Tamparan Harapan

 

“Kenapa nilai kamu hanya dapat tujuh saja? seharusnya, kamu bisa lebih baik dari ini, Kak,” celetuk sang ayah kepada anaknya dengan kecewa setelah menerima rapor.

Sang ayah tampak murung menerima kenyataan yang menertawakannya. Bukan tanpa alasan, melainkan sang ayah benar-benar menaruh harapan tinggi kepada putra tunggalnya tersebut. Melangitkan harapan untuk dapat mengantarkan sang anak ke perguruan negeri ternama guna memupuk asa menjadi manusia yang lebih baik dari dirinya. Fakta pahit justru menghinanya, Rangga malah menyuguhkan kekecewaan yang tak diharapkan ayahnya dalam menjawab asa yang membumbung tinggi tersebut.

“Jika Kakak seperti ini terus, lantas mau jadi apa Kakak nanti. Apa Kakak mau jadi seperti tukang becak itu? yang tidak berpendidikan, tidak pintar, tidak bermoral, dan tidak memiliki masa depan,” olok sang ayah seraya melemparkan pandangannya kepada tukang becak yang ada di seberang jalan tersebut.

Keduanya lantas menaiki mobil untuk bergegas pulang. Namun, belum sampai menyusuri ujung jalan, mobil tersebut justru mogok tanpa sebab yang pasti. Sang ayah mencoba mengecek kap mobil bermodal insting. Segerombolan kabel dan mesin yang berjajar serta bertumpuk, cukup membuat insting sang ayah semrawut terhadap apa yang harus dilakukannya. Maklum, sang ayah bukanlah ahli mesin, ia benar-benar buta masalah mesin. Rangga yang juga tidak tahu-menahu masalah permesinan hanya bisa terpaku meratapi nasib di bawah bayang-bayang terik matahari.

“Kenapa dengan mobilnya, Pak?” sapa tukang becak tadi yang kebetulan sedang lewat untuk mencari penumpang.

Sang ayah terlihat kaget, kemudian hanya memasang wajah lesu meratapi mobilnya yang mogok tersebut. Ia seakan tidak percaya dengan kehadiran si tukang becak secara tiba-tiba yang tadinya jadi bahan olokan untuk Rangga.

“Entahlah … tiba-tiba saja mogok. Saya juga tidak tahu,” ujar ayah dengan memelas.

“Barangkali bisa saya bantu cek ya, Pak, semoga saja saya bisa bantu,” jawab tukang becak dengan logat yang khas.

Sang ayah hanya mengiyakan bantuan tukang becak tersebut dengan raut muka seakan meragukan. Logikanya pun berbisik bahwa tukang becak tersebut hanya ingin mencari muka saja. Berani menantang ketidakmungkinan.

“Bisa dicek starter, Pak. Semoga saja bisa,” ungkap tukang becak dengan lembut.

Bagai petir di siang bolong, mobil tersebut seketika menyala.

“Bagaimana mungkin?” tanya ayah kepada tukang becak.

“Anggap saja ini hanya sebuah kebetulan saja, Pak. Alhamdulillah!” jawab tukang becak dengan lembut.

Kebetulan tersebut seakan memutarbalikkan ketidakmungkinan dalam logika ayah menjadi sebuah kemungkinan yang nyata. Tukang becak tersebut seakan menyindir ayah tentang perihal segala kemungkinan adalah hal yang mungkin. Wajah sang ayah pun seketika tertampar kenyataan melihat unjuk bakat yang disuguhkan tukang becak tersebut. Kenyataan merobohkan anggapannya terhadap kebodohan dan hal buruk lainnya yang selalu identik dengan pekerjaan seseorang. Rangga yang melihat ekspresi sang ayah yang memerah itu menyambutnya dengan senyum tipis seraya bergumam dalam hati bahwa ayahnya telah kalah telak. Parahnya lagi, tukang becak tersebut membuktikan kemampuan kebetulannya dan kerendahan hatinya dengan menghargai terima kasih dari sang ayah dengan meninggalkan sang ayah dan Rangga seketika.

“Ayah … sepertinya ucapan ayah benar. Dia benar-benar orang yang buruk, bahkan memperlakukan ayah dengan sangat buruk,” sindir Rangga kepada ayahnya. Sang ayah hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya.

Tangisan vs Lamunan

 

Tumbuh dewasa memanglah membingungkan. Menghabiskan banyak waktu hanya demi bermain-main dengan logika. Bukan merayakan kebebasan hidup yang tanpa arah, melainkan menemukan sebuah alasan untuk tujuan hidup yang terkadang sulit untuk dipahami. Aku benar-benar babak belur dihajar kenyataan. Kenyataan yang berusaha kujalani dengan sabar dan kunikmati dengan tabah.

“Tolong jangan pergi, Kak!” ucap rintihan sang adik kepada kakaknya yang hendak untuk mengadu nasib ke kota. Tangisan tersebut terasa begitu sempurna membuat ragu hati untuk membatalkan kepergian manakala dihiasi dengan wajah mewek yang diselipkan ibu dalam upayanya menyembunyikan kesedihannya. Kubangun rasa yakinku berbekal lamunan setiap malam ayah yang bingung dalam menyambung hidup hari esok. Teriakan perut lapar yang lesu untuk diganjal, sindiran salam sapa tagihan tunggakan SPP sekolah yang berkirim surat, hingga cacian bayar utang yang merongrong sembari menggedor pintu rumah setiap hari. Alasan itulah yang merobohkan keraguan atas tangisan adik dan ibu demi memilih berpihak pada perjuangan lamunan ayah.

Kelanaku menjawab kebenaran pilihanku. Kebenaran mencari tahu makna dari tangisan versus lamunan. Aku sadar bahwa jawabannya hanya ada pada langkah pilihanku. Pembuktian tindakan terhadap permainan logikaku. Bekarya mengais pundi-pundi harapan. Tidak cukup banyak tetapi cukup banyak membuatku banyak-banyak merasa cukup. Setidaknya kini aku mampu membuat keluargaku hidup. Sekalipun tak mampu mengantarkan pada kehidupan yang senang dan tenang, namun mampu mengakali tangisan dan lamunan keluargaku untuk mencoba mengenal sedikit tentang senyuman. Aku hanya mampu memungut hikmahnya sembari menikmati pembagian takdir dari Tuhan ini.