Membumi Tanpa Melangit

 

Di bagian bumi yang akrab dengan keguyuban warganya, hadir seorang anak bernama Nando yang dengan sifat langitnya merasa bahwa dirinya lebih pintar dan hebat daripada semua warga, tak terkecuali Pak Hartono, seorang lelaki beruban dan berbadan kurus yang dikenal bijak oleh warga. Pada sebuah pertemuan di balai desa, Nando dengan bangga mencoba menunjukkan betapa pintar dan hebat dirinya dengan membantah gagasan-gagasan Pak Hartono secara terbuka. Nando merasa jemawa karena tidak sedikit teman seusianya yang hadir pun turut tertawa meramaikan ejekan tersebut.

Di lain waktu yang berbeda, Nando tampak merenung kala ia secara tidak sengaja mendengar diskusi antara Pak Hartono dan ayahnya. Ternyata, Pak Hartono bukan hanya bijak tetapi juga loyal dan berdedikasi dalam membantu warga. Nando merasa malu karena sikapnya yang melangit justru malah membuatnya terkubur dalam penyesalan. Keesokan harinya, Nando menemui Pak Hartono untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Pak Hartono dengan rendah hatinya pun menyambut permintaan maaf itu seraya mendaratkan pelukan disertai iringan nasihat bijak kepada Nando tentang pentingnya menghargai sesama.

Kini, Nando belajar arti dari menghargai pengetahuan dan pengalaman orang yang lebih tua. Ia menjadi pribadi yang membumi dan seakan terlupa untuk melangit. Ia tidak lagi melangit hanya untuk mengejar pengakuan orang lain, tetapi ia membumi untuk membuka diri belajar dari orang-orang di sekitar dan menjadi seseorang yang bijak serta sadar akan perannya sebagai mahkluk yang memang hidup di bumi dan selayaknya memiliki sifat membumi.