Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tasawuf Wanita

Tasawuf Wanita

 


Di samudra pikiran, sebuah kisah terabadikan

Tentang seorang lelaki berbekalkan segudang pengetahuan

Sains, sosial, humaniora, hingga agama, semuanya telah ditaklukkan

Tapi, satu misteri tetap menghantuinya

 

Dalam pelukan senja, dia merajut lamunan dengan gundah

Mengurai fakta, data, dan kenyataan

Namun, dalam belantara hati seorang wanita

Tak ayal terombang-ambing dalam kebimbangan

Dia seakan memahami semua hal tentang semesta

Namun, dalam benaknya, kebingungan selalu akrab menemaninya

Mengapa ia berduka, marah, atau bahagia?

Semuanya laksana sebuah teka-teki tanpa kunci jawaban

 

Mungkin, inilah yang namanya pesona yang tak terucap

Rahasia yang tersemat dalam raut wajah

Atau mungkin itu adalah irama kehidupannya

Yang hanya bisa dipahami lewat tasawuf wanita

 

Dia belajar bahwa wanita adalah puisi yang hidup

Dengan rasa yang dalam, tak terjemahkan dalam kata

Dan meski misteri itu tetap, dia belajar untuk merangkul

Memahami dalam ketidakmengertian lewat cinta yang abadi

Jadi, biarkanlah dia bermain dengan dunia dan alam semesta

Permainan bertajuk keajaiban seorang wanita

Yang mengajarinya bahwa di balik semua pengetahuan itu

Ada keindahan dalam ketidaktahuan yang merayakan cinta

Sambat Rakyat

Sambat Rakyat

 

Di negeri berdaulat ini, politikus bersiasat

Hasrat meluap layaknya gelombang lautan yang dahsyat

 

Dengan kiat senyum termanis, janji-janji manis dimaklumat

Namun di balik jerat itu, kepentingan rakyat dilibat

Mereka menari dengan semangat di atas panggung penuh akrobat

Menipu dan memanipulasi rakyat berdalihkan amanat

Janji-janji palsu nan khianat terucap penuh syahwat

Sedangkan, harkat keadilan tergusur oleh siasat

 

Rakyat menjadi korban dalam sandiwara politik maksiat

Amanat kesejahteraan terpinggirkan oleh ketamakan para pejabat

Dalam nikmat kekuasaan, etika mati menjadi mayat

Seolah-olah daulat negara ini hanya panggung bagi para pengerat

Para pendukung penjilat melibas kritik dengan hasrat

Seolah-olah tak melihat KKN yang menggeliat

Pemimpin yang tergiur lezat kekuasaan dan melupakan rakyatnya dengan siasat

Seakan-akan pangkat adalah haknya dan tak peduli dengan derita rakyat

 

Namun, satire wasiat ini adalah cermin bagi kita pemilik negara yang berdaulat

Agar tak teperdaya jerat oleh pesona politikus yang sesat

Kita adalah rakyat yang hanya mampu bersambat

Berharap mereka bertobat dan kembalinya negara yang bermartabat

Di bawah mandat pemimpin yang taat dan amanat

Agar kepentingan rakyat tetap menjadi fokus maslahat

Monolog Hujan

Monolog Hujan

 


Rintik menyapa dengan istiqamah menyejukkan buana

Bertamu menjawab harapan dalam panas penantian

Mengusir tandus dengan desau merdu gerimis

Dalam episode kemarau yang tak berujung

 

Kedatanganmu bak masa berbuka di kala puasa

Mengeliminasi elegi yang telah lama mengudeta

Bukankah kesabaran adalah kuncinya?

Masih ingatkah kau dengan kejamnya kemarau:

Yang memimpin musim dengan tirani dahaga,

Yang menelantarkan kedamaian serdadu hijau dengan serbuan kerontang 

Yang menggusur ketentraman ragawi dengan guyuran peluh,

Dan semua tentang sambatan yang kau serukan pada Sang Kuasa

 

Sekarang, aku telah datang memupuskan ratapanmu

Lantas, masihkah kau meragukan keadilan-Nya?

Aku masih menunggu jawabanmu dalam monolog hujan ini

Hanya Untaian Kata

Hanya Untaian Kata


1, 2, 3, 4, 5, …, 999, 1000, ….

Mungkin …, ini cuma angka

bahkan tak lebih dari sekadar numeralia atau pun matematika

Aku hanya berlogika

Aku masih berdiri sendiri

Di sabana beralaskan rerimbun duri

sembari melongo menghitung jemari

Berkhayal tentang alegori

dan mengintip langit penuh iri

yang indah tiada ciri

 

Tergilas deru sengkayan,

Terkuburnya senyuman,

Hilangnya sebuah pemahaman,

ketika nestapa nyanyikan lagu kenangan

Menyindir angan dalam kenyataan

dan yang tersisa hanya lamunan

yang hilang tanpa harapan

 

Aku hanya jelata

bahkan tak mengerti tentang eksakta

yang menantikan keakraban sebuah realita

di tengah elegi yang mengudeta

Sungguh … ini hanya cerita

karena sesungguhnya aku hanya ingin berkata ….

“Mungkin bagimu … ini hanya untaian kata semata”

Hanya Doa

Hanya Doa

 


Kukenali sosok itu lewat sebuah mimpi

Berparaskan punggung tak berjati diri

Melambaikan harapan semu petanda kasih

 

Kutunaikan panggilan penasaranku lewat rakaat

Bersimbahkan wudhu beriringan niat

Menapaki langkah penasaran berasaskan hasrat

Berharap jawaban lewat petunjuk makrifat

 

Kucoba mengenali punggung itu lewat sebuah tekuran

Tekuran qanaah bernafaskan tasbih, tahmid, dan takbir

Meniti harapan dan tujuan

Sebuah jawaban

Lewat sebuah mimpi anugerah sang Illahi

 

Kusirami harapan dan tujuan itu dengan air mata penantian

Berharap tumbuh dan kembang mengundang kehadiran cinta

Sebuah jawaban atas kesabaran perjalanan kehidupan


Hanya doa yang mampu kulakukan untuk memenangkan mimpiku

Mimpi tentang dirimu berwajahkan punggung belaka

Semoga aku adalah apa yang kamu doakan pula dan biarkan Allah yang mengabulkan

Mencintaimu dalam doa adalah caraku bersyukur kepada-Nya

Himne Romantika

Himne Romantika


Termangu dalam khayalan

Hasrat merandau dalam bimbang tak berasas                         

Memanggil elegi dengan paksa

Bersambatkan kesesatan harapan yang tak bertuan

 

Prolog balada mulai tereja

Berskenariokan romantika kita bertiga

Berlakonkan dialog mesra protagonis dan tritagonis

Lewat lakonisme pada syahdu sebuah himne

 

Kumainkan protagonisku sebagai kramagung bukti cintaku

Dalam agungan swanama dalam syair ode

Kuadukan rindu rupamu pada sebuah tekuran

Pada munajat di kala sang malam terlelap

 

Kini, kunantikan keputusanmu pada sabda mimpiku

Dalam aksara angan yang terkirim lewat bangunku

Berharap gugur sudah bayang skeptisme ini

Bersemikan harapan bermekarkan indah sebuah kenyataan