Mata

Mata

Tuhan mengajari kita tentang memaknai hidup lewat sebuah anugerah; mata. Tuhan tahu persis apa yang telah menjadi ciptaan-Nya karena Tuhan memang Mahatahu semuanya. Ia adalah sang Pencipta dan setiap ciptaan-Nya selalu menyimpan alasan yang patut kita pahaminya maknanya.

Entah, apa jadinya jika kita tak dibekali sang Illahi untuk melihat. Kegelapan akan jadi pemandangan akrab yang selalu kita pandangi dalam-dalam dengan penuh ratapan. Kita hanya bisa merengek, lalu menangis dalam hitamnya kegelapan sembari memohon kepada sang Illahi untuk menunjukkan kilaunya dunia. Banyak pertunjukkan “sang seniman” beserta karya-karya-Nya yang akan kita lewatkan pamerannya jika kita tak memaknai hidup ini lebih dari sekadar melihat. Warna-warni pelangi, senyuman senja di sore hari, lukisan-lukisan realisme, dan semua hal tentang apa yang bisa kita pahami di dunia ini lewat mata. Semua itu hanya akan menjadi bagian cerita yang penuh ratapan dan kita hanya akan menjadi pendengar yang selalu dirundung penasaran sembari memohon seseorang menceritakan apa yang bisa dia ceritakan kepada orang lain.

Mata. Lewat melihat kita hidup dan kita bisa memaknai hidup ini. Tuhan sangat adil untuk membekali kita untuk melihat dengan mata. Sepasang mata yang mengantarkan kita pada satu pandangan tentang bagaimana kita melihat dengan benar. Kebenaran melihat dua kali lebih benar daripada sekali melihat kebenaran. Tuhan mengajari kita tentang hidup. Tentang bagaimana kita harus hidup dan tentang apa itu kehidupan. Sudahkah kita paham akan hal itu? Lebih tepat lagi, mungkin kita hanya main-main saja dengan kehidupan ini.

Anugerah terbesar selama ini adalah mata. Mata mengajarkan kita tentang hidup. Bersyukur atas izin-Nya, kita telah melihat dunia. Karya agung Tuhan tiada tara. Meskipun, tak lebih untuk melihat Tuhan, tetapi Tuhan telah adil memberikan kesempatan untuk kita melihat anugerah-Nya. Semua tentang hidup ini ku mulai dari mata. Aku mengenal diriku lewat mata. Aku tahu siapa diriku karena mata. Mata yang memperkenalkan wajahku kepada diriku, terlebih kepada mata-mata lainnya. Aku mengenal anugerah dari mata. Aku mengenal syukur dari mata dan aku mengenal terminologi “mensyukuri anugerah cinta” juga berawal dari mata.

Kisah cintaku ku mulai dari mata. Sekian lama melangkah, aku baru sadar bahwa hidupku terpenjara karena aku buta. Buta akan kehidupan yang tak pernah ku pahami indahnya dengan melihat. Aku lupa dan aku terlupa bahwa Sang Esa selalu punya alasan untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Kebesaran illahi yang ku kenal lewat mata. Cinta.

Aku mengenalnya lewat mata. Mata itu mengundangku bersua dengan sebuah rasa yang tak pernah ku kenal namanya. Aku terkesima kepadanya karena mata dan aku pun jatuh cinta kepadanya berawal dari mata. Mata yang menuntunku pada satu keindahan. Indahnya ciptaan-Mu, wahai Tuhan,” tuturku dalam hati.

Ku mulai mencintainya lewat sebuah perkenalan. Berlanjut pada kenyamanan di antara kita dalam beradu pandangan. Aku pun mulai menemukan ketentraman itu. Ketentraman hidup di matanya yang tak pernah jenuh ku pandangi dengan mataku. Aku mencintainya dan aku menyayanginya.

Tuhan telah menunjukkan keagungan-Nya kepadaku lewat mata. Keagungan yang selalu ku syukuri bahwa bahwa sang Illahi memang adil. Keadilan yang memperkenalkanku kepada cinta lewat sepasang mata. Dengan mata, Tuhan mempelihatkanku tentang indahnya jatuh cinta dan dengan mata pula, Tuhan akhirnya juga memperlihatkanku tentang kenyataan pahitnya cinta yang harus ku syukuri adanya.

Terkadang apa yang kita lihat justru itu bisa membutakan kita. Hal itulah yang harus ku pahami artinya lebih dari sekadar pernyataan filosofis belaka. Dengan mata, ku tanamkan sejuta harapan kepadanya. Namun, harapan itu justru hanya menghadiahkanku dengan sebuah ratapan. Ratapan cinta yang ku pahami maknanya juga dengan mata. Aku melihatnya dengan mata anugerah sang Illahi ini bahwa dia telah memiliki mata lain yang jauh membuatnya bahagia. Mata yang mengantarkannya pada senyuman yang indah di wajahnya, jauh lebih indah dari senyuman yang ku buat dengan mataku ini memandang matanya. Ku temukan cinta ini dengan mata dan harus ku akhiri pula cinta ini dengan mata. Air mata.

Mata ini adalah anugerah Yang Kuasa dan seharusnya aku bersyukur dengan apa yang ku lihat dengan mata. Terkadang mata adalah cara terbaik untuk percaya atau mungkin saja bisa sebaliknya; mata adalah cara terburuk untuk memahami kenyataan. Entahlah ... Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk melihat umatnya. Melihat kenyataan dan impian dengan bersyukur, bukan dengan mata. Apapun kenyataannya, inilah anugerah sang Illahi yang harus kita syukuri. Rasa syukur yang ku mulai lewat mata, sepasang mata. Sepasang mata yang melihat dua kali lebih benar daripada sekali melihat kebenaran.

Pesan Pak Bagus

Pesan Pak Bagus

Assalamualaikum!” sapa dengan lantang remaja berambut kribo dan berpenampilan nyentrik itu menghampiri Pak Bagus.

Pak Bagus pun sontak terkejut mendengar sapaan tersebut.

Waalaikum salam!” jawab Pak Bagus dengan linglung.

Remaja nyentrik itu pun seketika menarik tangan kanan Pak Bagus kemudian menciumnya.

“Masih ingat saya kah, Pak?” tanya remaja berbadan kurus tersebut kepada lelaki empat puluh tahun itu.

“Siapa, ya?” balas Pak Bagus sembari mengingat-ingat.

“Saya Viky, Pak. Murid Bapak dulu,” celetuk remaja dua puluh satu tahun tersebut dengan tersenyum.

“Viky, ya?” ucap Pak Bagus sembari mencoba mengingat.

Hey, ayo … cium tangan dulu. Ini guruku,” perintah remaja kribo itu kepada remaja lainnya yang ikut bersamanya.

        Satu per satu, para remaja dengan penampilan aneh itu bergantian mencium tangan Pak Bagus sembari menundukkan kepala dan mengumbar senyuman kepada beliau. Pak Bagus masih terpaku dengan ingatannya terhadap sosok aneh yang ada di hadapannya itu. 

“Saya Viky, Pak. Murid Bapak yang sering terlambat, sering corat-coret bangku, dan selalu membuat Bapak lelah bermain kejar-kejaran ketika waktunya salat,” ujar remaja tersebut dengan bangga dan gayanya yang guyonan itu.

***

        Setiap pagi pukul 06.15, Pak Bagus sudah berdiri tegap di gerbang sekolah sembari menyambut siswa-siswi yang datang. Satu per satu siswa berdatangan, menyapa, lalu mencium tangan Pak Bagus. Ya, Pak Bagus adalah seorang wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Maklum, beliau adalah orang yang paling disiplin. Bahkan, beliau tak pernah sekalipun datang terlambat ke sekolah dan selalu berdiri di gerbang sekolah setiap pagi.

Kriiinggg … kriiinggg … kriiinggg ….

        Mendengar bel sekolah berbunyi, siswa-siswi pun bergegas berlarian untuk segera masuk ke sekolah. Namun seperti biasanya, Viky selalu terperangkap dalam keterlambatan yang sebenarnya hal itu telah menjadi rutinitas dari kebiasaannya setiap hari.

“Selalu terlambat, terlambat, dan terlambat. Adakah alasan lain yang bisa kamu ceritakan kepada saya, Viky, selain alasan kesiangan?” tanya Pak Bagus dengan tegas dan sedikit kesal.

        Kesiangan adalah cerita lama yang selalu menjadi bahan cerita Viky kepada Pak Bagus mengenai alasan keterlambatannya tersebut. Alasan yang tak pernah bisa dipahami kebenarannya. Kebenaran tentang kesalahan berulang yang akrab dengan ciri khas Viky.

“Silakan dibuka Al-qurannya, lalu dihafalkan surat Al-A’la,” perintah Pak Bagus dengan tegas.

***

“Untuk materi hari ini, kita akan belajar membuat mural. Tapi, kita tidak akan membuatnya di dinding, melainkan di buku gambar. Silakan dikeluarkan buku gambarnya!” perintah Pak Bagus kepada siswa-siswi.

        Ketika Pak Bagus sibuk mengecek satu per satu bawaan peralatan gambar siswa-siswi, tanpa sengaja Pak Bagus memergoki Viky yang sedang asyik corat-coret bangkunya menggunakan stipo. Pak Bagus pun marah melihat tabiat Viky yang tidak bertanggung jawab tersebut. Beliau pun sangat marah, bahkan sampai-sampai Viky pun diusir olehnya dan disuruh mengerjakan tugasnya di luar.

Sembilan puluh menit kemudian,

“Karena waktunya telah habis, maka untuk semua hasil menggambar, silakan dikumpulkan,” ujar Pak Bagus dengan tegas.

        Pak Bagus pun meninggalkan kelas dengan membopong peralatan gambarnya dengan ditemani seorang siswa yang membawakan bertumpuk buku gambar hasil menggambar siswa-siswi lainnya itu.

“Sudah selesai? Sini … dikumpulkan! Saya minta kamu hapus gambar yang kamu corat-coret di bangku tadi. Saya cek besok, apabila belum terhapus, silakan kamu tidak usah mengikuti pelajaran saya berikutnya,” ujar Pak Bagus dengan nada kesal. 

***

“Waktunya salat Dhuhur untuk seluruh siswa-siswi!” bunyi pengeras suara sekolah petanda waktu salat.

        Seperti biasanya, Pak Bagus pun berkeliling ke setiap kelas untuk mengarahkan siswa-siswa yang masih ada di dalam kelas agar segera menuju ke masjid untuk menunaikan salat Dhuhur berjamaah. Setiap ruang kelas pun disisiri dan dipelototinya lekat-lakat barangkali ada siswa yang bersembunyi atau tidur di bawah bangku. Maklum, anak-anak terkadang sering tidur di kelas dan tak jarang mereka bersembunyi di bawah bangku untuk menghindari sidak para guru.

        Setiap sudut ruang kelas pun disisiri Pak Bagus dengan telaten. Belakang pintu kelas dan di bawah bangku, terutama bagian belakang ruang kelas juga tak luput dari perhatian Pak Bagus. Ketika Pak Bagus memeriksa ruang kelas dua belas animasi, tak diduga tiba-tiba beliau terkejut bukan kepalang karena di belakangnya ada seorang siswa yang berlari dari belakang pintu kelas itu. Mengetahui hal tersebut, Pak Bagus pun berusaha mengejarnya. Namun sayang, seribu langkah yang digunakan Pak Bagus tak sanggup mengalahkan sejuta langkah siswa nakal tersebut. Meski demikian, Pak Bagus pun cukup mengenali siswa tersebut meski tak lebih dari sekadar punggung saja yang dilihatnya tadi.  

***

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri (QS Ar-Rad: 11), ujar Pak Bagus dalam kultumnya setelah salat Dhuhur.

“Untuk itu anak-anakku, jikalau kalian ingin menjadi pribadi yang sukses kelak, maka ubahlah diri kalian terlebih dahulu. Perubahan awal itu bisa kalian mulai dari membuang kebiasaan buruk yang ada. Datang terlambat, tidak belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan perihal salat yang seringkali menunggu perintah dari guru untuk mau melaksanakannya. Ingatlah, kalian adalah penentu kesuksesan diri kalian sendiri,” ungkap Pak Bagus dalam akhir kultumnya dengan berbahan sindiran kepada siswa yang dikejarnya tersebut. 

***

Ooo, Viky toh. Alhamdulillah, saya baru ingat. Muridku yang paling bikin saya gemes ini,” ingat Pak Bagus setelah cukup lama tertegun dengan linglungnya.

Haha … bener, Pak. Alhamdulillah, kalau Bapak ingat,” jawab Viky dengan tertawa dan gaya yang guyonan tersebut.

“Bapak apa kabarnya? Sedang apa, Pak, di sini?” tanya Viky dengan bahasa santai tetapi santun.

Alhamdulillah, saya sehat. Saya sedang jalan-jalan saja sama keluarga,” jawab Pak Bagus dengan penuh wibawa dan sedikit bahagia bisa bertemu muridnya yang selalu dikenangnya itu.

“Kamu sendiri sedang apa di sini?” lanjut tanya Pak Bagus dengan penasaran.

“Ini, Pak, saya bersama teman-teman komunitas mural kebetulan sedang ada kegiatan di sini,” ujar Viky dengan tersenyum.

Alhamdulillah, komunitas mural ini adalah rintisan saya sendiri, Pak. Saya membentuk komunitas ini dengan harapan bisa berbagi ilmu kepada teman-teman yang ingin belajar mural. Walaupun saya bukan guru dan tidak sehebat Bapak, setidaknya saya berusaha menjadi guru seperti yang telah guruku ajarkan kepadaku, puji Viky kepada Pak Bagus dengan rendah hati.

Alhamdulillah, saya tidak menyangka kalau sekarang kamu sudah sukses. Hebat, kamu, Vik. Saya perhatikan juga, sepertinya kamu telah banyak berubah juga,” puji Pak Bagus dengan bangga.

“Setidaknya sekarang, saya tidak seperti dululah, Pak. Hehe … Semua ini berkat Bapak juga yang sudah mengajari saya banyak hal walaupun terkadang saya sering bikin Bapak jengkel dengan tingkah saya dulu. Iya kan, Pak. Haha ….” celetuk Viky dengan apa adanya tanpa meninggalkan gaya khasnya yang guyonan tersebut.

“Bisa saja kamu ini, Vik. Alhamdulillah kalau gitu,” jawab Pak Bagus dengan penuh semringah dan bangga.

“Ya sudah kalau gitu, Pak, saya permisi dulu mau cari mushola untuk salat. Sudah waktunya salat dhuhur juga. Permisi, Pak. Assalamualaikum!” pamit Viky kepada gurunya itu sembari mencium tangan Pak Bagus dengan diikuti oleh teman-temannya pula.

Bangkit dengan Jas Merah

Bangkit dengan Jas Merah

Bangkit secara kamus berarti ‘bangun’ atau ‘hidup kembali’. Bagi Negara Jepang, kata “Bangkit” tak ubahnya lebih dari sekadar segerombolan suku kata bermakna biasa belaka. Lebih dari itu, kata “Bangkit” seakan menjadi mantra ampuh yang mampu menyihir psikologis rakyatnya. Lewat titah sang Kaisar, bergerilyalah bala tentara Jepang yang ada untuk mencari para guru yang masih hidup pascatragedi bom Hiroshima dan Nagasaki tersebut. Titah sang Kaisar pun jelas, yakni, membangun kembali Jepang melalui pendidikan. Satu hal pasti yang akan selalu dikenang orang Jepang, yaitu, mereka bangkit berawal dari sejarah. Benar saja, tujuh puluh dua tahun pascatragedi tersebut, Jepang kini telah berhasil membuktikan diri mampu menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

***

Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), slogan itu seakan begitu akrab dan telah mengakar dalam benak ini. Bahkan, lebih dari sekadar retorika sang proklamator belaka, lebih dari itu, akronim tersebut diakui atau tidak telah menjadi penggugah semangat untuk kita semua. Bukan saja pada tempo dulu. Sampai saat ini pun, istilah itu masih menjadi bagian dari pidato bersejarah sang proklamator bangsa ini. Istilah yang mengandung berjuta harapan di masa depan. Bangkit. Membangun bangsa dengan berlandaskan sejarah.

“Hari ini, Ibu akan menjelaskan sejarah tentang keberhasilan Indonesia merebut kemerdekaan,” ungkap Bu Agustina dalam menyampaikan tema pembelajaran kali ini.

“Bu … kenapa kita harus belajar sejarah? Bukankah seharusnya kita menatap masa depan?” celetuk seorang siswa.

Mendengar pertanyaan tersebut, Bu Agustina pun sejenak terdiam sembari menghela nafas agak berat.

“Saya pernah membaca sebuah tulisan, Bu. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa … kemarin adalah kenangan. Hari ini adalah kenyataan. Esok adalah harapan,” lanjut siswa tersebut dengan kritis.

Seisi ruang kelas pun tertegun melihat dan mendengar pendapat Yahya tersebut. Maklum, Yahya memang dikenal sebagai anak yang pintar dan kritis di kelasnya. Bahkan, mungkin bisa dibilang, dia adalah anak yang paling kritis sesekolah.

Dengan kesabaran dan ketelatenannya, Bu Agustina pun tersenyum manis menatap Yahya, lalu menjawab:

“Percayalah, Nak! Takkan ada hari ini maupun hari esok, apabila tak ada hari kemarin. Jika kita selalu menganggap sejarah hanyalah sebuah kenangan, maka kenyataannya adalah bahwa kita hidup di masa ini karena keberhasilan dari kenangan itu,” jawab Bu Agustina dengan mantap.

“Bung Karno mengajarkan kepada kita semua; Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Maksudnya, jangan sampai kita melupakan sejarah perjuangan bangsa ini. Dengan belajar sejarah, hendaknya kita senantiasa ingat tentang perjuangan para pendahulu kita dalam berjuang merebut kemerdekaan bangsa. Anak-anak … perang telah berakhir dan tugas kita di masa yang merdeka ini yang paling utama adalah bangkit. Bangkit dari keterpurukan. Bagaimana caranya? Dengan mengisi kemerdekaan itu dengan berjuang membangun bangsa ini menjadi bangsa yang kuat yang bernama Indonesia emas. Adapun langkah awal yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan itu adalah dengan belajar secara sungguh-sungguh,” imbuh Bu Agustina seraya memotivasi para siswa.

Jawaban Bu Agustina itu pun seakan menyihir seisi kelas tersebut. Semua siswa dalam kelas itu sontak menyambut gembira jawaban cerdas dan motivatif tersebut dengan tepuk tangan dan senyum yang mengumbar penuh kebanggaan dan kepuasan.

“Bu … saya mohon maaf, apabila tadi saya sedikit lancang bertanya demikian. Saya hanya merasa ragu saja dalam hati saya, Bu,” ucap Yahya dengan menyesal.

“Yahya … saya bangga kepada kamu. Kamu tumbuh menjadi siswa yang cerdas. Kamu tidak salah. Hanya saja, kamu tidak boleh menyalahkan apa yang tidak kamu yakini. Saya tahu, kamu tidak membenci sejarah. Tapi, kamu hanya belum mengenal sejarah saja,” jawab Bu Agustina seraya memegang pundak Yahya yang duduk tepat di depan Bu Agustina berdiri tersebut.

“Yahya … saya yakin kelak kamu akan menjadi bagian dari sejarah Indonesia emas di kemudian hari. Begitu pun kalian semua,” ujar Bu Agustina seraya memotivasi seluruh siswa.

500

500

500 … Lebih dari sekadar numeralia atau pun matematika. Siapa yang mulai menghitung? Aku. Aku hanya bisa berhitung sembari terus berhitung hingga jemari ini kehabisan akal untuk terus menghitungnya.

Saat itu … aku memulai semuanya. Aku masih duduk manis dalam anganku. Dudukan manis yang tadinya ku agungkan dan hingga sampai saat ini masih terus ku agungkan, tak ayal hanyalah tekuran bisu yang berhujankan tanda tanya. Entah, bagaimana aku memaknai ini. Satu hal pasti adalah aku masih sibuk dengan angka-angkaku.

Satu …, dua …, tiga …, dan seterusnya. Aku masih terus berhitung. Mungkin baginya, aku terlalu sibuk dengan tautologiku yang membosankan ini. Ungkapan yang selalu ia dengarkan, tentang ini dan itu. Yang membosankan. Bukankah aku selalu hadir untuk membuatnya menjadi bosan dengan angka-angkaku? Atau mungkin, aku terlalu kebingungan dengan hitunganku? Bahkan, aku terlalu sadis untuk menyiksa hati ini untuk terus berhitung. Padahal, aku terlalu lelah untuk memahami tujuanku untuk terus berhitung.

Terkadang, aku terlalu angkuh untuk mengakui semua ini, apalagi untuk bisa menyentuh keangkuhan itu. Kenapa aku dengan kebodohan ini masih saja ingin terus berhitung? Banyak hal yang tak dapat ku urai untuk alasan yang takkan pernah terpahami. Tetapi, aku punya alasan mengapa cerita ini masih terus ku tulis lewat segerombolan kata yang mungkin tiada arti baginya. Jawaban itu adalah tentang pertanyaan yang takkan pernah ia tanyakan padaku. Mengapa? Karena aku tahu sedikit jawabannya. Mungkin tidak lebih baik daripada jawaban dari sebuah kenyataan yang seharusnya ku akui bahwa itu adalah benar, ”Inilah jawabannya.” Kenyataan yang selalu menertawakanku dengan kebenarannya. Kenyataan tentang kebenaran. Aku tak punya hak menjadi benar, tetapi aku mungkin benar, ”Hanya sang Illahi-lah yang Mahabenar dan hanya Dia-lah yang tahu kebenaran sesungguhnya.”

Sesungguhnya aku tak pernah ingin lebih mencintai elegi ini. Elegi yang selalu akrab dengan ceritaku yang membosankan. Begitu pula cerita ini. Kini, kata sandang itu telah menjadi pesonaku yang eksis di mata semua orang memandangku. Semua orang menganggap, akulah pemenangnya dan aku pun tak bisa menolaknya bahwa semua orang telah setuju untuk menyematkan penghargaan itu kepadaku. Entah, bagaimana caranya kehidupan ini memuliakanku lewat penghargaan itu yang mungkin ia tak pernah peduli dengan hal itu.

Kerendahan hati yang mana yang seharusnya ku persembahan untuk alasan ini? Alasan meraih kedamaian hati yang justru harus ku bayar dengan kebangkrutan waktu. Aku selalu berpikir untuk menarik kembali waktuku. Waktu yang telah ku pertaruhkan kepada kepedihan yang dengan rakusnya menggerogoti jiwaku ini. Tetapi, hal itu mungkin akan membuatku semakin bodoh untuk memahami arti sebuah kata penyesalan. Aku bangga dengan apa yang ku jalani dan apa yang telah ku tulis ini. Semua ini … ku tulis tanpa rasa penyesalan sedikit pun. Kesungguhan yang harus kulakukan adalah sesungguhnya aku persembahkan ini untuknya. Aku salah telah mengaku telah memahaminya, padahal kenyataannya aku gagal memahami diriku sendiri, bahkan lebih jauh memahami arti cinta. Arti cinta yang sebenarnya tak mengenal kata penyesalan untuk berpikir tentang kebahagiaan. Aku berpikir bahwa kesedihan ini lebih baik daripada saat ini karena kejujuran yang harus kau ketahui adalah sampai saat ini aku masih terus sibuk dengan angka-angkaku. Angka-angka sejarah yang membentuk diriku sekarang ini. Aku mencoba berpikir kembali, tentang bagaimana manusia berpikir sebagai manusia sejati. Apa yang membuat manusia dikatakan sejati? Waktuku berbicara, ”Cara dia menentukan sebuah pilihan.” Entah, pilihan ini benar atau salah, tetapi … sudah lebih dari 500 kata aku menulis cerita ini dan sudah lebih dari 500 hari juga aku hidup menjadi cerita tentang kenangan ini.

Tak ada yang abadi di dunia ini, apalagi untuk sebuah tulisan yang mungkin tiada arti baginya. Mungkin, cerita ini takkan mampu mengubah apapun bahkan untuk menembus waktu sekaligus selalu ada dalam benak ini dan menjadi kenangan di-500 hari berikutnya setelah cerita ini ku tulis sebagai persembahan terakhirku. Aku tahu, semuanya perlahan akan basi dimakan waktu, menjadi busuk, hingga akhirnya semua terbuang, dan terlupakan begitu saja, serta hanya menyisakan untaian kata-kata tanpa makna, begitu pula cerita ini. Kata terakhir yang ingin ku persembahkan untukmu adalah tak lebih baik dari semua ini selain mengucapkan, ”Maaf.”

Animasi

Animasi

Langkahnya tertatih menyambut pagi yang datang lebih cepat mengusir malam. Malam yang selalu dirindukan Aziz tuk tak pernah berakhir memahami diri yang bimbang. Memahami diri lebih dari sekadar kata paham itu sendiri. Memahami hari yang berhujankan rintik harapan akan bayang kegagalan. Kegagalan bernama harapan yang tak pernah diinginkan.

Aziz benar-benar berharap bahwa hari ini adalah hari terakhirnya. Hari tentang hidup dalam kematian impian. Hari pertama hidup dalam kuburan impian. Baginya, hari ini adalah awal dari akhir hidupnya yang tak pernah diimpikan hadirnya.

“Abdul Aziz?” panggil Pak Rahman selaku Kepala Program Multimedia ketika mengisi materi acara kegiatan MOS tersebut.

Aziz pun menjawab dengan mengangkat tangan sembari sedikit agak lesu.

“Apa yang membuat kamu tertarik memilih jurusan ini, Nak?” tanya Pak Rahman dengan penasaran.

“Karena orang tua saya merasa yakin dengan pilihannya, Pak,” jawab Aziz dengan menyembunyikan ratapannya.

Mendengar ironi tersebut, sontak Pak Rahman pun tersenyum tipis sembari menyembunyikan rasa kagetnya tersebut. Beliau pun melanjutkan mengabsensi siswa-siswa lainnya satu per satu untuk memperkenalkan diri dan memaparkan alasan para siswa memilih jurusan tersebut.

Ya, Aziz benar-benar frustrasi dengan impian ini. Impian yang tak pernah diinginkannya. Impian yang menjadi impian orang tuanya. Bukan impiannya. Impian yang menghancurkan impiannya.

Hari ini adalah hari pertamanya masuk ke SMK. Aziz merasa bak terbelenggu dalam jerumus penjara jurusan ini. Jurusan yang tak diimpikannya. Tapi, menjadi impian terbesar orang tuanya untuk dapat meneruskan kesuksesannya.

Bukan rahasia lagi, kalau ayahnya adalah kreator yang andal. Kepala tim kreatif di stasiun televisi swasta ternama menjadi bukti bahwa ia menginginkan kesuksesan yang sama juga terwujud pada Aziz.

***

“Hari ini kita akan belajar tentang etimologi multimedia. Ada yang tahu, apa itu etimologi multimedia?” tanya Pak Burhan kepada siswa-siswi.

Tak seorang pun bisa menjawab pertanyaan itu. Beliau pun dengan telatennya mengajari siswa-siswi baru tersebut. Tetapi, Aziz hanya termenung memperhatikan tanpa memahami apa yang diajarkan Pak Burhan tersebut.

Bel istirahat pun berbunyi. Dengan sigapnya, semua siswa berbondong-bondong keluar kelas untuk menuju kantin. Tapi, seperti kebiasaan sejak SD, Aziz tak pernah pergi ke kantin kala waktu jam istirahat. Ia selalu menyibukkan diri dengan menggambar dan menonton film anime kesukaannya, yaitu, Naruto. Bahkan, saking cintanya dengan menggambar, hampir semua buku tugas belajarnya pun terkesan ramah dengan coretan gambar-gambar anime maupun kartun tersebut. Tapi, Aziz terlalu hafal menyikapi nasihat dari bapak/ibu guru mengenai mencoret-coret buku tersebut.

Waktu melangkah begitu cepat. Tak terasa, jam telah berlari ke arah pukul setengah puluh dan waktu pun menyuratkan bahwa jam istirahat telah berakhir. Kini, waktunya pelajaran Pemrograman Web. Namun, seperti biasanya, Aziz selalu lupa caranya untuk bersemangat. Wajah kusut bak tanpa harapan tersebut seakan menjadi pemandangan akrab bagi teman-teman Aziz menilainya. Sembari menunggu Pak Arif untuk mengajar, Aziz pun bersendekap sembari tiduran di bangku.

Assalamualaikum,” sapa beberapa siswa tak dikenal yang masuk ke kelasku.

Suara bising itu menggugah lamunanku dalam sendekapku. Ternyata, beberapa kakak kelas yang datang untuk memberikan pengumuman. Melihat itu, Aziz pun apatis dengan mereka dan kembali melanjutkan lamunan dan tidurnya.

“Maaf, mengganggu sebentar ya, Adik-adik. Perkenalkan, nama saya adalah Wahid, dari kelas XII Multimedia 1. Di sini, saya menginformasikan bahwa sekolah mewajibkan untuk setiap siswa mengikuti minimal satu ekstrakurikuler. Adapun ekstrakurikuler yang saya koordinir adalah ekstrakurikuler animasi. Saya di sini sebagai mentor dari ekstrakurikuler animasi ....” ungkap Wahid, mentor ekstrakurikuler animasi tersebut.

Mendengar pengumuman itu, sontak Aziz pun tergugah dari tidurnya dan secepat kilat menyimak pengumuman tersebut. Ia terlihat begitu serius menyimak pengumuman tersebut, sampai-sampai keningnya mengernyit tanpa kelihatan secentimeter pun raut dahi aslinya.

Senyum harapan terlukis indah di wajah Aziz menyambut pengumuman tersebut. Ekspresinya merandau tanpa kesan yang jelas. Sontak, ia pun segera mendaftarkan diri ke Wahid untuk mengikuti ekstrakurikuler tersebut.

***

Bisa dibilang, bagai peribahasa tidak ada rotan, akar pun jadi. Aziz bisa dikatakan bernasib baik. Pasalnya, ia bisa naik kelas dengan nilai yang terbilang pas-pasan. Hampir semua mata pelajaran, ia mendapatkan nilai yang tak lebih dari delapan puluh. Orang tuanya pun sempat geram dan marah kepada Aziz ketika melihat hasil rapor Aziz. Luapan kekecewaan orang tua Aziz pun seakan meluap karena aziz dianggap tidak mampu menjawab harapan orang tuanya tersebut. Menjadi seorang kreator di dunia pertelevisian. Harapan mereka pun seakan pupus melihat hasil rapor Aziz. Padahal, orang tua Aziz mempunyai ambisi untuk menyekolahkan Aziz di SMK dan menyiapkannya untuk melanjutkan ke universitas penyiaran.

Aziz pun terkulai di atas ranjangnya sembari menatap langit-langit atap kamarnya yang membisu tanpa kata. Pikirannya merandau tak karuan melihat sikap orang tuanya tersebut. Hanya kesunyian dan ketenangan malam yang mampu memahaminya lebih dari sekadar kata paham itu sendiri. Meski demikian, hal tersebut tak menyurutkan niatnya untuk berhenti belajar animasi.

***

Pagi ini, Aziz datang ke sekolah seperti biasanya pukul 06.15. Seperti gaya biasanya, Aziz datang dengan gaya klemar-klemer. Menaiki tangga dengan lunglai seakan tak ada gairah hidup. Ia menapaki satu per satu anak tangga dengan lesu. Namun, ketika ia sampai di ujung tangga. Seketika matanya tertuju pada satu sudut tempat. Sebuah papan pengumuman yang letaknya tepat di depan ujung tangga tempat para guru biasanya menanti kedatangan siswa untuk menegur sapa ketika siswa hendak masuk kelas. Rasa lunglai dan lesu itu seakan pecah ketika pandangannya terarah pada selembar kertas yang menempel di papan tersebut. Segerombolan kata yang tertulis dalam sebuah pengumuman yang berisikan informasi lomba animasi yang diadakan oleh sebuah universitas elite di Surabaya. Melihat itu, gairah hidup Aziz pun seakan mengangkasa. Ia benar-benar bersemangat menyambut pengumuman tersebut. Meski demikian, langkahnya tentu tak mudah karena ia harus melewati tahap seleksi terlebih dahulu.

“Berdasarkan hasil karya kalian, saya memutuskan akan memberangkatkan satu siswa untuk mengikuti lomba ini,” ujar Pak Eko selaku pembina ekstrakurikuler animasi tersebut.

Jantung Aziz pun berdegup dengan cepat mengalahi kecepatan mobil ferrari.

“Yang akan berangkat ....” ucap Pak Eko dengan penuh keyakinan.

Semua siswa peserta ekstrakulikulier pun harap-cemas menanti nama-nama yang akan keluar dari mulut Pak Eko.

“Wahid,” Seru Pak Eko.

Seketika itu pun harapan Aziz rontok. Harapan yang tadinya mengangkasa kini jatuh terjun bebas tanpa arah.

“Wahid ... kamu akan mengikuti lomba Hi-Fest di universitas itu. Untuk Aziz, selamat kamu terpilih dari 25 siswa se-Indonesia yang akan mengikuti Diklat animasi selama seminggu di Bali,” lanjut Pak Eko dengan bangga.

“Kemarin, saya mendaftarkan kalian (Wahid dan Aziz), tetapi yang terpilih kamu, Aziz. Semoga kalian berdua bisa membanggakan sekolah ini,” tutur Pak Eko dengan penuh harapan.

Mereka pun menyambut pengumuman tersebut dengan gempita sembari memeluk Pak Eko dan mengucapkan kata terima kasih atas bimbingan yang telah diberikan selama ini.

Tak ada yang lebih indah bagi Aziz dari kemenangan tersebut. Kemenangan yang mengantarkannya pada sebuah dilematis antara dia harus berbahagia atau justru harus bersedih. Aziz benar-benar terlupa caranya untuk memaknai semua itu. Impiannya memang tercapai, tapi tidak untuk impian orang tuanya. Tak ada yang bisa dilakukan Aziz selain mengatakan bahwa dia telah berhasil mencapai impian orang tuanya, walaupun itu adalah impiannya. Keberhasilan mencapai impian palsu orang tuanya. Ia pun berangkat ke Bali dengan berbekal kebohongan atas kemenangannya di multimedia tersebut.  

***

“Alhamdulillah, Pak Eko, saya mendapatkan banyak ilmu di sana. Terima kasih ya, Pak,” ujar Aziz sembari mencium tangan Pak Eko.

“Iya ... semoga ilmu yang kamu dapatkan bermanfaat ya, Ziz,” balas Pak Eko dengan bangga.

            Setelah mengikuti Diklat animasi selama seminggu di Bali, Aziz pun mendapat tawaran dari production house untuk turut serta dalam pembuatan film animasi. Meskipun, ia hanya dipercaya hanya menggarap satu episode saja, tetapi setidaknya bagi Aziz itu adalah langkah awal yang baik.

***

Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh. Peribahasa tersebut mungkin cukup pas melukiskan nasib Aziz. Kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri meskipun kita berusaha menyesatkannya. Jalan sesat bernama ketidakjujuran. Ketidakjujuran yang membawa Aziz pada sebuah kenyataan. Kenyataan tentang kebenaran menyembunyikan kebenaran.

“Alhamdulillah ... rating acara kartun kita naik terus, Pak Abdul,” puji seorang anggota tim kreatif kepada ayah Aziz tersebut.

“Alhamdulillah ... semua ini berkat kerja keras tim kreatif kita, Pak Teguh,” balas Pak Abdul kepada anak buahnya.

“Saya benar-benar tidak percaya bahwa masyarakat memiliki animo dan tanggapan positif yang kuat terhadap film kartun,” tambah Pak Abdul dengan menyembunyikan keheranannya.

“Kita harus segera meneken kontrak dengan prduction house film kartun tersebut, Pak, sebelum nanti didahului oleh televisi lainnya,” ujar Pak Teguh dengan meyakinkan Pak Abdul.

“Anda benar, Pak. Ini bisa memberi keuntungan besar bagi perusahaan kita,” ungkap Pak Abdul dengan optimisme yang membuncah.

Kontrak kerja sama pun terjalin antara kedua belah pihak, yakni, stasiun televisi TV Oke tersebut dengan Production House of Dreamer Cartoon. Keduanya bersepakat untuk bekerja sama dalam penanyangan kartun produksi dari Dreamer Cartoon tersebut.

“Film kartun yang luar biasa. Saya begitu mengapresiasi tinggi film produksi, Bapak,” seru Pak Abdul kepada perwakilan Production House of Dreamer Cartoon tersebut.

“Saya cukup bangga dengan tim saya yang berhasil membuat kartun ini, Pak. Apalagi tim saya rata-rata masih belia semua. Bahkan, ada pula yang masih berstatus pelajar SMK. Jadi bisa dibilang, mereka memang kreatif karena masih muda-muda,” tutur perwakilan Production House of Dreamer Cartoon tersebut.

Oh ya ... wah ... luar biasa sekali Anda, Pak, dalam menemukan bakat-bakat hebat dan memilih remaja-remaja dan pemuda-pemuda kreatif tersebut. Anda memang luar biasa, Pak,” puji Pak Abdul kepada perwakilan Production House of Dreamer Cartoon tersebut.

        Bagai gayung bersambut, kebenaran pun berbicara. Ketika Pak Abdul menonton kartun tersebut hingga usai, pandangannya pun sempat terpecah dengan sebuah tulisan pada credit title pada film kartun tersebut. Tulisan berejakan sebuah nama. Nama yang akrab dengan ingatannya. Bahkan, ia terasa sangat dekat sekali dengan nama tersebut.

“Abdul Aziz Al-Nahrawi? Sepertinya, nama itu sangat akrab dengan saya. Siapa ya Pak orang tersebut?” pikiran Pak Abdul pun berkalungkan sejuta tanda tanya dan berhujankan penasaran.

“Oh, Aziz. Ia adalah salah satu kreator/pembuat skenario film ini, Pak. Ia adalah anak SMK yang saya ceritakan tadi. Kalau tidak salah, ia sekolah di SMK Muhammadiyah 2 Surabaya,” jawab Pak Teguh dengan bangga.

“Kalau tidak salah, ia tinggal di Margorejo. Ia memang anak yang cerdas dan kreatif. Saya bangga memiliki tim kreatif seperti ia,” tambah Pak Teguh.

        Semua rasa penasaran tersebut pun seakan terjawab dengan jelas dan tegas tanpa meninggalkan keraguan. Kebenaran mencari arti sebuah pembenaran. Kebenaran yang biasa disebut dengan awal dari kesalahan tersebut. Pak Abdul mengakui bahwa ia terlalu setia dengan kesalahannya. Kesalahan atas kesetiaan pada keangkuhan yang beridentitaskan egoisme tersebut. Ia terlalu memaksakan keinginannya. Keinginan yang bukan keinginan anaknya tersebut. Kini, Pak Abdul menyadari satu hal pasti tentang kebenaran bahwa anaknya tersebut telah menunjukkan sebuah kebenaran dan telah membuktikan sebuah perjuangan pembenaran. Kebenaran dan pembenaran yang ia sebut sebagai impiannya. Animasi.

Siapa Aku?

Siapa Aku?

Aku selalu ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Memberikan hal berguna yang bisa ku berikan walau hanya dengan sedikit sesuatu yang ku miliki. Kenyataannya, aku memiliki banyak hal. Aneh, bodoh, introvet, dan semua hal tentang hal berguna bagi orang lain, yakni, objek ejekan. Aku sadar bahwa aku telah memenuhi syarat untuk menjadi seorang pecundang. Terlebih, pecundang sejati yang terlahir untuk dihina orang lain.

Hidup ini laksana sulap. Beratraksi untuk menipu orang lain. Aku selalu menyuguhkan senyuman di setiap mata orang lain memandangku. Membuat mereka tertawa dan terhanyut dalam dimensi kegembiraan jiwa dan hati. Aku cukup berhasil membuat diriku berguna bagi orang lain. Meskipun, semua itu adalah palsu.

Ku habiskan siang dan malam dalam dunia khayalan. Dunia khayalan yang ku sebut impian. Impian yang membuatku terlelap dalam imajinasi. Ternyata, aku tertidur di dunia nyata. Satu hal pasti tentang alasan semua ini adalah Mudah.

Tak mudah bagiku untuk memahaminya lebih dari sekadar manusia yang menganggapku tak pernah ada. Entah, apa yang membuatku merasa bodoh memahami manusia yang ku anggap cukup berarti bagi hidupku ini. Tentang air mata yang tak beralasan, tentang kesedihan yang tak sepantasnya, dan semua hal yang tak jelas yang tak dapat ku jelaskan. Semuanya terasa begitu sulit bagiku untuk memaknai semua ini.

Semasa berkuliah dulu, aku pernah memimpikannya. Tetapi, setelah sepuluh tahun, takkan ada lagi yang ingat dengan orang lugu yang selalu duduk di belakangnya sembari berkhayal tertawa bersama dengan paras punggungnya. Aku cukup dikenal gila oleh teman-temanku. Terlebih, untuk ukuran orang normal yang kebanyakan berkhayal.

Aku selalu bermimpi untuk menjadi seorang pahlawan. Seorang pahlawan yang gagah berani melawan bahaya demi melindungi dan menyelamatkan orang lain. Terlebih, melindungi dan menyelamatkan orang yang ku sayangi. Akhirnya, aku benar-benar ingin menjadi pahlawan baginya. Ia mempunyai masalah mengenai data skripsinya dan aku bisa mengatasinya. Aku hanya perlu mendapatkan izin dan mendapatkan data untuk skripsinya. Aku yakin dia akan mengingatku. Kita akan saling jatuh cinta, menjalani hidup ini berdua, dan hidup bahagia bersama.

Data itu hanya bisa ku peroleh jika aku berhasil mendapatkan izin untuk melakukan wawancara. Yang ku butuhkan adalah surat izin dari kampus. Benar saja, terlalu mudah bagiku untuk mendapatkannya. Surat izin dari kampus pun ku peroleh dan data skripsi itu pun telah ku genggam pula. Kini, aku pahlawan baginya.

Ku kirim pesan kepadanya lewat Whatsapp. Berharap untuk bertemu dan aku memberikan kejutan untuknya. Kita pun bertemu di tempat ia tinggal; asrama. Ku tatap matanya lekat-lekat penuh kekaguman. Keindahan paras yang menjadi alasanku melakukan semuanya. Ku sodorkan sebuah surat dan sebuah flashdisk sembari mengumbar senyum bangga kepadanya. Aku berharap, ia terkejut dengan apa yang ku lakukan. Ternyata benar, ia pun terkejut dengan apa yang ku lakukan. Bahkan, sangat terkejut. Ia pun menatap mataku lekat-lekat. Menumpahkan emosinya kepadaku. Ia marah karena aku terlalu ikut campur dalam urusannya. Bahkan, ia pun menganggapku bukan siapa-siapa baginya. Aku pun benar-benar terkejut. Aku memang bodoh. Seharusnya, aku tahu, siapa aku?

Harapan itu hancur. Khayalanlah yang telah menghancurkan harapan itu. Tragedi itu seakan menyindirku tentang apa yang seharusnya ku lakukan untuk sesuatu yang berarti bagi hidupku sendiri. Andai aku tahu bagaimana segalanya akan terjadi maka akan ku lakukan semuanya dengan cara yang berbeda.

*** 

Dunia ini seakan menganggapku tak pernah ada. Tetapi, semuanya berubah dengan sekejap. Masalah ini dan itu yang tadinya menjadi pesonaku, kini semuanya seakan pergi berlalu meninggalkanku. Cerita masa depan pun kini telah ku tulis. Aku belajar banyak hal tentang apa itu kenangan, apa itu kenyataan, dan apa itu harapan. Aku kini telah menemukan sebuah tujuan. Tujuan yang meyakinkanku mengenai satu hal: semakin banyak aku berkhayal, semakin banyak yang bisa ku capai.

Aku mengubah semuanya. Khayalan semu yang dulunya ku agungkan, kini semuanya tak ayal hanyalah kenangan yang tanpa tujuan. Aku telah membuang jauh fantasiku. Fantasi semu yang menjerumuskanku. Aku melihat teka-teki masa depan. Aku pun memecahkannya. Kini, semua orang telah mengenalku. Mereka pun memanggilku, Pak Dosen.

Skripsi, tesis, dan desertasi, semuanya telah ku taklukkan. Puluhan buku dan jurnal seakan jadi bukti nyata tentang keberhasilanku melewati masa lalu. Masa lalu yang ku sebut kebodohan. Aku memang bodoh kala itu. Kini, ia tahu, siapa aku?

Dia adalah mahasiswaku. Mahasiswa pascasarjana. Entah, ketika ia tahu aku adalah dosennya, ia seakan cukup mengenalku. Terlebih, untuk orang yang menganggapku bukan siapa-siapa baginya. Ia pernah mengajariku tentang apa itu kenangan. Kini, di kenyataan ini, aku mengajarinya tentang apa itu harapan. Harapan mengubah dunia untuk menulis masa depan.

***

Meski aku kini telah hidup diimpian yang ku tuju ini, sampai  saat ini, aku masih terus bermimpi untuk menjadi lebih dari sekadar seorang pahlawan. Seorang pahlawan yang berusaha melindungi dan menyelamatkan orang lain. Terlebih, melindungi dan menyelamatkan orang yang ku sayangi. Akhirnya, aku benar-benar akan menjadi pahlawan baginya. Mungkin, ia kini berhadapan dengan masalah. Masalah mengenai kenyataan yang menyuratkan bahwa ia menjadi mahasiswa bimbinganku. Aku adalah dosen pembimbing tesisnya.

Entah apa yang harus ku lakukan. Sepuluh tahun yang lalu, aku gagal menjadi pahlawan baginya, tetapi hari ini, mungkin ia akan menganggapku sebagai pahlawan sejati yang menyelamatkan hidupnya. Aku yakin dia akan mengingatku.

Ku kirim pesan kepadanya lewat Whatsapp. Berharap untuk bertemu dan aku memberikan kejutan untuknya. Kita pun bertemu di sebuah cafe. Ku tatap matanya lekat-lekat penuh kekaguman. Keindahan paras yang menjadi alasanku melakukan semuanya. Tak ada yang berubah. Meski sepuluh tahun telah berlalu, aku masih mengaguminya.

Ku sodorkan sebuah surat dan sebuah flashdisk sembari mengumbar senyum kepadanya. Aku berharap, ia terkejut dengan apa yang ku lakukan. Ternyata benar, ia pun terkejut dengan apa yang ku lakukan. Bahkan, sangat terkejut. Ia terkejut karena aku telah mengerjakan tesisnya dan aku pun telah menandatangani surat persetujuan untuk sidang tesisnya. Mungkin, ia cukup bingung untuk memahami semua ini, tetapi aku cukup paham dengan apa yang ku pahami mengenai dirinya. Kini, ia telah tahu, siapa aku?