Pernah

 

Pernah. Sebuah kata biasa dengan kekuatan yang luar biasa. Tentang kata yang mengandung makna dan pengalaman yang tak terhitung jumlahnya. Ada begitu banyak cerita, realita, fakta, hingga cinta dan lainnya yang terkandung di balik kata tersebut.

“Apakah kamu pernah berdagang sebelumnya, Ris?” tanya Ayah kepada anaknya.

“Belum, Ayah. Kini, aku mengerti kalau tak seharusnya aku tak menghiraukan nasihat, Ayah,” jawab Aris dengan menyesal.

“Aris ... Ayahmu mengenal persis gagal dalam berdagang, saat kamu belum mengenal sukses dalam berbisnis,” seru Ayah dengan memotivasi Aris.

“Apa yang harus aku lakukan, Ayah?” tanya Aris dengan penuh harap.

Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Kata 'pernah', Aris. Itulah kunci untuk menjawab pertanyaanmu.”

“Apa yang ayah maksud dengan 'pernah', Ayah?” tanya Aris bingung.

“Pernah adalah sebuah kata yang mengingatkan kita tentang keterbatasan dan keunikan pengalaman hidup. Kegagalan yang kamu alami adalah bagian dari perjalananmu menuju kesuksesan. Setiap orang pernah mengalami kegagalan, tapi yang membedakan adalah bagaimana mereka merespons dan belajar darinya,” jelas Ayah seraya menyeruput kopinya.

“Kamu boleh berbangga pernah berkuliah di kampus ternama dan lulus dengan gelar sarjana dengan predikat terbaik atau apa saja sebutannya, tapi yakinlah bahwa menurut ayah, sesungguhnya kamu masih belum menyelesaikan belajarmu sebelum kamu memahami makna kata 'pernah',” lanjut ayah seraya tersenyum tipis.

Aris mulai memahami makna kata 'pernah' yang diceritakan oleh sang ayah. Ia menyadari bahwa seharusnya ia belajar tentang mengalami suatu hal, sebelum menjadikannya menjadi kata bermakna luar biasa bernama 'pernah'. Kata yang dapat dipahami maknanya hanya lewat proses mengalami. Bukan hanya proses mengalami pada diri sendiri, tetapi bisa juga proses mengalami orang lain yang dijadikan sebagai pemahaman pengalaman pribadi. Benar kata ayah bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi akhirnya segalanya seharusnya kita belajar dari kegagalan.

“Ingatlah selalu, Anakku, bahwa pernah adalah aksi dari sebuah 'akan' dan reaksi dari sebuah 'sedang'. Jadi, belajarlah dari kata pernah yang hanya dapat kamu pahami maknanya hanya dengan mengalaminya sendiri,” tukas Ayah seraya menepuk pundak putra sulungnya tersebut.