Malam selalu mencoba menghadirkan ketakutan akan bayang
berimajinasi. Begitu pun malam ini. Langit malam ini
seakan mengusir lelapku segera beranjak
memejamkan mata. Malam ini rasa jenuh benar-benar menyanderaku. Ketika semua orang terlelap dalam gelap,
justru aku harus bertarung dengan pikirku. Pengap dan pekat seakan menghujaniku ketika aku
terlentang lesu dan terlamun sembari melongo menatapi plavon-plavon yang
terbisu dalam kesunyian malam di pertapaan aku mengukir mimpi. Kipas angin di
ruangan ini bahkan mengeluh ketaksanggupannya mengusir keadikuasaan pengap dan
pekat yang menghujani tubuh ini. Ditambah
lagi dengan TV, HP, radio, yang seakan
terlihat bodoh dan tidak tahu caranya untuk
bisa menghiburku. Mereka benar-benar membosankan untuk sebuah status
sebagai sang penghibur. Padahal, aku berharap
merekalah penghiburku, pengusir rasa jenuhku. Namun kenyataannya, mereka gagal
untuk membuktikan dirinya sebagai sang penghibur sejati. Aura malam ini pun semakin memantapkan temaku dengan
bayang malam yang syarat akan rasa jenuh.
Menjemukan. Entah apa yang harus ku lakukan malam ini.
Riuh keramaian sekejap mengangkat letihku dari sunyinya
malam ini. Aku coba menghampiri keramaian itu lewat sebuah pintu. Sebuah pintu
yang mengantarkanku pada dunia luar ketika aku membukanya. Aku pun keluar. Sontak jiwa ini terperangah ketika aku
menyapa keramaian itu. Keramaian alam yang dengan gembiranya merayakan pesta
dan menggusur sunyinya malam dan momok akan kesan halusinasi. Begitu ramai dan
begitu damai.
Munuver angin yang dengan lincahnya menerobos bulu-bulu
kulitku seakan mengusir pengap dan pekat yang tadinya menghujaniku di
pertapaanku. Belum lagi, iring-iring siulan angin pula yang turut mengiringi
pepohanan untuk ikut menari meramaikan malam. Kerlap-kerlip bintang pun turut
hadir pula menghiasi pesta ini dengan keanggunan kilaunya. Bertambah lengkap
dengan kehadiran bulan yang mampu mengisi kegelapan malam ini menjadi lebih
hidup dengan pelitanya. Sungguh, aku tak ingin
mengakhiri malam ini dengan cepat. Tapi, masih ada yang
kurang dengan malam ini. Jika sebuah pesta telah lengkap dengan
pernak-perniknya … namun tiada makanan sebagai sesajian, rasanya mungkin jenuh
itu akan mengusikku kembali. Bukan lagi tentang pikirku, tapi tentang perutku. Tapi … di mana para pelayan? Mengapa mereka tak kunjung menyajikan hidangan? Sontak mata ini berkeliling
menatapi luasnya hamparan langit malam sembari menoleh ke tiap sudut mata ini
memandang tuk mencari para pelayan. Dan … para pelayan pun dengan gerobaknya
akhirnya datang juga menawarkan hidangannya. Ada tahu tek, tahu campur, sate,
dan nasi goreng yang saling berlomba berebut
perhatianku untuk menyajikan hidangannya. Aku pun menjatuhkan hati pada nasi goreng sebagai
santapanku. Selain aku menyukai kuliner
tersebut, aku juga membutuhkan
asupan yang lebih untuk bisa menikmati malam ini agar rasa jenuh dan lesu itu tak
cepat menjemputku pulang. Aku benar-benar menikmati malam ini. Malam tentang merasakan perbedaan dengan malam-malam lainnya yang
indah dengan keramaian alam dan tak ada rasa jenuh yang menggangguku. Bahkan, pikir ini seakan tak kenal lagi dengan yang namanya sumpek yang biasanya menyelimuti pikirku
lewat suatu malam. Malam indah itu
adalah malam ini.
Malam ini
benar-benar mengajarkanku tentang arti kata
ketenangan, kebebasan, dan semua tentang
hal indah yang tak pernah ku pahami sebelumnya hanya lewat satu malam saja. Itu adalah malam ini. Sekapan pikir yang tadinya selalu
mengekang bagaimana seharusnya aku berpikir untuk suatu hal yang positif, seakan kini telah membebaskanku dari pekiknya penjara
kehidupan yang penuh tuntutan untuk menyidang setiap permasalahan yang ada.
Angin, pepohonan, bintang, bulan, dan nasi goreng adalah teman yang mampu
mengubah duniaku lewat satu malam saja. Satu malam tentang berdiri menikmati keramaian di tengah kesunyian malam. Mereka
benar-benar tahu caranya bagaimana menghiburku dan bagaimana seharusnya aku
menghibur diriku sendiri. Ya, malam ini adalah
suatu malam mengenai aku menemukan langkah
pikirku tentang perihal filosofi malam pada suatu malam yang berbeda dari malam-malam lainnya. Bagiku, momen ini sudah
lebih dari cukup untuk mengatakan,
”Aku bahagia dengan narasiku ini.”
