Monolog Cinta

Semua berawal dari pengandaian. Tentang dialog jiwa, antara aku dan kenyataan ini. Akan butuh waktu lebih dari sekadar kata melelahkan dan membingungkan untuk menjawabnya. Bahkan penyair pun mungkin hanya bisa menerka-nerka tanpa tahu kebenarannya.

Malam itu langit bertabur tanda tanya, tentang ini dan itu. Hari esok yang harus kupikirkan. Butuh waktu satu semester bagiku untuk belajar tentang puisi. Butuh waktu lebih lama untukku bisa menulis indahnya puisi. Tapi sayang, ketika aku sanggup menulisnya, aku tersadar bahwa aku hanya menulis segerombolan kata-kata indah tanpa memahami artinya.

“Mengapa harus puisi?” batinku.

Siapa lagi yang bisa menjawabnya kalau bukan diri ini. Banyak persepsi saling adu argumen untuk memahami makna puisi. Hakikat puisi.

“Siapa yang benar?” gumamku.

Tanyakan pada orang yang jatuh cinta, tanyakan pada orang yang menangis, tanyakan pada orang yang kritis, tanyakan pada orang yang patriotis, tanyakan pada orang yang religius, tanyakan pula pada orang-orang lainnya. Jawabannya cuma satu, aku pun juga tidak tahu.

Malam itu langit bertabur tanda tanya, tentang ini dan itu. Hari esok yang harus kupikirkan. Butuh waktu satu semester bagiku untuk belajar tentangnya. Dia. Butuh waktu lebih lama untukku memahaminya. Tapi sayang, ketika aku mengenalnya, aku melupakannya kalau aku belum memahaminya.

“Siapa dia?” gumam hatiku.

Ku tanyakan pada pikir ini, hati ini, jiwa ini, rintihan ini, kesedihan ini, dan ini-itu lainnya. Jawabannya cuma satu, cukup aku yang tahu.

Lebih dari inspirasi, motivasi, dan apapun itu. Dia. Yang telah membangunkanku dari kelamnya malam, yang telah membangkitkanku dari kuburan senyuman, dan yang telah mangantarkanku pada sebuah kisah. Cinta.

Entah ini sebuah prolog atau epilog tentang kisah ini ditulis. Di sini … aku masih berdiri sendiri sembari memikirkan skenario yang akan ku mainkan. Menantikan sang sutradara memberikan aba-aba untukku memulainya. Ternyata ... aku hanya sebagai monolog yang berkisah dari sudut pandang orang ketiga.

Harap-cemas peran ini ku nantikan untuk berakhir, karena aku terlalu lelah untuk semua ini. Ketidakadilan yang harus ku pahami artinya lebih dari sekadar kata adil untuk orang lain. Ia ibarat angin yang terkadang menyejukkanku dengan gemulai tariannya, namun terkadang pula ia bertiup cukup kencang hingga buatku terkapar jatuh dalam ketidakberdayaan. Entahlah … aku tak tahu pasti apa yang akan terjadi, tapi sang penyair tahu pasti tentang apa yang akan terjadi.

Selalu kutanamkan cinta ini dalam waktuku. Aku tak ingin rasa ini sirna begitu saja terhempas kesunyian, karena bagiku ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ini sebagai antiklimaks pertanda kisah ini akan berakhir, walaupun sebenarnya waktu ini hampir habis terkikis deru air mata.

Seuntai kata darinya cukup untuk menghangatkan jiwa ini dan menyenyakkan tidurku. Tersirat maupun tersurat. Terkadang aku lupa caranya tersenyum, namun dia mengajarkanku tentang cara tersenyum lewat senyumannya, meski terkadang pula seuntai kata darinya mampu menenggelamkanku dalam kepekatan. Kepekatan malam yang dengan paksanya mengusir pagiku dengan kesedihan. Karena aku memang tak tahu, apakah aku harus bersedih atau tersenyum?.

Kalau sudah begini, aku hanya bisa bergegas melapor kepada “Sang Penyair”, tentang perjalanan ini dititiskan kepadaku. Aku selalu berharap, berharap, dan berharap sang penyair merevisi skenarionya. Memberiku kesempatan untuk memainkan skenarionya bersamanya, namun bukan sebagai cerita melainkan realita.

Bukan tentang apa kisah ini ditulis, tapi untuk apa kisah ini tertulis.

“Percayakah?” renungku.

Akan butuh perjudian hati untuk menjawabnya. Percaya atau tidak percaya adalah jawaban yang objektif untuk menyikapinya. Mungkin terlalu muda bagiku untuk mengatakan “mudah”. Padahal aku hanya berharap,”mudah-mudahan semuanya mudah”.

Bukan pelarian, tapi aku hanya ingin berlari.

“Salahkah?” renungku.

Mungkin aku tidak tahu jawabannya, tapi sesungguhnya hanya ada satu alasan tepat untuk menjawab semua ini. Semua tentang kita. Semua tentang kita yang hanya sekadar cerita. Cerita cinta yang ku pasrahkan pada waktu untuk mengungkapnya. Dan dia memang benar, ”berlari sendirian itu melelahkan”. Mungkin inilah sebuah kebenaran yang paling benar.

Aku selalu mengingatnya, kata-kata yang menuntunku pada semua ini. Apa adanya. Bukan apa-apa atau pun ada-ada saja, tapi tentang kisah ini berawal ku tulis dan tertulis.

Andai semua ini bukan pengandaian. Takkan ada hari ini yang akan ku anggap sebuah kenangan, karena aku akan selalu bilang, “inilah kenyataan”. Dan semuanya akan terangkai dan terbingkai dengan manis dalam alurnya.

Mencintai cinta membutuhkan keyakinan untuk memulainya, karena ketika cinta telah mencintai cinta jangan pernah untuk mengali atau membaginya, seperti angka yang selau bimbang dengan akhirnya. Bahkan tukang foto pun seakan dibodohi dengan fiksi dengan menganggapnya kalau ini adalah sebuah kenyataan. Kenyataan tentang 3x4 = 700, 4x6 = 1000, dan kenyataan-kenyataan lainnya yang tak pernah ku terpikirkan kebenarannya. Entahlah, sulit tuk ku mengerti semua ini.

“Dan lagi, siapa yang salah?” bimbangku.

Dan aku hanya bisa menyalahkan keadaan yang sesungguhnya tak tahu apa-apa tentang sesuatu yang telah terjadi. Tentang kenyataan yang harusnya aku tahu bahwa inilah kebenaran. Kebenaran sejati yang tak pernah mengada-ada.

“Lalu apa yang harus ku lakukan selanjutnya?” tanyaku kembali pada hati yang bimbang.

Aku tahu atau aku hanya sok tahu. Mungkin ini cuma sebuah teoretis di atas karya tulis, atau filosofis? fanatis? pragmatis? atau realistis? tanyakan pada is …, is … lainnya. 

Walau aku tak pernah tahu apa yang dia mau. Yang ku tahu hanyalah, “Terkadang orang terlalu angkuh untuk mengakui cinta. Padahal yang harus disiapkan ketika kita jatuh cinta hanyalah satu. Menyiapkan hati untuk terluka”, mungkin dia tahu.

5 komentar