tempat haram lebih berarti daripada ribuan fatwa haram. Itulah politik yang sejati, Arif. Politik bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi politik juga tentang kebaikan umat, politik moralitas, serta politik untuk agama.”

Mata Arif berkaca-kaca mendengar kalimat bijak tersebut. Ia tersadar bahwasanya politik bukan hanya tentang sekadar merengkuh posisi atau kekuasaan semata, melainkan sebuah panggilan untuk memperjuangkan nilai-nilai suci. Sejak malam itu, Kiai Hasan dan Arif duduk bersama merancang langkah nyata guna memperbaiki moralitas kota. Mereka hadir melibatkan diri dalam dialog dengan khalayak, mengajak masyarakat untuk lebih aktif peduli terhadap moralitas serta berjuang bersama guna menutup tempat haram bernama lokalisasi yang menjadi sarang keburukan.

Malam menyapa dengan kelembutan, menerangi hamparan jalanan kota kecil dengan kilau cahaya remang-remang. Di sebuah ruang pertemuan yang sederhana, Arif dan Kiai Hasan dikerubungi oleh para pemuda dan tokoh masyarakat yang tergugah oleh semangat perubahan.

“Apa yang kita lakukan hari ini adalah wujud dalam menjunjung tinggi kebaikan kita semua,” ungkap Kiai Hasan dengan penuh keyakinan. “Ini bukan hanya tentang menutup lokalisasi, tetapi juga mengenai membangun kesadaran nilai-nilai luhur dalam agama yang kita junjung tinggi. Kita berharap dapat menciptakan kota yang akrab dengan kebaikan serta dirahmati Allah.”

Mendengar hal tersebut, semangat pun kian membara di hati para hadirin. Mereka membayangkan kota kecil tersebut kembali cerah, dipenuhi dengan rasa nyaman dan aman serta dinaungi dengan kebaikan. Mereka bukan hanya sekadar menjadi penonton semata, melainkan juga menjadi bagian dari gerakan perubahan tersebut. Dengan tekad bulat, Arif yang diamanahi oleh Kiai Hasan melangkah penuh yakin ke hadapan, memulai kampanye untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya berpolitik dalam arti sejati. Mereka berkumpul, bersinergi menyusun strategi, dan menggalang dukungan dari berbagai eleman masyarakat.

Tak lama kemudian, suara mereka pun mulai terdengar. Diskusi-diskusi publik digalakkan, seminar-seminar guna meningkatkan kesadaran moral digelar, dan petisi untuk menutup lokalisasi tersebut digaungkan dan tersebar luas. Bukan hanya pemuda, melainkan juga para ibu, bapak, dan tokoh-tokoh agama pun juga turut hadir dalam gerakan ini.

Langkah perjuangan mereka tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi setiap langkah kecil yang mereka lakukan membawa harapan baru untuk kota kecil tersebut. Ribuan fatwa haram masih terdengar dengan samar, tetapi satu tanda tangan penutupan tempat haram tersebut menggema lantang sebagai simbol kepedulian dan perubahan.

Pada akhirnya, ketabahan dan kesungguhan mereka membuahkan hasil. Setelah perjuangan yang panjang, pemerintah setempat akhirnya mengambil langkah tegas untuk menutup lokalisasi yang telah menjadi sumber keburukan bagi kota kecil mereka. Arif hadir sebagai pemimpin dan pimpinan kota tepilih berbekalkan keikhlasan dalam mengabdi kepada masyarakat serta mengembalikan marwah kebaikan dalam bermasyarakat. “Percayalah, pada setiap kebaikan selalu ada uluran rahmat Allah untuk mengiringinya. Mungkin ini telah menjadi garis tanganmu, Arif. Garis tangan yang mengantarkanmu pada sebuah niat baik yang tertunaikan bermodalkan tanda tangan kebaikan yang selalu kau perjuangkan. Inilah campur tangan Allah dalam mendukung niat baikmu. Kini, kau telah paham makna dari garis tangan, campur tangan, dan tanda tangan yang sebenarnya,” pesan Kiai Hasan kepada Arif.

Kota kecil tersebut perlahan mulai berseri kembali menyiratkan kebaikan dan kedamaian. Arif yang didukung oleh Kiai Hasan bersama dengan para pemuda dan masyarakat yang berjuang bersama mereka, mengukir jejak kebaikan yang tak terlupakan dalam sejarah kehidupan kota kecil yang mereka cintai tersebut. Mereka membuktikan bahwasanya seorang muslim tak selayaknya berdiam diri dalam menyikapi kebatilan karena berpolitik bukan hanya tentang urusan kekuasaan, tetapi lebih dari itu juga panggilan moral yang harus diemban demi kebaikan bersama.

Potongan Surga

Potongan Surga

 

Tiada yang lebih tenang selain pandangan sepasang mata itu ke danau yang ada di hadapannya. Matahari sudah akan pamit pulang di ufuk barat, tetapi ia masih terpaku duduk sendiri di bawah pohon mangga yang rindang seraya mendekapkan kepalanya di atas pangkuan tangannya sendiri. Remaja berusia tujuh belas tahun itu selalu menyuguhkan kecenderungan untuk berkhayal, terutama mengenai hidup dan kehidupan. Hari itu, bayangan awan yang bergerak perlahan di langit biru pun memicu imajinasinya. Dia merasa seakan ada pesan tersirat di dalam imajinasinya itu.

Adam menutup matanya dan membiarkan dirinya terbawa dalam khayalannya. Desir dedaunan yang gugur tak mampu mengusik kekhusyukan khayalannya. Khayalan yang memboyongnya pergi ke dunia yang tak pernah ia yakini kepastian keberadaannya. Sebuah tempat tak terikat oleh batas ruang dan waktu. Tempat tentang segala hal terasa lebih nyata daripada dunia nyata itu sendiri.

Adam berusaha melangkah dengan yakin. Melangkah di atas permukaan yang tampaknya terbuat dari cahaya. Dia menyaksikan sembari melongo keindahan yang tak terungkapkan itu. Bunga-bunga yang bersinar dengan warna-warni yang belum pernah ia lihat di tempat ia berpijak selama ini, pepohonan yang bernyanyi dengan merdu, dan sungai yang mengalir dengan air yang bersinar bak kristal.

Tiada rasa sakit atau penderitaan di sana. Hanya kedamaian yang menyelimuti setiap sudut. Adam bertemu dengan orang-orang yang pernah meninggalkannya di tempat bernama dunia ini. Mereka mengukir senyum kepadanya dengan indah, memberinya kehangatan yang ia rasakan hingga menyerbu ke dalam relung jiwanya.

Tiada kata-kata yang pantas untuk menggambarkan tempat ini, namun segala sesuatu terasa dipahami tanpa perlu diucapkan. Adam merasakan kebebasan yang tak terbatas, dia terbang menyisiri langit dengan sayap yang terasa ringan. Setiap kali dia menengadahkan wajahnya ke langit, dia merasakan kehadiran yang lebih besar dari dirinya sendiri. Namun, di tengah keindahan dan ketenangan tersebut, ada sesuatu yang memanggilnya kembali. Sebuah getaran halus namun kuat yang membawanya kembali ke tepi danau sebelumnya. Adam membuka matanya, kembali ke hidup dan kehidupan yang ia anggap tidak nyata. Kenyataannya, ia berada di dunia nyata yang akrab dengan realita. Realita tentang kekaguman dan kerinduan akan momen-momen dalam khayalannya. Dia merasa tertantang untuk mengubah dunia ini sedikit lebih seperti imajinasinya. Imajinasi tentang jawaban atas pertanyaan, bagaimana bisa dia membagikan keindahan dan kedamaian yang dirasakannya dalam khayalannya kepada orang lain? Bagaimana bisa dia membantu menciptakan sedikit ceruk surga di bumi ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tak pernah ia pahami jawabannya.

Dia mengangkat batu kecil dan melemparkannya ke danau. Deru ombak kecil menyebar di permukaan air yang tenang, memantulkan sinar senja yang memukau. Itu membuatnya tersadar. Seperti batu yang memecah kesunyian danau, mungkin kebaikan dan kasih yang dia sebarkan akan menjadi gelombang ombak kebaikan yang lebih besar di dunia ini.

Adam berdiri, langkahnya mantap dan yakin ketika dia memutuskan untuk membawa momen-momen damai dari khayalannya ke kehidupan nyata. Dia ingin berbagi kebaikan dan kedamaian, membangun istana surga kecil di sekitarnya dengan langkah sederhana yang dia lakukan setiap hari. Mungkin, dengan menanam banyak kedamaian, kebaikan, dan pemahaman di antara sesama, dia dapat sedikit demi sedikit menciptakan potongan surga yang ia impikan.

Kini, Adam paham betul apa yang diajarkan oleh gurunya bahwasanya ketika kita mati, kita akan terbangun bahwa hidup ini adalah mimpi. Adam memetik hikmah bahwa kehidupan setelah mati bukan hanya tentang akhirat saja, tetapi juga tentang cara kita menjalani hidup kita di dunia ini. Dengan tekad yang kuat dan hati yang penuh cinta, dia yakin bahwa setiap orang dapat membawa sedikit dari surga ke dalam hidup mereka dan hidup orang lain sebagai bekal tiket masuk menuju surga-Nya.

Pernah

Pernah

 

Pernah. Sebuah kata biasa dengan kekuatan yang luar biasa. Tentang kata yang mengandung makna dan pengalaman yang tak terhitung jumlahnya. Ada begitu banyak cerita, realita, fakta, hingga cinta dan lainnya yang terkandung di balik kata tersebut.

“Apakah kamu pernah berdagang sebelumnya, Ris?” tanya Ayah kepada anaknya.

“Belum, Ayah. Kini, aku mengerti kalau tak seharusnya aku tak menghiraukan nasihat, Ayah,” jawab Aris dengan menyesal.

“Aris ... Ayahmu mengenal persis gagal dalam berdagang, saat kamu belum mengenal sukses dalam berbisnis,” seru Ayah dengan memotivasi Aris.

“Apa yang harus aku lakukan, Ayah?” tanya Aris dengan penuh harap.

Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Kata 'pernah', Aris. Itulah kunci untuk menjawab pertanyaanmu.”

“Apa yang ayah maksud dengan 'pernah', Ayah?” tanya Aris bingung.

“Pernah adalah sebuah kata yang mengingatkan kita tentang keterbatasan dan keunikan pengalaman hidup. Kegagalan yang kamu alami adalah bagian dari perjalananmu menuju kesuksesan. Setiap orang pernah mengalami kegagalan, tapi yang membedakan adalah bagaimana mereka merespons dan belajar darinya,” jelas Ayah seraya menyeruput kopinya.

“Kamu boleh berbangga pernah berkuliah di kampus ternama dan lulus dengan gelar sarjana dengan predikat terbaik atau apa saja sebutannya, tapi yakinlah bahwa menurut ayah, sesungguhnya kamu masih belum menyelesaikan belajarmu sebelum kamu memahami makna kata 'pernah',” lanjut ayah seraya tersenyum tipis.

Aris mulai memahami makna kata 'pernah' yang diceritakan oleh sang ayah. Ia menyadari bahwa seharusnya ia belajar tentang mengalami suatu hal, sebelum menjadikannya menjadi kata bermakna luar biasa bernama 'pernah'. Kata yang dapat dipahami maknanya hanya lewat proses mengalami. Bukan hanya proses mengalami pada diri sendiri, tetapi bisa juga proses mengalami orang lain yang dijadikan sebagai pemahaman pengalaman pribadi. Benar kata ayah bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi akhirnya segalanya seharusnya kita belajar dari kegagalan.

“Ingatlah selalu, Anakku, bahwa pernah adalah aksi dari sebuah 'akan' dan reaksi dari sebuah 'sedang'. Jadi, belajarlah dari kata pernah yang hanya dapat kamu pahami maknanya hanya dengan mengalaminya sendiri,” tukas Ayah seraya menepuk pundak putra sulungnya tersebut.

Tangisan Nasi

Tangisan Nasi

Siapa sangka, kalimat sederhana itu justru membuatku babak belur dan ingatanku terbentur kenyataan dengan keras. Aku benar-benar terkulai tak berdaya meratapi penyesalan yang tak pernah ku pahami maknanya. Makna hidup yang sebelumnya aku telah diingatkan akan sebuah kenyataannya, yang kala itu masih menjadi imajinasiku. Kini, semuanya telah menjadi kenyataanku, sekaligus juga tetap menjadi kenyataannya. Kenyataan yang bermula dari sebuah peristiwa yang biasa disebut de javu.

Tak ada yang menyangka dan percaya kalau aku kini harus terkapar lesu menghadapi tamparan sangkaan yang sebelumnya tak kupercaya adanya. Kalimat itu menjadi guru terbaik yang mengulurkan tangannya untuk mengajariku tentang sebuah keadaan yang tak diinginkan siapapun namun menyiratkan makna mendalam tentang inilah hidup.

Aku selalu meremehkan kisah ayah yang selalu mengagungkan kenyataan yang dihadapinya. Memaksaku menerima kenyataan yang sebenarnya bukan menjadi kenyataanku. Ayah selalu sambat kepadaku tentang hidup dengan dalih mengajariku untuk menerima kenyataannya. Mengajariku tentang kenyataan yang mungkin bisa jadi kenyataanku pula di masa yang akan datang. Namun, kenyataannya justru kenyataan itu hanya kuanggap bualan yang tak penting untuk disikapi secara penting.

Percuma untukku memutar kembali waktu yang telah berlalu. Aku terlalu naif untuk menerima semuanya. Kebodohan masih saja akrab menjadi pesonaku, khususnya sebagai manusia dewasa yang tak pernah dewasa dan didewasakan oleh waktu. Aku benar-benar berterima kasih kepada ayah yang sekarang telah membangunkanku dari imajinasiku. Meskipun, ia telah terlelap dalam tidurnya saat ini.

Sekarang, aku bersiap menggantikan peran ayah menjadi ayah untuk sebuah status yang dulunya kuanggap pecundang. Pecundang hidup yang tak bisa memperbaiki kenyataan kehidupan. Mulai sekarang, aku akan memulai berbohong kepada diriku sendiri bahwa aku mampu memainkan perannya. Hal itu adalah hal yang sangat mengerikan ketika aku tidak mau tapi dipaksa mengakui keadaan bahwa apa yang dulunya ia katakan adalah kebenaran. Kalimat sederhana yang membenarkan bahwa aku salah. Kalimat sederhana berlantukan, “Nak, kalau makan nasinya dihabisin ya, nanti kalau gak habis nasinya nangis,” ujar sang ayah kala mengingatkan anaknya itu.