Matahari & Bulan

Matahari & Bulan

Mengapa matahari dan bulan tak pernah bersatu? Bukankah Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan dan menjadikannya bersatu untuk saling melengkapinya seperti layaknya laki-laki dan perempuan? Jika memang demikian, tak seharusnya Tuhan memisahkan keduanya dan menyalahi kodratnya sebagai sepasang ciptaannya yang seharusnya bersatu dalam ikatan kemesraan. Pertanyaan tersebut seakan menghakimi kuasa Tuhan yang tahu persis tujuan penciptaannya. Dulu, keyakinan yang teguh diagungkan, kini kenyataannya menjadi bimbang yang mengundang peperangan hati dan logika.

Siapa bilang matahari dan bulan tak bersatu? Justru karena mereka selalu bersatu hingga mereka terkadang lupa bahwa sebenarnya mereka selalu menghabiskan waktu mengukir kisah sepanjang hari di langit Tuhan. Mereka memang dipisahkan oleh jarak dan waktu, namun tak berarti tak saling melengkapi. Apakah kau malah tak khawatir jika keduanya selalu berjalan bersama sepanjang hari? Bukankah dunia akan kacau balau dengan banyaknya cahaya yang terpancar secara bersamaan. Manusia akan kesulitan membagi waktu bekerja dan istirahatnya, hewan pun juga akan kebingungan menentukan waktunya untuk mencari makanan dan menghangatkan tubuh, tumbuhan akan panik menentukan masanya untuk berfotosintesis, bahkan dunia pun akan semrawut dengan ketitdakjelasan waktu hidup yang tiada batas.

Matahari dan bulan sejatinya hadir untuk saling melengkapi perjuangan mereka dalam membantu kita untuk memahami sebuah kehidupan. Kehidupan yang sebenarnya manakala keyakinan akan sebuah argumentasi bermaknakan bahwa setiap hal diciptakan secara berpasangan. Meski diciptakan secara berpasangan, setiap ikhwal tentunya tak luput dari kodrat tugasnya dalam berbagi peran. Matahari bertugas berkelana di langit yang terang, sedangkan bulan bertugas mengembara di langit yang kelam. Di taman langit yang terang, matahari bersinar cerah dengan teriknya. Namun, ketika langit menghitam karena malam, tibalah matahari untuk menyingkir dan memberikan kesempatan kepada bulan berkilau bahagia dengan pesonanya di malam hari.

Inilah cinta sejati. matahari dan bulan yang saling mencintai dengan bentuk yang berbeda. Mereka saling membebaskan satu sama lain. Memainkan perannya sesuai kodrat illahi. Mereka memahami betul bahwa cinta adalah milik semesta. Cinta lebih indah bila tidak saling memiliki karena pada hakikatnya semua hal adalah milik illahi. Mereka mencintai semesta ini sesuai sabda illahi bahwa menerangi setiap sudut bumi adalah takdir hidup mereka. Mereka melakukannya dengan saling berbagi satu sama lain. Matahari memancarkan cahaya dan bulan bertugas memantulkannya.

Kini, dari berbekal ilmu, aku telah belajar bahwa ada sesuatu yang tak dapat dipaksakan layaknya matahari dan bulan. Mungkin benar adanya, sepandai apapun kita berdebat menghakimi matahari dan bulan yang tak pernah bersatu, maka kebenaran yang hakiki yang harus dipahami adalah bahwa mereka tak ditakdirkan untuk berpelukan. Mereka hanya dipersatukan lewat kodrat mereka untuk saling melengkapi. Tak ada perbandingan yang sepadan antara takdir kita dengan hal yang lain. Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan, mereka bersinar saat waktunya tiba, sesuai jalan cinta mereka yang telah dititahkan sang illahi. Inilah tiga hal yang tak dapat kita elakkan kebenarannya: matahari, bulan, dan kebenaran itu sendiri.

Monolog Cinta

Monolog Cinta

Semua berawal dari pengandaian. Tentang dialog jiwa, antara aku dan kenyataan ini. Akan butuh waktu lebih dari sekadar kata melelahkan dan membingungkan untuk menjawabnya. Bahkan penyair pun mungkin hanya bisa menerka-nerka tanpa tahu kebenarannya.

Malam itu langit bertabur tanda tanya, tentang ini dan itu. Hari esok yang harus kupikirkan. Butuh waktu satu semester bagiku untuk belajar tentang puisi. Butuh waktu lebih lama untukku bisa menulis indahnya puisi. Tapi sayang, ketika aku sanggup menulisnya, aku tersadar bahwa aku hanya menulis segerombolan kata-kata indah tanpa memahami artinya.

“Mengapa harus puisi?” batinku.

Siapa lagi yang bisa menjawabnya kalau bukan diri ini. Banyak persepsi saling adu argumen untuk memahami makna puisi. Hakikat puisi.

“Siapa yang benar?” gumamku.

Tanyakan pada orang yang jatuh cinta, tanyakan pada orang yang menangis, tanyakan pada orang yang kritis, tanyakan pada orang yang patriotis, tanyakan pada orang yang religius, tanyakan pula pada orang-orang lainnya. Jawabannya cuma satu, aku pun juga tidak tahu.

Malam itu langit bertabur tanda tanya, tentang ini dan itu. Hari esok yang harus kupikirkan. Butuh waktu satu semester bagiku untuk belajar tentangnya. Dia. Butuh waktu lebih lama untukku memahaminya. Tapi sayang, ketika aku mengenalnya, aku melupakannya kalau aku belum memahaminya.

“Siapa dia?” gumam hatiku.

Ku tanyakan pada pikir ini, hati ini, jiwa ini, rintihan ini, kesedihan ini, dan ini-itu lainnya. Jawabannya cuma satu, cukup aku yang tahu.

Lebih dari inspirasi, motivasi, dan apapun itu. Dia. Yang telah membangunkanku dari kelamnya malam, yang telah membangkitkanku dari kuburan senyuman, dan yang telah mangantarkanku pada sebuah kisah. Cinta.

Entah ini sebuah prolog atau epilog tentang kisah ini ditulis. Di sini … aku masih berdiri sendiri sembari memikirkan skenario yang akan ku mainkan. Menantikan sang sutradara memberikan aba-aba untukku memulainya. Ternyata ... aku hanya sebagai monolog yang berkisah dari sudut pandang orang ketiga.

Harap-cemas peran ini ku nantikan untuk berakhir, karena aku terlalu lelah untuk semua ini. Ketidakadilan yang harus ku pahami artinya lebih dari sekadar kata adil untuk orang lain. Ia ibarat angin yang terkadang menyejukkanku dengan gemulai tariannya, namun terkadang pula ia bertiup cukup kencang hingga buatku terkapar jatuh dalam ketidakberdayaan. Entahlah … aku tak tahu pasti apa yang akan terjadi, tapi sang penyair tahu pasti tentang apa yang akan terjadi.

Selalu kutanamkan cinta ini dalam waktuku. Aku tak ingin rasa ini sirna begitu saja terhempas kesunyian, karena bagiku ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ini sebagai antiklimaks pertanda kisah ini akan berakhir, walaupun sebenarnya waktu ini hampir habis terkikis deru air mata.

Seuntai kata darinya cukup untuk menghangatkan jiwa ini dan menyenyakkan tidurku. Tersirat maupun tersurat. Terkadang aku lupa caranya tersenyum, namun dia mengajarkanku tentang cara tersenyum lewat senyumannya, meski terkadang pula seuntai kata darinya mampu menenggelamkanku dalam kepekatan. Kepekatan malam yang dengan paksanya mengusir pagiku dengan kesedihan. Karena aku memang tak tahu, apakah aku harus bersedih atau tersenyum?.

Kalau sudah begini, aku hanya bisa bergegas melapor kepada “Sang Penyair”, tentang perjalanan ini dititiskan kepadaku. Aku selalu berharap, berharap, dan berharap sang penyair merevisi skenarionya. Memberiku kesempatan untuk memainkan skenarionya bersamanya, namun bukan sebagai cerita melainkan realita.

Bukan tentang apa kisah ini ditulis, tapi untuk apa kisah ini tertulis.

“Percayakah?” renungku.

Akan butuh perjudian hati untuk menjawabnya. Percaya atau tidak percaya adalah jawaban yang objektif untuk menyikapinya. Mungkin terlalu muda bagiku untuk mengatakan “mudah”. Padahal aku hanya berharap,”mudah-mudahan semuanya mudah”.

Bukan pelarian, tapi aku hanya ingin berlari.

“Salahkah?” renungku.

Mungkin aku tidak tahu jawabannya, tapi sesungguhnya hanya ada satu alasan tepat untuk menjawab semua ini. Semua tentang kita. Semua tentang kita yang hanya sekadar cerita. Cerita cinta yang ku pasrahkan pada waktu untuk mengungkapnya. Dan dia memang benar, ”berlari sendirian itu melelahkan”. Mungkin inilah sebuah kebenaran yang paling benar.

Aku selalu mengingatnya, kata-kata yang menuntunku pada semua ini. Apa adanya. Bukan apa-apa atau pun ada-ada saja, tapi tentang kisah ini berawal ku tulis dan tertulis.

Andai semua ini bukan pengandaian. Takkan ada hari ini yang akan ku anggap sebuah kenangan, karena aku akan selalu bilang, “inilah kenyataan”. Dan semuanya akan terangkai dan terbingkai dengan manis dalam alurnya.

Mencintai cinta membutuhkan keyakinan untuk memulainya, karena ketika cinta telah mencintai cinta jangan pernah untuk mengali atau membaginya, seperti angka yang selau bimbang dengan akhirnya. Bahkan tukang foto pun seakan dibodohi dengan fiksi dengan menganggapnya kalau ini adalah sebuah kenyataan. Kenyataan tentang 3x4 = 700, 4x6 = 1000, dan kenyataan-kenyataan lainnya yang tak pernah ku terpikirkan kebenarannya. Entahlah, sulit tuk ku mengerti semua ini.

“Dan lagi, siapa yang salah?” bimbangku.

Dan aku hanya bisa menyalahkan keadaan yang sesungguhnya tak tahu apa-apa tentang sesuatu yang telah terjadi. Tentang kenyataan yang harusnya aku tahu bahwa inilah kebenaran. Kebenaran sejati yang tak pernah mengada-ada.

“Lalu apa yang harus ku lakukan selanjutnya?” tanyaku kembali pada hati yang bimbang.

Aku tahu atau aku hanya sok tahu. Mungkin ini cuma sebuah teoretis di atas karya tulis, atau filosofis? fanatis? pragmatis? atau realistis? tanyakan pada is …, is … lainnya. 

Walau aku tak pernah tahu apa yang dia mau. Yang ku tahu hanyalah, “Terkadang orang terlalu angkuh untuk mengakui cinta. Padahal yang harus disiapkan ketika kita jatuh cinta hanyalah satu. Menyiapkan hati untuk terluka”, mungkin dia tahu.

Hukuman Sang Guru

Hukuman Sang Guru

“Inilah hukuman untukmu yang tidak patuh terhadap tata tertib sekolah,” ujar sang guru kepada muridnya yang tertidur di kelas kala gurunya mengajar tersebut.

Seisi ruangan pun tak luput menertawakan Joko. Meskipun cubitan Pak Imam membuat lengan Joko memerah, namun ia hanya mampu bergeming dalam hati saja. Joko hanya bisa tertekur sembari menanggung malu dan jengkel.

“Anak-anak, satu hal yang perlu kalian pahami adalah bahwa disiplin adalah investasi antara harapan dan kesuksesan. Semua kesuksesan pasti berawal dari diri kalian sendiri. Yakinlah bahwa penderitaan karena disiplin lebih baik daripada penderitaan karena penyesalan,” tukas Pak Imam dengan bijak menasihati seisi ruang kelas.

            Mendengar nasihat gurunya tersebut, Joko seakan tertampar hingga akhirnya menaruh dendam kepada guru PPKN tersebut. Pasalnya, ia merasa dipermalukan oleh gurunya tersebut, meskipun kenyataannya, Pak Imam tak ayal hanya ingin melihat anak didiknya menjadi pribadi yang berkarakter.

***

“Ini berkas perkaranya, Pak,” ujar seorang petugas kejaksaan kepada hakim sedari memberikan sekumpulan berkas perkara.

Ketika sang hakim mempelajari berkas perkara tersebut, ia terkejut bukan kepalang. Bukan tanpa alasan, melainkan ia terpaku pada sebuah nama yang menjadi tergugat serta perkara yang menjerat si tergugat tersebut. Ya, ia seakan akrab betul pada figur yang menjadi tergugat dalam perkara yang akan ia adili tersebut. Ia mencoba meyakinkan diri untuk tidak percaya pada kenyataan, namun kenyataannya, semuanya memang bukannya khayalan. Inilah kenyataan yang nyata.

Joko yang kini sebagai seorang pengadil harus menerima kenyataan pahit mengadili gurunya sendiri. Tebersir impian balas dendam kepada Pak Imam, sang guru yang dulunya ia nantikan seakan memberinya kesempatan untuk melunasi dendam tersebut. Ia ingin mengajari gurunya arti disiplin yang sebenarnya kepada Pak Imam yang dulunya mengajarinya tentang disiplin.

Ya, Pak Imam tersandung kasus telah melakukan kekerasan kepada seorang murid dengan dalih menghukum muridnya. Ia dilaporkan wali muridnya sendiri yang merasa tidak terima atas perlakuan Pak Imam kepada anak penggugat lantaran anaknya dicubit karena tertidur di kelas. Perkara tersebut berlanjut hingga ke pengadilan. Bahkan, perkara tersebut mengundang perhatian media untuk mengangkatnya sebagai berita yang menarik perhatian publik.

***

“ … dengan ini menyatakan bahwa terdakwa bernama Imam Bukhari dinyatakan ….” ujar sang hakim sembari membacakan hasil putusan.

Semua orang tampak tertegun menanti putusan sang hakim, termasuk lembaga dan organisasi masyarakat terkait yang turut mendukung Pak Imam sebagai bentuk solidaritas terhadap profesi guru.

“ … bebas!” lanjut sang hakim meneruskan membacakan hasil putusan.

Sontak, Pak Imam pun seketika melangitkan syukur sembari menengadahkan tangannya dan melanjutkannya dengan bersujud sebagai bentuk syukur kepada Allah atas keadilan yang ditunjukkan kepadanya. Joko, sang hakim yang mengadili perkara tersebut tampak semringah dan senang terhadap putusan yang dibacakannya. Bukan karena dirinya yang dulunya mantan murid dari Pak Imam hingga akhirnya menuntunnya untuk membela Pak Imam, tetapi lebih dari itu karena bukti-bukti, saksi-saksi, dan dukungan-dukungan dari banyak pihak yang turut membuktikan bahwa keadilan sudah selayaknya tidak akan pernah memenggal kepala orang yang tidak bersalah.

Usai hasil vonis bebas dibacakan, Pak Imam beserta rombongan yang turut mendukungnya pun segera meninggalkan ruang meja hijau. Namun, ketika di luar pengadilan pun cerita balada mulai mengemuka. Joko, sang hakim, bergegas meninggalkan tempat duduknya di meja hijau sembari mengejar Pak Imam untuk menemuinya.

Assalamualaikum, guruku!” sapa Joko, sang hakim, dengan mencium tangan Pak Imam.

Pak Imam yang seorang guru SMA itu pun terkejut dengan tindakan sang hakim. Namun, belum usai Pak Imam berlarut-larut terhadap keterkejutannya tersebut, sang hakim mengatakan,

“Inilah hukuman yang ku berikan kepadamu, Guru,” terang Joko kepada Pak Imam.

Masih terpaku pada maksud sang hakim, sang hakim pun meneruskan perkataannya,

“Inilah hukuman untuk engkau yang selalu mengajarkan kedisiplinan kepada para murid,” tambahnya sembari tersenyum.

“Masih ingatkah dengan saya, Pak? Mungkin Bapak lupa, tetapi saya selalu ingat Bapak. Saya adalah korban didikan kedisiplinan Bapak. Saya mantan murid Bapak angkatan tujuh. Saya Joko, Pak. Murid IPS,” terang Joko kepada sang guru dengan penuh bangga.

“Masya Allah, saya ingat sekarang. Kamu yang dulu sering tertidur di kelas kan?” jawab sang guru dengan sedikit meledek sembari mencubit manja mantan muridnya tersebut.

“Aduh, sakit, Pak! Ampunnn!!!” canda Joko dengan penuh tawa.

Seketika suasana yang awalnya penuh ketegangan, seakan telah mencair. Media yang turut hanyut dalam suasana tersebut, seakan terenyuh mengetahui nostalgia dan keakraban keduanya sebagai mantan murid sekaligus hakim dengan sang guru sekaligus tergugat.

“Saya mengerti benar bahwa cubitan guruku tak ayal bukanlah sebuah kekerasan. Cubitan itu tidak menyebabkan sakit atau bahkan tidak melukai, melainkan sebuah bentuk kasih sayang yang bermakna pendidikan untuk murid-murid belajar tentang menjadi pribadi yang berkarakter melalui disiplin,” ungkap Joko kepada media dengan tegas.

“Kini, kalian telah melihatnya sendiri bahwa cubitan gurukulah yang mengantarkanku menjadi orang yang yang seperti kalian lihat sekarang ini,” imbuhnya dengan merangkul sang guru dengan penuh bangga.

Dengarlah

Dengarlah

 

“Lihatlah kenyataan, tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai rencana di dunia ini, begitu pun rencanamu. Kamu telah lama hidup dan kini kamu menyadari bahwa yang ada hanya kefanaan yang abadi. Ke mana pun kamu melihat dunia ini, kamu akan paham bahwa di mana ada bayangan ditemukan, di situ pasti akan selalu ada cahay,” ujar sang guru kepada Andre.

Andre pun tak kuasa menahan air matanya sembari menundukkan pandangannya ke meja kayu tersebut.

“Jangan menangis anakku, aku di sini datang untuk membawa kabar gembira untukmu,” seru sang guru dengan memotivasi siswanya yang dikenal pembangkang tersebut.

“Iya, Pak,” gumam Andre dengan berat menahan isak tangisnya.

“Kamu dinyatakan lulus oleh sekolah, anakku, meskipun kenyataannya kamu bergelut dengan kesalahan yang menghukummu di tempat berbeda. Sekolah tidak ingin menambah beban hukumanmu lebih dari ini, melainkan sekolah ingin melihatmu lulus dengan memahami sesuatu, terlebih apa yang dapat kamu pelajari dari hadiah yang sekolah berikan ini,” tegas sang guru sembari menebar senyum ke Andre.

Andre pun berusaha menutupi rasa malunya kepada sang guru, meskipun sebenarnya dia merasa sedikit bahagia dengan kabar yang disampaikan gurunya tersebut. Setidaknya, dia merasa bahwa dia masih memiliki masa depan, meskipun bayang-bayang masa lalu dan masa kini ini menggelapkan ambang pintu masa depannya.

***

“Jika kalian berduaan di tempat yang sepi, maka orang ketiganya pastilah setan,” tegas Pak Arif ketika menjelaskan materi zina kepada siswa-siswi.

“Sebuah hadist mengungkapkan bahwa, 'Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita',” imbuh lelaki berkopyah tersebut dalam menjelaskan dalil penjelasan materinya.

“Bapak kayak tidak pernah muda saja, Pak. Bapak pasti juga pernah berpacaran dulunya,” bantah dan ejek Andre kepada guru agamanya tersebut.

Pak Arif pun sontak tersentak hatinya hingga tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain mengelus dada dan mengucapkan istighfar. Pak Arif pun tak ingin terpancing dengan ucapan Andre yang notabene memang dikenal sebagai anak pembangkang di kelasnya tersebut.

***

Awalnya, Andre dan Sinta pun mengobrol berdua di ruang tamu. Rumah Sinta memang sepi karena ibunya sedang ke luar kota untuk hendak berkunjung ke rumah kerabatnya. Tidak ada tetangga Sinta yang curiga ketika Andre bertamu ke rumah Sinta. Mereka pun berduaan, saling bercanda dan saling membahas soal cinta. Keduanya tampak saling bertatapan, saling bertatapan layaknya singa yang akan menerkam mangsanya, hingga akhirnya keduanya tersesat dalam bujuk khayal cinta sejati yang terlarang yang menjerumuskan keduanya.

            Perbuatan keduanya pun tepergok, setelah ibu Sinta kembali ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal. Si ibu pun menemukan putrinya sekamar dengan pacarnya dengan kondisi putrinya terlihat menangis. Sial bagi Andre, ketika ibu Sinta memergokinya, Sinta pun seketika berdrama menangis dan mengaku bahwa ia telah dipaksa dan diancam oleh Andre untuk memenuhi permintaannya. Melihat putrinya diperlakukan yang tak layak tersebut, akhirnya si ibu berteriak memanggil tetangga sekitar untuk meminta pertolongan. Ya, Andre pun seketika dihakimi warga dan dianggap telah memperkosa Sinta. Andre pun digelandang di kantor polisi dan ia pun dijatuhi hukuman penjara.

***

“Bersyukurlah anakku, Allah telah menyelamatkanmu sekarang ini hingga akhirnya menempatkanmu di penjara ini,” ujar si guru sembari tersenyum tipis.

“Maksud, Bapak?” jawab Andre dengan heran kepada gurunya tersebut.

 “Kamu boleh tidak mengakuinya, anakku. Sesungguhnya Allah telah menyelamatkanmu dengan menempatkanmu di tempat ini agar kamu terhindar dari perbuatan-perbuatan keji lainnya yang justru nantinya kelak dapat memenjarakanmu di nerakanya Allah,” tutur Pak Arif dengan bijak.

“Iya, Pak. Saya tidak akan membantah lagi apa yang dulu pernah saya lakukan ke Bapak,” ungkap Andre dengan merenung sembari menundukkan kepalanya.

“Pesan Bapak ke kamu, Andre, yakinlah bahwa beban yang kamu pikul sekarang ini telah menjadi sebab keselamatanmu. Allah telah menyiapkan skenario terbaik untuk perjalanan hidupmu kelak. Pelajari masa lalu jika kamu ingin menentukan masa depan. Masa lalu memberi kita pengalaman dan membuat kita lebih bijaksana sehingga dapat menciptakan masa depan yang indah dan cerah karena sesungguhnya seseorang dapat mengubah masa depannya hanya dengan mengubah sikapnya. Semoga Allah senantiasa mengiringi setiap langkahmu, Andre,” ujar Pak Arif sembari memegang pundak Andre.

Tak Mudah

Tak Mudah

Tak mudah bagiku untuk memahaminya lebih dari sekadar kata “Mudah. Butuh waktu lebih dari satu tahun untukku memaknai kata itu. Kata yang tak pernah ku pahami artinya lebih dari makna leksikalnya, “Gampang. Gampang … ya, cukup gampang bukan untuk mengatakannya, bahkan arti kata itu sebenarnya juga tidak sulit untuk dipahami. Ini tak terlalu sulit untuk diungkapkan, hanya saja ini begitu sulit bagiku untuk memahami sesuatu yang ku pikirkan; tentang arti terminologi itu; Tak mudah.

Aku mengenalnya, saat aku masih hidup dalam keangkuhan idealisme. Idealisme yang selalu ku agungkan dan sedikit memungkiri anugerah Tuhan yang seharusnya ku akui kebenarannya. Kebenaran tentang dirinya sebagai kiriman Tuhan yang dialamatkan untuk menegur keangkuhan idealismeku. Tapi, kini dia adalah bagian dari masa laluku yang kini aku hidup di bagian masa depan. Bukan masa depannya, melainkan hanya masa laluku. Ia selalu menemani setiap langkah angkuhku yang dulunya tak pernah ku pahami artinya. Arti terminologi, “Sendiri penuh arti. Aku benar-benar mengabadikannya dalam benakku.

Mudah … entah, apa yang membuatku merasa bodoh memahami arti kata itu. Tentang air mata yang tak beralasan, tentang kesedihan yang tak sepantasnya, dan semua hal yang tak jelas yang tak dapat ku jelaskan. Semuanya terasa begitu sulit bagiku tuk memaknai kata “Mudah” tersebut.

Banyak alasan mengapa aku begitu memuja kata “Mudah. Mulai dari sebuah etimologi, lalu sebuah antroponimi, kemudian sebuah ontologi, hingga sebuah filosofi yang ku berharap memahami indahnya kata itu lebih dari makna leksikalnya. Kata yang menggetarkan hatiku dari hampanya kemerdekaan kesendirian, menyalakan jiwaku yang terang dalam kesunyiaan, dan tentang alasan yang mengantarkanku pada nur ketenteraman hidup yang ku sebut “Cahaya Kemudahan. Ya, aku berharap dialah cahaya ketentraman di rimba hidupku.

“Apa ini, Fik?” tanya Siti dengan penasaran.

“Ini adalah janjiku,” jawab Fiki dengan tersenyum tipis.

“Janji? janji apa yang kau maksud?” balas Siti dengan heran.

“Tentang janji yang memang tak pernah kuucapkan padamu. Tapi, semua ini adalah tentang janjiku padamu, Sit,” balas Fiki dengan penuh harapan.

Hujan tanda tanya pun kian membanjiri pikiran dan perasaan Siti. Tak ada senyuman terima kasih yang terukir indah di wajahnya. Malahan, ia memaknai semua ini bahkan tak lebih dari sekadar nonsens belaka.

“Aku tak tahu alasan semua ini, Fik, tapi aku berharap kau punya alasan pasti kelak memberitahuku tentang alasanmu,” jawab Siti dengan raut muka datar.

Siti pun meninggalkan Fiki tanpa epilog yang membahagiakan. Dialog mereka berdua seakan menyiratkan kesan percakapan yang tak bermakna apapun. Ya, sikap Siti yang dingin kepada Fiki seakan mempertegas perasaan Siti yang tak ayal hanya menganggapnya tak lebih dari sekadar teman biasa saja.

“Kau tidak akan tahu untuk saat ini, Sit. Tetapi, kau akan segera tahu,” gumam Fiki dalam hati dengan memendam kekecewaannya.

Keangkuhan Siti pun seakan tergoyahkan dengan rasa penasaran yang membuncah di pikirannya. Pikirannya pun berkalungkan berjuta tanda tanya. Mencari arti segerombolan kata yang terucap lewat bibir Fiki tadi. Ia pun memandangi lekat-lekat sebuah kotak kecil dengan bungkus yang sederhana tersebut, hasil pemberian Fiki siang tadi. Siti pun membuka kado tersebut dengan perlahan.

Keningnya mengernyit seketika saat ia membuka hadiah pemberian Fiki tersebut. Sebuah flashdisk terbungkus rapi dalam kertas kado yang dikemas dalam kotak kecil yang sederhana tersebut. Rasa penasaran itu kian deras menghujani pikiran dan hati Siti. Lantas, ia pun membuka laptopnya untuk mencari tahu isi flashdisk tersebut. Ketika hendak dicobanya untuk membuka isi flashdisk tersebut, tak tahu mengapa tak ada apapun di dalam flashdisk tersebut.

***

Pagi datang begitu cepat mengusir malam bimbangku. Meski demikian, sekapan kebimbangan yang mengekang itu seakan enggan melepaskan bayangannya dalam pikiranku. Aku pun berusaha melangkah pasti di pagi bimbangku ini. Meskipun, saat ini pikiranku tengah dihujani ketidakpastian. Ketidakpastian tanggapan tentang sebuah pernyataan. Harap cemas aku menantikan jawaban atas sebuah pernyataan yang aku tanyakan lewat sebuah video dokumenter tersebut.

“Hei ... Sit,” sapa Fiki dengan lembut.

“Apa lagi yang kau inginkan dariku, Fik?” balas Siti dengan angkuh.

“Apa kau sudah membukanya?” tanya Fiki dengan penasaran.

“Aku bahkan tak mengerti maksudmu tentang semua ini. Aku tak habis pikir, apa yang kau pikirkan, Fik? Aku bahkan tak mengharapkan ini darimu,” ujar Siti dengan tegas.

Lagi. Kenyataan pun menertawakanku dengan eleginya. Elegi tentang sebuah harapan yang selalu menyimpulkan sebuah ratapan. Bahkan, Aku tak dapat memetik amanat dari semua ini. Keangkuhannya, kini telah mengalahkan keangkuhanku. Keangkuhan yang selalu ku agungkan bahwa aku adalah yang terbaik di antara yang terburuk. Entah, terkadang aku cukup bodoh untuk membedakan antara kesetiaan dan kebodohan itu sendiri. Aku benar-benar tak sanggup melarikan diri dari bayang absurd ini.

***

Aku kini telah hidup dalam dunia yang pasti. Kepastian hidup beridentitaskan realisme. Keangkuhan yang dulunya kupuja, kini seakan terkikis termakan usia. Aku telah hidup dalam kepastian hidup ini selama lima tahun. Tak ada idealisme atau pun romantisme. Aku seperti lupa dan seakan terlupa tentang bagaimana caranya mencintai. Mencintai elegi yang dulunya selalu akrab menemaniku. Namun, semua itu kini hanya menjadi kenangan yang tak lagi kuharapkan di kenyataan yang penuh harapan ini.

Aku kini hidup dalam keberhasilan impian. Sebuah impian yang terwujud dari sejarah kekecewaan. Impian bernamakan pragmatis dan realistis tersebut, kini menjadi bagian dari hidupku yang pasti ini. Kepastian kesuksesan yang jauh dari kesan melankolis maupun cerita romantis.

“Maaf mengganggu, Pak. Ada pelamar yang mengajukan diri untuk bekerja di sini menggantikan editor kita yang resain kemarin. Saya perhatikan profilnya cukup bagus juga, Pak,” ujar seorang kepala personalia kepada CEO TVMU.

“Oke ... suruh masuk!” jawab Fiki dengan tegas.

Seketika luka lama itu pun menganga kembali ketika ku tatap kekecewaan yang menjadi bagian dari masa laluku itu kini hadir di hadapanku.

“Fiki? ....” sapa Siti dengan kaget.

“Aku tak menyangka kamu kini telah sukses, Fik,” sambung Siti dengan senang.

“Semua ini berkat dirimu, Sit. Kau telah mengajarkanku tentang bagaimana memaknai kekecewaan. Terlebih, mengajariku tentang bagaimana aku harus berpikir pragmatis dan realistis. Terima kasih, Sit,” balas Fiki dengan raut muka datar.

Mendengar jawaban Fiki yang sinisme tersebut, Siti pun terkejut. Ia tak menyangka, Fiki yang dulunya lembut dan lugu kini telah menjadi seorang yang tegas dan keras.

“Silakan, Anda mulai presentasinya!” perintah Fiki kepada Siti.

Siti pun memulai presentasi dengan perasaan merandau tak karuan. Ia bahkan tak sanggup fokus saat presentasi.

“Cukup!” Potong Fiki ketika Siti belum menyelesaikan presentasinya.

“Oke ... mulai besok, Anda bisa mulai bekerja,” lanjut Fiki sembari meninggalkan Siti tanpa komentar apa pun. 

Entah, apa yang ada di benak Fiki. Jika menilik kenyataannya, bisa dibilang presentasi Siti cukup buruk, bahkan tak layak untuk diterima. Namun, Fiki pun menanggapinya berbeda. Ia justru menerima Siti untuk menjadi pegawainya.

***

“Hasil editing yang kemarin mana?” tanya seorang programmer kepada Siti.

“Ini, Pak.” jawab Siti sembari memberikan flashdisknya.

“Mana? Bahkan, tak ada apa pun di flashdisk ini,” balas programmer tersebut dengan marah ketika membuka flashdisk Siti.

“Tadi, saya sudah meng-copy-nya di dalam flashdisk tersebut, Pak,” elak Siti dari amukan programmer tersebut.

“Pokoknya saya gak mau tahu, satu jam lagi saya minta video tersebut sudah siap!” amuk programmer tersebut kepada Siti.

Pikiran Siti pun berkalutkan kebingungan tanpa arah. Ia seperti orang yang lupa caranya untuk berpikir cepat seperti biasanya. Ia benar-benar bingung, apa yang harus dilakukannya. Pasalnya, laptopnya juga sedang dipinjam adiknya untuk mengerjakan skripsi. Bahkan, untuk pulang mengambilnya, waktu satu jam rasanya juga tak mungkin sempat.

“Ada apa, Mbak?” tanya seorang pegawai lainnya kepada Siti.

“Entahlah ... aku bingung, apa yang harus ku lakukan untuk mencari videoku yang hilang,” ucap Siti dengan tergopoh.

“Emang hilang di mana file-nya, Mbak?” tanya kembali si pegawai tersebut.

“Di flashdisk.” Jawab Siti dengan kebingungan.

Ooo ... Sini, saya coba bantu, Mbak. Bisa saya recovery kok. Insya Allah, file yang hilang tersebut bisa kembali,” jelas si pegawai dengan yakin.

Tak lebih dari tiga puluh menit, hasil recovery data pun muncul. Beberapa data yang hilang sebelumnya, muncul kembali. Namun, dari sekian banyak file yang berhasil di-recovery, hanya ada dua file dengan jenis file video dan salah satu video tersebut membuat Siti terheran karena ia merasa tak pernah menyimpan file video sebelumnya. Rasa penasaran Siti kian mengguyang deras pikiran Siti. Siti pun akhirnya memutuskan untuk melihat isi video tersebut.


Aku tak menginginkan apapun darimu lebih dari sekadar kau cukup tahu kalau aku menyangimu, Sit. Aku hanya ingin mengungkapkan tanpa menginginkan jawabannya. Karena aku tahu, aku sudah mendapatkan jawabannya. Kelak aku akan meninggalkanmu karena waktu. Tapi kau takkan meninggalkan suatu tempat yang ku sebut hatiku. Tak seharusnya aku memimpikanmu, tapi memimpikan impianmu adalah mimpiku. Jujur, aku merasa selalu gagal menciptakan senyuman bagimu, tapi aku selalu berusaha menghancurkan kesedihanmu meskipun aku selalu gagal jua. Aku salah telah mengaku telah memahamimu, padahal kenyataannya, aku gagal memahami diriku sendiri. Satu hal pasti yang selalu ku tanamkan dalam benak ini adalah tentang keyakinan yang akan mengantarkanmu pada sebuah pengertian, kalau aku menyayangimu, Sit. Aku tahu kalau aku hanyalah bagian dari cerita yang tak pernah kau harapkan, tapi yang harus kau ketahui adalah kaulah ceritaku, Sit. Cerita indah yang selalu menjadi cerita cintaku. Hal lain yang sulit tuk ku pahami adalah aku tersadar bahwa aku bukanlah bagian dari cerita cintamu, tapi aku akan membuat cerita cinta terindah tentang dirimu.

 

Video dokumenter tersebut benar-benar menggetarkan hati Siti. Satu hal yang Siti sesali, yakni, ia sadar bahwa ia tak pernah menghargai Fiki selama ini. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kini, Fiki telah hidup di masa depan bersama harapan yang ia impikan. Impian bersama kesuksesannya dan yang pasti bersama orang yang dicintainya, tentunya orang itu juga mencintainya. Orang itu tentunya bukanlah Siti.